Thursday, September 11, 2014

Pemilihan Tidak Langsung

Di China tidak ada PEMILU.Partai hanya satu. Dimanapun orang berada kiblat hanya satu yaitu Komunis. Kemananpun wajah dihadapkan maka yang nampak hanyalah Partai. Apakah china tidak menerapkan Demokrasi? satu saat teman saya di China pernah bilang bahwa dia ditunjuk sebagai anggota Kongres Rakyat semacam Dewan Kota, yang bertugas membuat UU dan Peraturan Kota. Penugasan ini bukan karena dia anggota Partai Komunis , bukan pula karena ia pejabat Pemerintah kota tapi karena kedudukannya sebagai ketua salah satu Asosiasi bisnis tingkat kota,yang otomatis melegitimasinya menjadi  anggota Kongres Rakyat (KR). Anggota KR ini memang terdiri dari para pemimpin komunitas /asosiasi tingkat kota, seperti komunitas Pengusaha Angkutan,Jasa kontruksi, Pedagang , Petani , Guru dll , tapi tetap menyisakan sepertiga anggota itu berasal dari kader Partai Komunis dan militer sebagai penyeimbang. Mereka bermusyawarah untuk menetapkan berbagai kebijakan tingkat kota tanpa ada istilah voting. Anggota KR yang bukan PNS dan Militer tidak digaji oleh Pemerintah tapi mereka dibayar oleh anggota komunitasnya, Makanya untuk menjadi ketua komunitas tidaklah mudah. Ia harus orang terpilih dan teruji dedikasinya untuk pengembangan komunitas. Tidak ada satupun pihak yang bisa mengtintervensi terpilihnya seseorang menjadi ketua komunitas kecuali anggotanya sendiri. Ketika ia terpilih ia hanya akan berjuang dan berkerja demi komunitasnya.

Kekuasaan tertinggi di China adalah Kongres Rakyat Nasional (KRN) yang merupakan lembaga legislative. KRN tingkat nasional terdiri dari 34 delegasi yang mewakili  KR tingkat: propinsi, wilayah administrasi khusus, kota khusus, daerah otonomi yang semuanya sekitar 3.000 anggota. Masing-masing delegasi tersebut mempunyai ketua, wakil ketua, dan anggota. Para anggota delegasi itu dipilih dari proses berjenjang dari lurah, camat, kabupaten dan propinsi. Mereka adalah elite terbaik China yang merupakan ketua dari komunitas rakyat. Untuk menjadi anggota delegasi tidaklah mudah. Mereka harus bersaing dengan calon lain. Mereka harus punya kualitas-kualitas tinggi dari segi moral dan karakter. Kualitas-kualitas, seperti visionary, empowering, authentic, resonant, heroic, transformation, dan lain lain. Hal itu adalah hasil tempaan yang lama dan penuh jerih payah melalui keterlibatan penuh pengabdian di dalam komunitasnya. Proses ini bukan sebentar , puluhan tahun bertekun, kadang harus bergerak melawan arus, dan tak jarang berkorban untuk para pengikut. Dari proses inilah lahir nature kepemimpinan  dengan  ide-ide dan perbuatan-perbuatan besar dan cinta besar yang membawa perubahan. Sehingga ia nampak berkilau ditengah komunitasnya sehingga menjadi harapan bagi banyak orang. Semua proses itu dikawal ketat oleh Para kader Partai Komunis yang ada disemua level, agar hanya anggota KR yang terbaik saja yang bisa berangkat ke Beijing sebagai anggota KRN untuk memilih Presiden dan Para Pemimpin Nasional dibidang Militer,Hakim, Dll serta menetapkan UU dan UUD.

Mengapa Komunis di China bisa solid sementara di Negara lain seperti Uni Soviet justru bankrupt. Bagi China, teori revolusi Marx hanyalah sebagai metode bukan sebagai dogma. Oleh karena itu, Marxisme bagi china dipahami dalam kerangka teoritis dan penerapannya amat tergantung pada budaya china. China tetaplah China yang membumikan budaya dan agama dalam mengelola komunitasnya. Ketika Indonesia merdeka, para pendiri negara sepakat bahwa idiologi Indonesia bukan sosialis, bukan komunis , bukan kapitalis juga bukan agamais. Indonesia tidak berkiblat keluar tapi melihat kedalam, kepada budaya dan agama sebagai platform idiologi. Mengapa ? Yang harus dipahami bahwa benar Indonesia exist setelah adanya Proklamasi Kemerdekaan. Namun “negara negara” di Nusantara ini sudah ada sebelum Indonesia terbentuk. Jadi beda dengan AS yang bangsanya barus exist setelah declarasi kemerdekaan AS.. Bangsa Indonesia itu terdiri dari berbagai kerajaan yang didominasi kerajaan Islam, diakui legitimasinya oleh negara didunia ketika itu. Proklamasi hanya mengumumkan Kemerdekaan bangsa Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Makanya lahirlah Pancasila sebagai idiologi negara Indonesia. Mengapa Pancasila? Fakta sejarah bahwa Pancasila itu di create awalnya oleh tokoh Intetektual Islam dan Ulama yang berhasil membentuk falsafah negara sebagai dasar idiologi yang dikenal dengan Piagam Jakarta. 

Perubahan sila pertama menghilangkan kalimat syariat islam bagi pemeluknya tidak menghilangkan ruh Pancasila sebagai puncak itjihad ulama untuk membangun peradaban yang dirahmati Allah. Sila Pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Ashadu anlla ilaha illa Allah. Sila kedua adalah kemanusian yang adil dan beradab. Waashadu anna Muhammadarrasulullah.Sila Pertama dan kedua ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan sebagaimana syahadat itu sendiri. Jadi menjadi kewajiban negara untuk mentauhidkan manusia Indonesia Qul huwAlllahu Ahad (surat Al-Ikhlas). Jika syahadatnya hanya kepada Allah saja, maka jadilah ia golongan yang lain contohnya iblis. Sedang kita, ummat Islam, untuk syahadat kita tentang Allah harus melalui baina-baina (perantara) yang berpangkal kepada Rasul saw. Sedang ummat lain, masing2 mengklaim punya baina sendiri. Sila Ketiga , Persatuan Indonesia Qul ’audzu birabbil falak. Untuk mewujudkan persatuan, maka prasarat utama dan pertama adalah menghilangkan sikap iri, hasad, hasud, dengki dan dendam. Tapi untuk itu tidaklah cukup untuk mengukuhkan kelanggengan persatuan dari berbagai macam budaya yang sangat rentan akan rasa-rasa was-was terhadap kepentingan masing-masing. Untuk itu permohonan perlindungan seperti yang tersirat  dalam Al-Qur’an sebagaimana yang tersebut dalam surat An-Naas sangat penting, sehingga Bhinneka Tunggal Ika bisa terjaga. Jadi kalau bisa dianalogikan antara wadah dan isi, maka yang menjadi wadah Sila ketiga, sedang isinya adalah sila pertama dan kedua.Timbul pertanyaan mana yang dulu antara wadah atau  isi.?

Jika Wadah dan Isi sudah ada, selanjutnya mau apa.? Berdasarkan misi kerasullan Rasulullah, sesungguhnya Baginda Rasul saw di utus Allah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi dengan cara bagaimana ? Apa petunjuk dan pedomannya, ilmunya? Kerakyatan yang dipimpinan oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Kalau dicari asa-usul kata ”hikmat” maka kata-kata tersebut berasal dari bahasa Arab ”hikam, hakim”. Dan kalau boleh disimpulkan, maka hikam di sini adalah Al-Qur’an yang merupakan pedoman. Sehingga jika pedoman ini dipegang teguh, maka kita menunggu qada dan qadarnya Allah yang akan berlaku. Jika Allah berkehendak Allah akan mengajari manusia (bukan hanya Rasul) ma lam ya’lam (surat Al-Alaq 3,4,5). Jadi manusia-manusia pilihan inilah yang seharusnya kita jadikan Petunjuk. Mereka bergabung dalam MPR atau Majelis Syuro. Merekalah yang akan memilih pemimpin atau membaiat Presiden/khalifah terpilih. Mereka tidak banyak. Mereka adalah elite yang kehadirannya bagaikan cahaya yang siapapun orang beriman dan bertaqwa pasti bisa mengenalnya dan merapat kepadanya.  Mengapa ? karena sudah sunattullah bahwa setiap orang beriman harus mencari baina (perantara) untuk mengukuhkannya, sehingga ia sampai pada pemahaman apa itu arti Alif Lam Mim. Dza likal kitabula roiba fihi hudallilmuttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghoib (surat Al-Baqarrah 1,2,3).Bahwa benar manusia tersebutlah petunjuk yang bijaksana (fathanah) yang akan menuntun ke jalan shiratal mustaqim. Shiratal ladzina an’am ta alaihim (al-fatiha).

Pemilihan Pemimpin dengan cara langsung melalui Pemilu bukanlah idiologi Pancasila. Pemilihan pemimpin dengan cara tidak langsung melalui DPR/D , MPR namun anggotanya dipilih melalui Pemilu langsung juga bukan Pancasila. Yang benar menurut Pancasila dan sejalan dengan agama adalah pemilihan tidak langsung yang anggotanya merupakan sekumpulan baina yang bersandar kepada Al Quran sebagai sumber hikmat dan lahirnya kebijaksanaan untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan. Seharusnya elite Partai Islam yang mengusung idiologi Islam sebagai asas partainya memahami ini. Jangan hanya mengikuti kemana angin kencang bertiup alias pragmatis alias petualang. Berjuang haruslah dengan dasar idiologi agar kita menjadi bagian dari perubahan untuk rahmatanlilalamin...

1 comment:

Unknown said...

Yang benar menurut Pancasila dan sejalan dengan agama adalah pemilihan tidak langsung yang anggotanya merupakan sekumpulan baina yang bersandar kepada Al Quran sebagai sumber hikmat dan lahirnya kebijaksanaan untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan.... setuju Bang.... tapi ini kok rasanya terlalu diawang2...maaf kalau sedikit pesimis....

Bukan mental Pemenang.

  Tadi diskusi dengan teman aktifis Islam lewat telp. “ Islam sebagai kekuatan dikalahkan oleh kekuatan Sekular. Itu karena bantuan Barat. K...