Friday, May 23, 2014

Berbeda namun satu...

Minggu lalu saya ke Lampung menghadiri perkawinan ponakan saya yang perempuan. Saya membawa istri, menantu, cucu dan mertua. Kendaraan disupiri oleh ponakan istri saya. Dalam perjalanan saya merasakan ada sesuatu yang berbeda tentang ponakan istri saya itu. Karena dari sejak berangkat dia menyetel radio yang berisi program tausiah. Padahal tadinya dia tidak begitu peduli soal agama. Saya menanyakan mengapa dia sangat tertarik dengan Tausiah itu? Dengan tersenyum dia berkata bahwa dia ikut pengajian Salafi. Apa yang dimaksud dengan Salafi, Tanya saya. Dengan panjang lebar dia menjelaskan tentang salafi. Saya senang keyakinannya itu membuat dia dekat kepada Allah. Kalau tadinya sholat jarang tapi sekarang sudah sangat rajin sholat, bahkan selalu dilakukan berjamaah di Masjid. Istrinyapun dididiknya untuk dekat kepada Allah dengan menjaga sholat dan berlaku Ihsan.  Salah satu ponakan istri saya juga ada yang ikut Jamaah Tabligh. Yang tadinya arogan dan pemberang tapi kini dia menjadi orang yang tawadhu, penyabar dan istiqamah. Selalu menyampaikan kebaikan kepada siapapun. Bahkan ketika datang bertamu kerumah saya, dia tak lupa memberikan pencerahan kepada saya. Ada juga ponakan yang kuliah di Bandung dan dia ikut program HT. Sejak ikut program itu dia semakin tekun belajar ilmu agama dan akhlaknya semakin baik. Wawasan politiknya luas dan sangat bijak berdiskusi soal keyakinannya tanpa membuat orang yang berbeda tersinggung. 

Saya dari kecil dibesarkan oleh kedua orang tua saya dalam didikan Muhamadiah. Dalam pergaulan saya berteman dengan banyak teman yang berasal dari berbagai golongan. Bahkan di Hong Kong teman saya lebih banyak dari golongan Syiah. Walau kata orang syiah itu bukan islam namun bagi saya mereka tetaplah sahabat terbaik karena akhlak mereka baik. Bahkan kalau sholat, mereka tidak merasa risih bila saya sebagai imam walau mereka tahu saya adalah sunni. Siapapun yang berbeda dengan saya tidak akan membuat saya berjarak dengan mereka. Mengapa? Apalah arti 100 perbedaan dibandingkan 1000 persamaan. Apalah arti perbedaan yang tidak prinsip dibandingkan kesamaan prinsip aqidah. Perbedaan mahzab terjadi karena proses perjalanan sejarah sejak awal Islam diperkenalkan Rasul. Karena ruang dan waktu terjadi perbedaan persepsi namun soal aqidah tidak butuh persepsi karena itu hal yang jelas dikatakan dalam AL Quran. Bagi saya apapun itu selagi aqidahnya sama yaitu menyembah kepada Allah dan tunduk kepada Rukun Islam serta Rukun Iman maka mereka adalah saudara bagi saya. Walau mereka islam tapi akhlaknya buruk dan tidak taat sholat maka saya lebih memilih mendoakan mereka daripada memusuhi mereka. Saya tidak mau berselisih hingga akhirnya bertengkar. Mengapa? Agama Islam adalah satu-satunya agama yang paling kokoh yang dapat mewujudkan persatuan dan persaudaraan umat Islam pada khususnya dan umat manusia di muka bumi ini pada umumnya. Sebab Islam sangat menganjurkan kepada seluruh umat manusia yang hidup di dunia ini untuk saling kasih mengasihi, sayang menyayangi tidak terbatas hanya antara satu golongan atau mahzab atau satu suku saja, tetapi antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain, dan bahkan umat manusia diperintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk Allah, termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.

Tidak ada alasan karena itu harus terpecah belah atau bermusuhan satu sama lain." berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; …”(QS. Ali Imran [3]: 103). Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,(QS. Ali Imran [3]: 105). Jadi jelas bahwa Allah SWT tidak menghendaki umat Islam bercerai-berai karena saling berbeda pendapat. Sebaliknya justru Allah SWT menghendaki agar umat Islam bersatu padu layaknya saling bersaudara. Bahkan pada QS. Ali Imran [3] : 105, Allah SWT mengancam akan memberikan siksa yang berat kepada orang-2 yang berselisih. Ketika menjadi Imam sholat Shubuh, Buya Hamka yg ketua Pusat Muhammadiyah memimpin membaca Qunut di rakaat ke 2 sholat Shubuh, padahal dalam ajaran Muhammadiyah membaca qunut itu tidak dijalankan, namun karena Buya Hamka tahu bahwa para makmunnya tidak hanya dari anggota Muhammadiyah, tapi banyak juga para Nahdiyyin, maka beliau membaca qunut. Demikian juga ketika K.H Idham Khalid yg menjadi Imam Sholat Shubuh, saat itu beliau tidak memimpin membaca qunut, karena mahfum para jamaahnya banyak dari anggota Muhammadiyah yg menjadi makmum, padahal para Nahdiyyin selalu membaca qunut dalam sholat Shubuh nya. Demikian teladan dari 2 orang Ulama besar ini, masalah qunut adalah masalah khilafiah sedang menjaga persatuan & kesatuan umat Islam hukumnya adalah wajib dan lebih utama.

Sebagaimana kata istri saya ketika mengatakan kepada ponakannya bahwa dia tidak peduli apapun itu golongan yang diikuti oleh ponakannya selagi keyakinan itu membuat mereka semakin dekat kepada Allah, semakin rajin mempelajari ilmu agama, semakin sayang sama Keluarga, semakin rajin bekerja, semakin baik sama tetangga,semakin berbakti kepada kedua orang tua dan semakin ikhlas berbagii dengan saudara yang membutuhkan pertolongan. Dan itu pasti tidak akan mungkin membuat mereka berjarak satu sama lain. Untuk apa ikut golongan , ahlusunnah waljamaah, syiah, salafi, Jamaah Tabligh, HT  , bila sholat jarang, akhlak buruk karena suka mengkafirkan orang lain, bangga diri dengan ilmu dan harta, etos kerja lembek dan mudah menyerah, panjang angan angan namun pendek langkah, tak mau berbagi dengan kaum duafa , bertetangga buruk laku, paranoid, iri dan dengki , dan akhlak buruk lainnya. Orang yang beragama dengan keyakinan golongannya namun tidak mempunyai akhlak baik maka sebetulnya dia tidak pernah menegakkan sholat walau dia tidak pernah meninggalkan ritual sholat. Dia tidak pernah menyempurnakan rukun Islamnya walau dia berkali kali pergi haji. Karenanya jangan terkejut bila dengan golongan manapun dia bertengkar dan menepuk dada bahwa hanya dialah yang benar,orang lain salah. Ponakan saya telah menemukan hikmah dari perbedaan itu. BIla mereka berkumpul maka tidak nampak mereka saling menyalahkan. Bila salah satu bicara dengan keyakinannya,yang lain mendengar dengan wajah berhias senyum. Ya perbedaan itu membuat mereka semakin dekat kepada Allah dan semakin saling mencintai satu sama lain. 

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...