Wednesday, September 25, 2013

Jokowi dan ulama?

Minggu lalu saya diskusi dengan ibu saya mengenai pribadi ulama. Saya tahu bahwa ibu saya seorang ulama yang telah mendedikasikan hidupnya untuk syiar islam lebih dari 30 tahun. Selama lebih 10 tahun beliau memberikan siraman rohani untuk penghuni penjara wanita. Juga selalu hadir seminggu sekali di Rumah sakit untuk memberikan siraman rohani kepada pasien rumah sakit. Ibu saya juga selalu hadir bila diundang ke lokalisasi pelacuran untuk memberikan siraman rohani. Mengapa beliau harus mendatangi penghuni penjara, orang sakit dan pelacur? Menurut ibu saya bahwa mereka adalah hamba Allah. Mereka terperosok kelembah nista karena mereka lupa. Allah sangat mencintai makhluk ciptaannya bernama Manusia. Sangat. Itulah sebabnya Al Quran diturunkan dan Rasul dikirim. Semua itu  agar sunattullah berlaku untuk tagaknya akhlak dimuka bumi demi keselamatan manusia. Ulama adalah penerus para Nabi. Tugas ulama adalah mengingatkan mereka yang lupa itu. Ini pangilan tugas. Setiap ulama merasa terpanggil untuk itu karena kecintaan mereka kepada Allah dan berkorban untuk Allah agar manusia semakin banyak yang dekat kepada Allah.  Lantas apa jadinya bila ulama atau ustadz atau ustadzah hanya akan datang kalau dibayar dengan tariff tertentu? Tanya saya. Ibu saya hanya menggelengkan kepala.

Saya tahu bahwa dari kegiatan itu semua, ibu saya tidak pernah mendapatkan honor. Bahkan untuk dapat akses kepenjara dan lokalisasi Pelacuran, ibu saya harus menembus birokrasi pemerintah agar mendapat izin ceramah agama. Diluar kegiatan itu, ibu saya juga punya kegiatan rutin sebagai ustadzah di majelis taklim. Karena ibu saya pengurus Panti Asuhan maka setiap kegiatan dakwahnya di majelis taklim maka tak lupa beliau mengimbau pada jamaah untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan amal panti asuhan.  Honor yang dia terima dari jamaah disumbangkan semua untuk panti. Bukan itu saja, ibu saya berhasil menulis buku dan diterbitkan. Honor dan royalty dari buku itu disumbangkan semua untuk panti asuhan. Itulah yang saya ketahui tentang ibu saya.  Menurut ibu saya, apa yang diperjuangkan ulama sekarang tidaklah seberat perjuangan ulama ketika era paska Khalifah. Dulu belum ada alat transfortasi pesawat namun ulama datang ke Indonesia melewati samudera luas dan didera badai laut siang malam. Islampun diperkenalkan dan kita mendapatkan berkah islam karena itu. Ulama harus melewati gurun pasir terluas dengan keganasan alam yang gersang dan panas. Karena mereka agama tersebar keseluruh dunia. Jadi, sangatlah tidak bisa diterima bila ulama kini beralasan mereka perlu makan dan karenanya mereka perlu mendapatkan honor dari dakwahnya.

Karena itulah saya ingin tahu prinsip dari sifat ulama itu apa ? ibu saya mengatakan bahwa ulama itu harus 1. Hemat bicara. 2. Tidak menilai orang lain. Apa itu hemat bicara ? berbicara yang seperlunya. Setiap kata yang keluar harus bernilai dakwah dan sarat dengan ilmu. Kurangi bahasa tumbuh dan analogi. Karena ini bisa menimbulkan nafsu dan menjauhkan umat dari hakikat ilmu itu sendiri. Tapi bukankah bahasa tubuh dan analogi penting untuk membuat orang mengerti. Kata saya. Tugas ulama adalah menyampaikan dengan benar setiap firman Allah dan sunnah rasul.  Apakah umat akan paham atau tidak , itu bukan urusan Ulama. Pemahaman agama itu karena hidayah Allah, dan ini urusan Allah, bukan tanggung jawab ulama. Dalam ceramah, berusaha untuk tidak menilai orang lain. Siapapun dia , jangan dinilai. Andaikan memang pemerintah itu brengsek, tapi jangan nilia personnya. NIlailah systemnya dan sampaikan apa system yang terbaik menurut Al Quran dan hadith. Itu saja. Mengapa ? setiap tindakan orang pasti ada alasan. Setiap kebijakan orang pasti ada agendanya. Yang paling tahu alasan dibalik tindakan dan agenda itu , kan hanya Allah. Kita hanya menduga duga. Sekali kita menilai orang lain maka kita sedang menyampaikan suara iblis. Ujungnya hanyalah kebencian dan perpecahan.

Ustadz atau ustadzah atau ulama atau pemuka agama harus tampil digaris depan dengan sikap para sufi yang selalu jauh dari kemewahan dunia namun tangguh dalam berdakwah tanpa inferior complex dihadapan intellectual secular. Mereka ahli berdebat secara bijak tanpa membuat orang berbeda merasa disalahkan atau dilecehkan. Mereka ahli berwacana dan bersikap tanpa membuat orang lain digurui dan direndahkan. Walau hidup mereka sederhana namun mereka kaya spiritual sosialnya. Sangat kaya. Mengapa ? ya, Berkat mereka kegiatan amal membangun masajid, panti asuhan, dan program kepedulian social bagi kaum duapa dapat terlaksana. Orang termotivasi berkorban karena kerendahan hati mereka. Sikap rendah hati itulah yang selalu menimbulkan inspirasi bagi orang banyak untuk berjamaah dalam program cinta dan kasih sayang. Keadaan kini , kata saya , tidak banyak lagi ulama atau ustadzah atau ustadz, pemuka agama yang bisa bersikap rendah hati. Mereka kemaruk harta dan popularitas. Bahkan cenderung mengejar kekuasaan. Padahal kekuasaan adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh para ulama. Karena begitu besarnya cobaan yang diemban. Hanya orang sombong yang berharap kekuasaan , kecuali kekuasaan itu datang karena takdir maka ulama akan berserah diri kepada Allah.

Sikap rendah hati hanya lahir dari orang yang ikhlas. Apa kelebihan dari Jokowi. Sehingga hasil survey bisa mengalahkan semua capres. Jokowi tidak sepintar Anis Baswedan. Bukan lulusan Harvard seperti Gita. Bukan professor seperti Mahfud Md, bukan pula jenderal seperti Wiranto dan Prabowo. Bukan konglomerat seperti Hari Tanoe. Jadi apanya yang hebat? Rendah hati berbuat dan bersikap. Inilah kelebihan Jokowi. Inilah yang paling sulit didunia dan tidak ada ilmunya karena dasarnya harus IKHLAS. Ikhlas itu sangat berat ...sangat. Jokowi bukan kaliber ulama hebat tapi dia mewarisi sifat ulama sejati yaitu ikhlas dengan pribadi yang rendah hati dalam bersikap maupun berbuat. Tidak terdengar dia bicara banyak , apalagi menilai orang lain dengan prasangka buruk. Tidak nampak dia memperkaya diri dengan jabatannya. Sebagian  gajinya disedekahkan untuk orang tidak mampu. Karena itu rakyat mencintainya.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...