Tuesday, September 10, 2013

Profesi Petani...?

Siapa bilang petani itu bodoh dan lemah? Mereka cerdas dan kuat. Cerdas karena mereka tahu berlaku patuh kepada pemimpin yang adil dan masa bodoh dengan pemimpin yang culas. Kuat karena mereka tidak pernah mengeluh walau nasip mereka dipermainkan oleh penguasa yang lalim. Mereka kuat ditengah rupiah yang terpuruk, Mereka kuat ditengah difisit neraca perdagangan. Mereka kuat ditengah para pejabat yang tak henti mengemis bantuan kepada fiund manager dan underwriter obligasi valas.  Mereka kuat ditengah para pejabat bermental bedebah. Ya, mereka  adalah mayoritas populasi negeri. Mereka tinggal  dilereng gungung, dipelosok desa , dilembah. Mereka tak akan pernah mengerti apa itu indicator economic macro yang bicara percentase economic growth, inflasi, neraca pembayaran, kurs rupiah, atau apalah. Mereka tidak peduli dengan korupsi dan gratfikasi. Juga tida peduli dengan para penguasa kaya raya dari hasil korup sementara mereka miksin dan lapar. Mereka juga tidak ada waktu untuk berpikir tentang masa depan karena hari hari mereka hanya berkutat makan dan tidur, serta berdoa kepada Tuhan.

Mereka tidak pandai mendebat kebijakan Penguasa. Mereka sangat menghormati orang lain. Mereka mudah dimobilisasi untuk keperluan apa saja dan mudah pula dilupakan. Mereka ada dan perlu untuk melegitimasi kekuasaan bernama negara untuk menempatkan  sederet jenderal , insinyur, ekonom sebagai pemimpin. Teman di china  berkata kepada saya bahwa  China pernah memobilisasi para petani dalam satu barisan untuk meningkatkan produksi.  Apa yang terjadi setelah itu? tidak ada produktifitas. Kelaparan terjadi dimana mana. Rakyat patuh apa yang diperintahkan tapi bukan berarti mereka melaksanakan perintah itu. Walau disiksa dengan cambuk, ancaman maut, mereka tetap tidak akan bergerak seperti yang anda mau. Itulah bedanya manusia dengan hewan. Anda bisa melakukan apa saja terhadap raga manusia namun belum tentu anda bisa menguasai jiwanya, apalagi keimanannya.  Ketika reformasi Deng, ini disadari sebetulnya bahwa Idiologi Partai adalah perut dan kepetingan petani dan buruh atau rakyat banyak. Rakya tidak peduli dengan istilah idiologi yang diusung seperti komunis,sosialis,agamais atau apalah. Selagi kepentingan mereka dijaga, keadilan tegak, kebenaran dibela, kebaikan diutamakan maka rakyat akan patuh lahir batin kepada penguasa.

Dinegeri ini Petani selalu dipuja dan dimanjakan hanya ketika Pemilu datang dan orang ingin menjadi penguasa. Setelah itu  petani cukup cerdas untuk masa bodoh dengan penguasa yang lalai dengan janjinya dan membiarkan lahannya dibeli oleh pemodal kebun sawit atau real estate, dan selanjutnya bermigrasi ke Kota , atau kemana sajalah asalkan tidak jadi petani yang by design terjajah oleh pemerintah. Lihatlah faktanya, jumlah petani pada 2003 lalu masih mencapai 31,17 juta orang. Namun hingga pertengahan tahun 2013 ini, jumlahnya sudah menurun menjadi 26,13 juta orang. Ini berarti dalam sepuluh tahun terakhir ada penurunan jumlah petani sebesar 5,04 juta orang atau ada penurunan 1,75 persen per tahun. Bagaimana dengan generasi muda? Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian mengalami penurunan dari 40,61 juta orang di tahun 2004 menjadi 39,96 juta orang pada 2013. Sementara itu, persentasenya menurun dari 43,33 persen di 2004 menjadi 35,05 persen di 2013. Ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah profesi petani karena profesi lain lebih terhormat dan memberikan penghasilan lebih baik.

Diakui atau tidak, bahwa lahan bumi pertiwi yang subur ini memang di design oleh pemerintah untuk meminggirkan petani miskin agar orang kaya dapat menguasai tanah untuk industri, real estate, perkebunan dan tambang...dan sebagian besar yang kaya itu adalah orang asing yang menjadikan orang terdidik indonesia sebagai kacung  dan agent untuk menguras SDA. Itulah sebabnya kerabat saya di kampung banyak yang pergi merantau ke jakarta atau kota besar lainnya karena bagi mereka penghasilan sebagai petani tidak lagi bisa memberikan kehidupan untuk mereka. No hope as farmer here.  Apa pasal ? Harga  jual hasil produksi mereka hampir 90% habis untuk menutupi ongkos.  Tidak harus jadi Sarjana hebat untuk mengetahui bahwa menjadi kuli kebun sawit di tanah Jiran jauh lebih baik penghasilannya dibandingkan bertani dengan tanah sendiri. Mereka tahu bahwa pemerintah zolim kepada mereka. Sangat zolim. Mereka  tak mampu melawan namun mereka mampu menghindar dengan cara sederhana,yaitu hijrah.Hijrah tempat tinggal atau hijrah profesi. Mereka bergerak atas kehendak sunatullah karena Allah membentangkan bumi begitu luas dan kesempatan juga terbuka lebar.

Proses hijrah profesi dan hijrah  tempat tinggal ini berlanjut dari tahun ketahun.Tahun 2013 ini  Data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah rumah tangga petani dari tahun ke tahun terus menurun. Hal ini disebabkan penduduk mulai berpindah pekerjaan dengan pendapatan lebih baik. Ketika difisit perdagangan terjadi mengakibatkan  rupiah terjun bebas, Bursa keok, pemerintah baru menyadari bahwa negeri yang dikenal sebagai zamrut katulistiwa seharusnya menjadi lumbung pangan dunia ini  malah menjadi pengimpor pangan...ternyata yang bodoh itu bukan petani tapi penguasa. Mengapa bodoh? berkuasa di negeri yang diberkati SDA kaya namun rakyatnya miskin demi memakmurkan negara lain. Ternyata yang lemah itu bukanlah petani tapi pemerintah. Karena kekuasaan didapat hanya untuk berlaku seperti pecundang yang tak henti memelas hutang kepada kreditur,dan memohon kepada negara maju agar membantu Indonesia keluar dari krisis.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...