Monday, September 02, 2013

Berbagi...

Albert Hirschman mengatakan dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Begitupula ketika Century Gate terungkap namun tak bisa tuntas dan akhirnya rupiah terpuruk , inflasi dua digit dengan harga ikut pula melambung memenggal pendapatan para buruh, petani miskin. Kepercayaan runtuh, kita bertanya kepada pemerintah , apakah belum cukup bukti bahwa kapitalisme sudah salah jalan. Idiologi ini memberikan ruang kebebasan namun kebanyakan kita melupakan esensi moral yang harus diemban.

Biarkan semua terjadi karena begitulah pasar bekerja.  Saya tidak yakin itu. Karena  ditiap pasar selalu ada yang bukan-pasar dan itu dibutuhkan.  Milton Friedman ,penerus  Adam Smith, pemikir yang sering disebut sebagai bapak paham kapitalisme itu, telah keliru bukan karena sang bapak salah. Ia keliru karena Smith, dalam bukunya yang pertama, The Theory of Moral Sentiment, bukan orang yang menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith,  juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan. Dan itu adalah sifat-sifat yang tak menentang Pasar. Mereka justru diperlukan Pasar agar berjalan beres. Sebagaimana dicatat oleh sejarah,  kapitalisme tak muncul sebelum ada sistem hukum dan praktek ekonomi yang menjaga hak milik dan memungkinkan berjalannya perekonomian yang berdasarkan kepemilikan.  Adalah salah besar menempatkan hokum kapitalis semata untuk memastikan “bujuk orang kaya dengan bunga tinggi dan biarkan orang miskin bekerja keras dengan upah rendah agar mereka terus tergantung dengan modal. Ini salah.

Siapapun berada didalam system kapitalisme dan mampu bermain cantik dalam system itu , maka dia sebetulnya tidak pernah kehilangan esensi moral didalam hatinya. Orang sukses karena kerja keras dan moral selalu berujung kepada tanggung jawab moral kepada orang banyak. Itulah sebabnya  pada 9 Desember 2010, atau dua tahu setelah Lehman Brothers tumbang dan wallstreet  terjerembab, Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg (CEO Facebook) menandatangani janji yang mereka sebut "Gates-Buffet Giving Pledge". Isinya adalah mereka berjanji untuk menyumbangkan setengah kekayaan mereka untuk amal secara bertahap. Mereka tumbuh dan mendulang sukses akibat kapitalisme seperti yang smith ajarkan tentang  perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan.  Dengan sikap mereka itu , mereka bukan hanya memaknai bahwa sukses  harus diraih dengan kerja keras tapi bagaimana mempertanggung jawabkan kesuksesan itu untuk sesuatu yang lebih bernilai, dan ini hanya mungkin dengan konsep memberi. Seperti ungkapan Curchil “We make a living by what we get. We make a life by what we give.”

Ada 1500 Triliun dana orang kaya Indonesia ditempatkan di Singapore. Ini belum termasuk jumlah dana yang ditempatkan di Hong Kong, Swiss, Dubai. Menurut data Merilyn jumlah dana 12000 orang kaya Indonesia yang ditempatkan diluar negeri mencapai Rp. 3500 Triliun atau setara dengan GNP kita atau 3,5 kali APBN kita. Begitu dahyatnya kekayaan segelintir orang Indonesia itu. Mereka lebih kaya dibandingkan Bill Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg. Dan lebih hebatnya lagi mereka kaya tidak perlu menghadang resiko seperti Warren Buffet, tidak perlu berlelah siang dan malam seperti Bill Gates dan Mark. Malangnya Indonesia , segelintir orang kaya itu ketika rupiah terpuruk , mereka lebih dulu memaksa pemerintah menaikan suku bunga. Tidak terdengar mereka berkata kepada pemerintah atau kepada rakyat " setengah harta saya diserahkan untuk rakyat , untuk kemanusiaan" tidak terdengar seperti yang dilakukan oleh Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg. Itulah bedanya kekayaan yang didapat dari kerja keras ala smith dengan kekayaan yang didapat dengan cara culas dan menjual agama dan bangsa demi kepentingan pribadi. Padahal apapun yang dilakukan manusia didunia bukanlah bertujuan untuk mengejar kekayaan tapi menjalani proses bekerja sebagai bagian dari misi spiritualnya untuk kemakmuran semua ((Q.S. al-An’am/6: 175; Hud/11: 61) dan ini semua diyakini sebagai tanggung jawab dihadapan ALlah ( (Q.S. al-Qiyamah/75: 36).

Kegiatan didunia ini tak lain  dimanefestasikan dalam ujud kesediaan berbagi atas segala karunia Allah (potensi alam ) dan menggunakannya untuk kepentingan orang banyak tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan ( Q.S. al-Syu’ara/26: 183). Ini semua tidak lepas dari misi manusia terlahir kedunia untuk dan hanya karena beribadah kepada Allah (Q.S. al-Kahfi/18: 110), dan karenanya hanya akan melahirkan kebaikan, kebenaran  untuk tegaknya keadilan social bagi siapa saja…

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...