Saturday, January 12, 2013

Stop Smoking.


Di Hong Kong atau di Singapore atau diamana saja di luar negeri, saya tak bisa protes ketika aturan menjadikan saya sebagai second class walau senyatanya saya bergaul dan berbisnis di first class. Saya dilarang masuk ke restoran berkelas kecuali restoran kaki lima. Saya tidak bisa nyaman berada di loby hotel , di Mall dan disegala fasilitas umum. Sebetulnya saya bebas masuk kesemua tempat tapi privasi saya dibatasi bahkan dilarang untukd diterapkan ditempat umum itu. Teman saya orang Jepang pernah bilang ke saya bahwa komunitas kami diperlakukanh sama seperi politik Apartheid yang menjadikan orang kulit hitam di Afrika Selatan menjadi second class karena politik perbedaan kulit. Ya sama dengan perlakuan terhadap komunitas kami yang hanya karena perbedaan selera dan gaya. Mengapa kami di ban menggunakan fasilitas umum? Apakah berbeda selera dan gaya harus dikucilkan. Apakah dosa? Padahal sebelumnya semua orang bebas melakukan aktifitasnya sesuai kebiasaannya dimana saja. Tapi mengapa semakin maju semakin banyak aturan? Namun kami terima dengan kerendahan hati tanpa protes dan tetap melanjutkan cara hidup kami ditempat yang masih bisa menerima komunitas kami. Walau situasinya tak lagi nyaman, penuh tatapan sinis dan penuh keterbatasan. Sangat menyedihkan, kata sebagian orang.

Mau tahu apakah komunitas saya itu? Itu adalah komunitas yang disebut dengan aliran hisap! komunitas hisap bukanlah kelas rentenir yang menghisap darah rakyat miskin yang berhutang. Bukan pula kelas koruptor yang menghisap uang rakyat dan memiskinkan rakyat. Bukan pula kelas pengacara yang menghisap uang clients. Komunitas hisap adalah komunitas hisap rokok. Smoker community.  Komunitas hisap ini jumlah memang tidak banyak namun followernya selalu bertambah dan bertambah. Mungkin kini dari sepuluh orang empatnya  masuk dalam kelompok hisap. Hanya soal waktu jumlahnya akan sama dengan kelompok non hisap. Komunitas hisap sebetulnya berjasa memberikan pemasukan tidak sedikit kepada Negara  berupa cukai. Memberikan sumbangan sangat berarti memenuhi APBN dibanyak Negara. Tapi tetap saja komunitas Hisap dianggap sebagai perusak, arogan, mementingkan diri sendiri dan yang lebih menyakitkan dianggap sebagai komunitas second class. Majelis ulama Indonesia telah menyatakan kegiatan hisap rokok adalah haram.

Dua bulan lalu saya bersama putri dan istri saya pergi ke Mall. Kami mampir ke starbucks. Saya memesan hot Capucino dan istri saya pesan juice, putri saya pesan green tea. Saya terpaksa terpisah dengan istri dan anak saya. Istri dan anak saya menikmati suasana sejuk ber AC dengan sofa yang empuk sementara saya harus duduk diluar , tak ada AC, korsi ala kadarnya, meja yang berdebu karena ruangan terbuka sebatas tenda payung. Dari luar saya melihat betapa nyamanya istri dan anak saya. Kemudian putri saya menemui saya diluar. Putri saya dengan lembut mengatakan kepada saya bahwa kesadaran  akan kesehatan adalah kesadaran intelektual dan juga spiritual. Putri saya menjelaskan panjang lebar mengenai dampak merokok bagi kesehatan. Saya bisa maklum karena putri saya calon dokter tentu dia tahu banyak soal ini dan sebetulnya saya sudah tahu sebelumnya. Pengetahuan saya tentang bahaya merokok tidak membuat saya sadar untuk berhenti merokok. Namun ada satu hal yang membuat saya termenung ketika putri saya berkata bahwa satu satunya kebiasaan manusia yang tak bisa dijelaskan secara intelek dan spiritual adalah mengenai kebiasaan merokok.

Mengapa kebiasaan merokok tidak bisa dijelaskan ? karena ini berkaitan dengan jiwa atau psikis. Ini terjadi dari alam bawah sadar perokok itu. Tanpa saya sadari bahwa kebiasaan yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun itu telah menimbulkan ketagihan atau kecanduan. Saya  akan menjadi tidak tenang jika tidak menghisap rokok dalam waktu tertentu. Bila awalnya merokok hanya ikut ikutan budaya pergaulan namun berjalannya waktu jumlah konsumsi rokok semakin banyak dan banyak. Sampai pada kondisi secara kejiwaan bahwa saya tidak bisa berpikir jernih bila tidak merokok.  Saya baru menyadari apa yang dikatakan oleh putri saya bahwa saya lebih mencintai rokok dibandingkan diri saya sendiri dan bahkan paranoid dengan siapapun  yang tak suka saya merokok. Menurut putri saya bahwa berhenti merokok adalah cara  menjaga amanah Tuhan terhadap tubuh kita dari  kebiasaan destructive.  Apakah saya bisa berhenti merokok? Tanya saya. Bisa! Don’t accept your current situation as a permanent station in life. You have the power to change. Demikian putri saya menegaskan. Caranya, jangan pernah mulai untuk yang pertama kali. Sekali berhenti maka lupakan semua hal tentang rokok. Kalau ada dorongan untuk merokok maka lawanlah. Setidaknya jadikan itu latihan mengendalikan jiwa , mengalahkan nafsu untuk menjadi captain bagi jiwa kita sendiri.

Hari itu juga, ketika saya keluar dari Starbucks, saya nyatakan pada diri saya sendiri untuk berhenti merokok. Selanjutnya saya mulai berdialogh dengan teman teman yang sudah berhenti merokok yang sebelumnya perokok berat. Dari mereka  saya mendapatkan kekuatan bahwa saya bisa sama seperti mereka. Setidaknya saya tidak mau lagi dijadikan masyarakat second class hanya karena prilaku yang salah. Saya ingin sehat dan terhormat sebagai bagian dari masyarakat modern yang intelek dan menjunjung tinggi spiritual emotion. If you can control yourself you can control the world. Stop smoking 

1 comment:

Yulian M said...

Mudah2an tetap istiqamah pak, buat berhenti merokok :)

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...