Monday, January 21, 2013

Harga diri ?


Kemarin sabtu malam bersama tamu dari luar negeri,  dari Bandara saya pergi ke Hotel Sheraton karena Jakarta dikepung oleh Banjir.  Setelah mengantar tamu ke Hotel ,sayapun langsung pulang kerumah. Supir taksi yang saya tumpangi adalah pria seusia saya yang katanya korban pengurangan pagawai akibat BPMigas dibubarkan. Saya tidak tahu apa pekerjaannya sebelumnya di BP MIGAS namun dari cara dia bicara maka tahulah saya bahwa dia cukup berpendidikan. Saya menanyakan mengapa dia sampai jadi supir taksi. Karena dari kemampuan bahasa inggeris dan pengalaman kerja , tentu tidak sulit baginya mendapatkan pekerjaan yang "pantas". Menurutnya pekerjaan sebagai supir taksi bukanlah pekerjaan yang hina sepeti koruptor atau melacur atau menipu. Dia sudah berusia diatas lima puluh. Tidak muda lagi. Tentu tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun tidak menghalangi haknya untuk mendapatkan rezeki Allah. Allah membentangkan alam begitu luas, tentu kesempatan juga begitu luasnya. Jangan sampai kita dipenjara oleh sikap harga diri yang salah. Karena merasa bekas orang kantoran sehingga merasa pekerjaan lain tidak pantas. Nilai sebuah pekerjaan bukanlah diukur besar kecilnya atau dilihat dari penampilan atau status dimasyarakat tapi dilihat dari niat. Niatnya harus karena Allah. Niat beribadah. Katanya. Saya terpesona dengan sikap hidupnya.

Dulu waktu dia bekerja di BP MIgas dia tidak pernah merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Walau dia mendapatkan standar fasilitas orang kantor dengan gaji berlebih. Menurutnya, uang berlebih yang dia terima setiap bulannya sebagian dia sumbangkan untuk kerabat terdekatnya yang tidak beruntung. Mengapa tidak ditabung untuk bekal masa tua ? dan setidaknya tabungan itu bisa membuat hidup aman tanpa harus jadi supir taksi. Tanya saya. Menurutnya tabungan terbaik itu adalah tabungan dijalan Allah. Membantu mereka yang membutuhkan. Karena dia bukanlah orang kaya berlebih maka yang bisa dibantunya adalah keluarga terdekatnya. Dia tidak merasa pada masa tua ini dia tidak aman walau tanpa tabungan atau deposito. Dia justru merasa sangat aman dengan tubuh yang sehat dan tenaga yang tetap prima untuk mencari rezeki Allah.  Kedua putrinya sudah menikah dan memberikan empat cucu kepadanya. Dia hanya bekerja untuk memberi nafkah istrinya dirumah. Saya membayangkan bahwa banyak pejabat yang pensiun dengan tabungan dan deposito namun tetap tidak merasa aman karena tersandera oleh penyakit darah tinggi atau asam urat atau kolestrol atau diabetes atau getah bening dll. Melangkah sulit dan tubuh semakin ringkih karena dimakan penyakit. Ya harta tak ternilai dalam hidup ini adalah badan yang sehat. Sehatnya badan berhubungan dengan sikap hidup. Sikap hidup berhubungan dengan jiwa. Jiwa sehat membuat badan kuat untuk terhindar dari penyakit. Mungkin sebagian orang merendahkan dirinya yang jatuh profesi sebagai supir taxi tapi prinsip hidupnya karena Allah membuat dia merasa berharga dihadapan Allah. Itulah kekayaan spiritual,harga dari spiritual. 

Memang banyak orang yang nampak sukses dengan hanya mengandalkan intelektualnya tanpa peduli dengan spiritualnya. Harga dirinya dibangun diatas limpahan materi dan symbol berupa, baju bermerek, rumah mewah, kendaraan mewah , keanggotaan club exclusive. Namun sebetulnya semakin ditumpuknya symbol symbol harga diri itu semakin teracuni jiwanya. BIla dia pengusaha dia menipu. Bila dia penguasa dia korup. Bila dia pegawai dia malas dan manja serta culas. Rasa empati terhalau dan menganggap bahwa kemiskinan disekitarnya adalah penyakit social yang tidak perlu ditolong. Biarkan punah karena kompetisi alam. Budaya materialitis memang diterjemahkan dengan mudah oleh intelektualitas kita yang sehingga mudah sekali kita melakukan perbuatan berkakhlak rendah. Kehormatan harus dibeli dan karenanya harus dibayar dengan uang. Tidak ada yang gratis. BIla kehormatan didapat maka tidak akan berhenti sampai disitu. Dia akan minta lebih dan lebih. Karena itu butuh uang berlebih untuk mendongkrak kehormatan itu. Hidup seperti ini memang sangat melelahkan karena berdiri diatas konsep harga diri yang salah dan penuh tekanan. Padahal konsep harga diri dihadapan Allah adalah tidak mahal dan tidak sulit. Sangat mudah. Yang karenanya membuat jiwa kita tenang dan kuat menghadapi kehidupan yang kadang tidak ramah ini.

Dalam  islam bahwa harga diri itu punya standard sehingga umat islam punya harga yang sama, punya kehormatan yang sama dan tentu punya value yang sama. Apa standard harga diri manusia dalam islam ? Standard nya adalah beribadah kepada Allah. Harga diri dalam islam adalah harga dihadapan Allah. Nilai dihadapan Allah. Apapun sikap dan perbuatan hanya untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasul “Barangsiapa ingin menjadi orang yang termulia hendaklah ia bertaqwa kepada Allah, dan barangsiapa ingin menjadi orang yang terkuat hendaklah ia bertawakkal kepada Allah, dan barangsiapa ingin menjadi manusia terkaya hendaklah ia beranggapan bahwa apa yang ada di tangan Allah lebih kekal dan lebih pasti dari apa yang ada di tangannya sendiri.” Rasul telah memberikan tuntunan yang sangat indah tentang bagaimana harga diri dibangun diatas kemuliaan , kekuatan,kekayaan. Ya seperti supir taksi itu. Ketika uang berlebih dia berbagi. Ketika kehilangan jabatan atau pekerjaan dia tetap kuat tanpa berkeluh kesah. Ia dapat kembali bekerja tanpa merasa rendah walau menjadi supir taksi. Bila segala sesuatu karena Allah maka perjuangan menegakan harga diri tak lain perjuangan mendekatkan diri kepada Allah. Supir taksi ini telah melewati rentang waktu yang panjang dalam usia mendekati senja. Dalam kekurangan harta dunia sebetulnya dia berhasil membangun istana kehormatan bagi dirinya. Yaitu harga diri dihadapan Allah.  

Kita tidak bisa hidup tanpa materi. Spiritual kita tidak memaksa kita untuk memuja materi atau menyembah materi. Namun spiritual kita tidak menjadikan kita tangan dibawah. Karenanya kita  harus bekerja untuk mencari nafkah. “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah :105). Memang uang bukanlah segala galanya namun tanpa uang kita tidak bisa berinteraksi sosial. Bangunlah harga diri itu dengan istiqamah dan tetaplah berdoa kepada Allah sebagaimana yang diajarkan Rasul : Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian. Lepaskan semua belenggu syaitan yang ada pada diri. 

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...