Tuesday, January 08, 2013

Agama dan budaya


Apa yang terjadi setelah crisis global. Pada tahap awal (2008) kepanikan hanya bersifat terbatas yaitu para mereka yang terlibat langsung dalam permainan pasar uang. Namun tahun demi tahun kepanikan semakin meluas. Apa pasal? Seorang teman di Eropa bercerita kepada saya bahwa sebelum krisis global dia menanamkan semua dana tabungannya serta dana pinjaman pensiunnya untuk berinvestasi di pasar uang dan modal. Bertahun tahun kondisi tersebut membuat dia sangat aman secara financial karena dia tetap bisa berkonsumsi melalui berhutang ( instant loan) dengan jaminan porfollio investasinya dan setiap bulan dia mendapatkan yield yang jumlahnya kadang lebih besar dibandingkan biaya hidupnya sebulan. Karena itu dari waktu ke waktu jumlah dana dalam investasi portfolio semakin dia tambah dan perbesar. Dari semua itu dia sudah bermimpi banyak tentang masa depannya setelah pensiun. Tapi apa yang terjadi kini? Semua portfolio investasinya jatuh nilainya karena market fall down. Kini hidup tanpa asuransi, lambat namun pasti sisa harta tergerus oleh biaya hidup yang semakin mahal (efek inflasi). Hanya masalah waktu , dia akan tamat...

Apa yang menimpa teman saya itu juga terjadi bagi  99% kelompok menengah di Eropa, AS dan ASIA. TIdak ada lagi pesta akhir tahun ketempat tempat wisata berkelas. Tidak ada lagi kebebasan financial untuk berkosumsi apa saja. Tidak ada lagi bonus dan gaji ke 14 karena perusahaan semakin kehilangan pasar untuk terus berproduksi.  Ada yang masih beruntung karena  tidak terkena PHK namun biaya hidup yang sudah terlanjur mahal tak bisa lagi ditutupi dari pendapatan gaji yang tanpa bonus.  Yang terkena PHK dihadapkan pada biaya hidup yang tinggi dan tekanan debt collector atas hutang kredit konsumsi seperti rumah, kendaraan dan lain lain. Makanya tak aneh banyak terjadi bunuh diri. Banyak yang gila. Banyak rumah tangga hancur. Banyak orang tua terlunta lunta di jalanan. Tingkat homeless meningkat, Tingkat jobless meningkat. Apa yang terjadi kini adalah proses yang by design seharusnya sedari awal sudah disadari oleh public. Tapi mereka terlena karena kemudahan dan kemanjaan yang di create oleh pemerintah untuk menciptakan pertumbuhan ( ilusi). 

Semua tahu bahwa sebelum krisis,  AS dan Eropa menjadi tutor bagi negara manapun  untuk mengelola pertumbuhan ekonomi. Kampusnya menjadi incaran para mahasiswa diseluruh dunia. Betapa tidak? Lihatlah faktanya, kata teman saya. Banjirnya likuiditas perbankan, tingginya index bursa, rendahnya suku bunga, tingginya angka pertumbuah ekonomi, telah membuat pemerintah merasa yakin bahwa semua berjalan dengan baik. Kepercayaan public di indikasikan dengan tingginya rating surat hutang pemerintah, tingginya rating lembaga perbankan, tingginya rating emiten 500 fortune. Secara makro sehat. Bagaimana mikro? Ada excuse ketika sector produksi dalam negeri menurun. Sudah saatnya eropa dan AS tidak lagi membuat barang barang remeh. Biarkan Negara lain yang buat. AS dan Eropa berfocus kepada high tech yang berbasis riset. Karenanya harus ada penyesuain paradigm dari industry remeh ke industry berat. Upah harus dinaikan berlipat. Akibatnya Industri remeh tak sanggup mengikuti UMR yang tinggi , yang bertahan kalah bersaing dengan barang buatan china yang murah.Akibatnya yang kecil terpaksa hengkang ke China dan Vietnam. Namun, industry high tech tak memberikan output yang hebat. Akumulasi modal nasional semakin tidak efisien namun pemerintah tetap tidak menyadari akan hal itu dan terus hidup dalam manajemen ilusi.

Mengapa ilusi? Karena Peningkatan sisi permintaan yang tinggi tidak didasarkan kepada pendapatan real tapi kebijakan moneter untuk memungkinkan perbankan melakukan eskpansi kredit konsumsi. Sementara sisi produksi melemah kalah akibat konpetisi global dan konsumen lebih cenderung membeli barang import yang berkualitas dan murah. Pada diri public ( pengusaha)  melekat satu prinsip “kalau bisa beli kenapa harus bikin” dan pemerintah mengaminkan dengan kata kata “ apa lagi kalau membeli jauh lebih murah daripada bikin sendiri. “ karenanya produksi China diterima dengan senang hati. Walau bukanlah produk berbasis tekhnologi tinggil. Hanya produk sederhana seperti mainan anak anak, sikat gigi, sepatu, pakaian, alat dapur ,tusuk gigik , peniti, jarum, dll. Namun karena jumlahnya massive dan berkesinambungan, maka tanpa disadari sebagian besar barang yang di konsumsi bangsa AS dan Eropa dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali berasal dari pabrik yang ada dichina. Dari depan rumah sampai ke setiap sudut rumah , pasti terdapat barang bermerek Made in china. Ketika krisis terjadi, China tampil sebagai lender bagi AS dan Eropa untuk memberikan solusi dan sekaligus pelajaran " jangan malas, jangan manja". Bisahkan AS dan Eropa mendapatkan pelajaran? 

Menurut teman saya bahwa yang membuat bangsa Eropa dan AS menjadi pemimpin peradaban modern yang ditandai dengan semangat inovasi, pioniritas, kreatifitas, pekerja keras dan pantang menyerah, karena budaya. Satu satunya yang membuat budaya menjadi alat perjuangan manusia menyelesaikan masalah kesehariannya adalah agama. Agama menuntun orang untuk berbudaya kasih sayang , kerjasama, hormat menghormati, kerja keras, kreatif, inovatif, pionir dan adil. Jadi mengapa dengan budaya itu? tanya saya. Budaya itu sudah mengabur karena agama sudah lama ditinggalkan kecuali hanya sebagai ritual simbolik status dan bukan sebagai alat untuk membangun peradaban unggul. Generasi yang ada kini telah terkooptasi dengan slogan, “buy low sell high and pay later”. Masalahnya yang low menjadi mahal dan yang mahal tak laku dijual sementara yang mau menerima syarat pay later sudah tidak ada lagi karena lost trust. Kini semua telah terjadi. Amerika dan Eropa bukan hanya menghadapi masalah ekonomi tapi masalah budaya. Ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Butuh waktu panjang dan lama.  Apakah AS dan Eropa bisa menyadari ini? 

Kita harus mendapatkan hikmah dari kejatuhan Eropa dan AS. Pertahankan agama agar budaya kasih sayang dan gotong royong tetap menjadi keseharian kita. Apapun yang terjadi kita akan tetap menjadi bangsa yang kuat, karena iman dan ikhsan.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...