Sunday, January 27, 2013

Menerima kenyataan...


Dulu waktu saya remaja, rumah tempat tinggal saya hanya selangkah dari tempat pemakaman. Bila jendela kamar saya dibuka maka sudah nampak kuburan. Bila malam hari, Tempat pemakaman itu sering digunakan oleh anak anak muda bersantai. Mereka bernyanyi dengan menggunakan gitar sampai larut malam. Mereka semua teman sepermainan saya. Hanya saja mereka umumnya tidak sekolah. Sementara saya sekolah dan tidak bisa ikut dengan gaya hidup mereka. Bagaimanapun saya merasa terganggu dengan kebiasaan mereka yang gaduh disamping kamar saya yang membuat saya tidak bisa belajar dengan tenang. Saya tidak tahu bagaimana caranya melarang mereka untuk berhenti dengan kebiasaanya itu. Kalau saya tegur langsung mungkin mereka akan tersinggung dan memancing untuk berkelahi. Hal ini saya sampaikan kepada ibu saya. Dengan tersenyum ibu saya berkata bahwa saya harus belajar menerima kenyataan dengan ikhlas. Kalau saya paksakan lingkungan itu seperti apa yang saya mau maka itu akan membuat orang lain tersinggung. Tidak nyaman. Sementara bertengkar itu jelek. Yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang. Bijaklah.

Ya, Saya harus mulai membiasakan diri dan hidup dengan kenyataan bahwa lingkungan saya tidak ramah. Saya sudah masuk dalam dunia orang dewasa. Kebijakan mutlak saya dapatkan.  Saya harus mengelola rasa kecewa atau kesedihan terhadap lingkungan saya. Sebagaimana ibu saya menasehati saya bahwa jangan pernah marah dengan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan tapi terimalah itu sebagai sebuah realita untuk belajar bijak. Ingatlah firman Allah “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216). Mungkin lingkungan buruk itu sebagai cobaan dari Allah agar saya dapat lebih mudah melihat yang baik dan yang buruk untuk menjadi lebih baik. Tapi mengapa yang baik dan buruk selalu bersanding dihadapan kita?  Itulah kehidupan. Allah punya scenario. “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” ( Ar-Rum:64 ).  Tugas kita hanyalah melewatinya dengan sabar untuk tetap istiqamah dijalan Allah.

Kenangan masa remaja itu sampai kini tidak pernah saya lupa. Bahkan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya dalam menjalani kehidupan.  Teman orang asing sempat bingung melihat kenyataan Jakarta yang macet, bila hujan banjir dan bila kemarau debu polusi. Lingkungan yang tidak disiplin, korup dan tidak aman. Dengan keadaan itu , dia melihat saya merasa tidak terganggu. Padahal saya tahu ada kehidupan dinegara lain yang lebih baik dari Jakarta, yang tentu bisa membuat saya lebih nyaman. Kebingungan teman itu saya jawab bahwa manusia terlahir untuk menerima kenyataan. Kita harus menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Ingat bila sudah ikhlas maka tidak perlu bertanya lagi. Jalani saja. Bukankah setiap manusia dituntut untuk menjadi agent perubahan dan bila tidak bisa merubah maka berhak mencari tempat lain yang sesuai dengan idealismnya. Kata teman saya. Benar bahwa setiap kita punya misi untuk merubah lingkungan yang buruk menjadi baik tapi tidak punya tanggung jawab untuk harus berhasil merubahnya. Kewajiban kita dimanapun berada adalah merubah diri kita terlebih dahulu menjadi lebih baik.

Jalanan macet karena tidak disiplin berlalu lintas. Semua tahu penyebabnya. Kita harus memulai pada diri kita sendiri untuk disiplin. Kemiskinan dan ketidak adilan social terjadi salah satu sebabnya adalah karena wabah korupsi. Maka kita harus mulai dari diri kita untuk tidak korup. TIdak takut kepada pejabat yang memeras karena jabatannya. Walau karena itu kita dipersulit. Rusaknya moral manusia karena maksiat. Tempat maksiat tersebar disetiap sudut kota. Kita harus menjauh dari tempat maksiat itu. Mereka yang culas, pemarah, tidak sabar, doyan maksiat , kita  hadapi dengan akhlak mulia. Tidak mengatakan mereka jelek tapi perlihatkan kepada mereka apa yang baik pada diri kita. Menurut saya perjuangan untuk kebaikan bukanlah memaksa orang untuk berubah menjadi baik seperti apa yang kita mau tapi dimulai dari diri kita untuk berubah. Gerakan lingkungan hidup bersih dimulai dari satu puntung rokok yang kita ambil dari jalanan dan membuangnya ketempat sampah.  Jadi daripada kita terus berkeluh kesah terhadap  lingkungan yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau maka lebih baik kita berbuat sesuatu yang baik ditempat yang buruk walau itu hanya perbuatan kecil yang tak nampak oleh orang lain. Mungkin itu kehendak Allah agar kita berbuat dan menjadi bagian dari proses perubahan yang Allah kehendaki. 

Kehidupan ini adalah rangkaian peristiwa sebagai akibat dari interaksi social. Bahwa apa yang ada, bahkan yang paling bertolak belakang dengan kondisi ideal yang kita inginkan adalah bagian dari kehendak Sang Maha Hidup, Allah SWT” Allah menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang yang sering kita maknai menyenangkan dan tidak menyenangkan. Apapun bisa saja terjadi. Dan apapun itu selalu ada hikmahnya. hikmahnya selalu baik. Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi). Salah satu kebaikan yang bisa kita dapatkan dari setiap peristiwa atau kondisi, meski pun sangat menyakitkan adalah hikmah yang terkandung di dalamnya. Begitulah cara Allah berdialogh denga  kita , untuk mendidik kita agar menjadi sempurna. Sebagaimana doa Rasul" "Ya Allah hamba bukan menolak takdir-Mu, takdir-Mu adalah takdir-Mu, berilah kepada hamba keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, baik sangka dan kecerdasan menangkap bahasa hikmah dibalik segala takdir-Mu... Aamiin". 

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...