Sunday, September 02, 2012

Sunni -Syiah?


Kemarin waktu ketemu dengan teman  dari Malaysia, dia sempat  bertanya apakah saya Syi’ah? Mungkin karena saya suka pakaian warna hitam ( gelap) dia beranggapan seperti itu. Saya tahu teman ini bertanya soal ini karena dia membaca berita lewat Madia massa tentang  Kejadian di Sampang Madura yang sampai menimbulkan korban manusia dan kerugian materi hanya karena perbedaan pandangan antara  Ahlulsunnah waljamaah dan Syi’ah, sangat menyedihkan. Karena ketika betrokan itu terjadi, nilai nilai islam digunduli secara vulgar. Saya tegaskan saya Islam. Soal keyakinan mahzap apa yang kita jadikan rujukan dalam beragama tak perlulah diungkapkan  kecuali perbuatan kita memang menyejukan orang lain. Benarkah Syiah itu sesat ? Tanya saya. Kalau masalah ini dipersoalkan maka akan menimbulkan pertengkaran yang tak akan pernah habis habisnya. Mengapa ? Baik Syiah maupun sunni punya referensi yang kuat dan diyakini paling benar. Bila karena keyakinan akan kebenaran itu sampai menimbulkan permusuhan satu sama lain maka tak ada lagi nilai kebenaran itu.

Sebagaimana Sunni yang mengenal mahzap, dalam syiah juga banyak aliran mahzab. Menurut  ulama Syam, Prof Dr Wahbah Zuhaily, antara Syiah dan Sunni tidak ada perbedaan yang besar kususnya pada Syiah Imamiyah yang komunitasnya banyak di Iran. Bahkan Mahzap Syiah Imamiyah ini lebih dekat dengan Mahzab Syafii dan hanya memiliki perbedaan dalam 17 perkara fikih. Sementara Syiah Zaidiah, menurut beliau, adalah Syiah yang paling dekat  dengan Sunni. Bahkan penganut  Sunni menggunakan beberapa buku rujukan Zaidiyah seperti buku fikih karangan Imam Shonani, dan Kitab Subulussalam. Pertemuan OKI ( organisasi Konfrensi Islam )  pada tahun 2006 yang dihadiri oleh Ulama Syiah dan Sunni telah mengeluarkan deklarasi Makkah ( 2006) yang intinya bahwa perbedaan Sunni – Syiah merupakan perbedaan alami , sama seperti perbedaan mazhab mazhab dalam fikih islam. Konfrensi International Islam yang diadakan di Qatar juga mengeluarkan pernyataan bersama bahwa pentingnya dialogh antara syiah-sunni dalam bahasa perdamaian dan kasih sayang. Saya juga bisa mengerti karena begitulah sikap MUI yang mengatakan hal senada.  

Stop pertikaian Syiah –Sunni yang saling menghujat atau meng claim paling benar diatara yang lain. Menurut teman saya bahwa  persatuan dan kesatuan umat islam inilah yang akan menjadi syiar ampuh terhadap agama lain dan sekaligus sebagai benteng kokoh menghadapi strategy hasut adu domba pihak AS/Barat/Yahudi yang tak ingin Islam itu kuat. Ingatlah, ketika perang Mesir –Israel berkecamuk, Anwar Sadat berhasil meyakinkan pemimpin Islam diseluruh Timur Tengah untuk bersatu dengan mengembargo eksport minyak ke AS. Ekonomi AS hampir lumpuh karena itu. Ingat juga ketika bersatunya Syiah dan Sunni di Irak paska kejatuhan Sadam Husein dan berhasil memaksa AS keluar dari Irak.  Juga bersatunya Syiah dan Sunni di Mesir dalam menjatuhkan rezim Husni Mubarak sehingga tampilnya ulama dalam elite kepempinan di Mesir. Persatuan umat bukan masalah Arab dan non-Arab tapi karena memang umat ini memiliki satu Allah dan merupakan umat Nabi Muhammad SAW. Semangat inilah yang luntur ketika jatuhnya khilafah islam akibat imperialis Barat.

Khalifah Umar RA dalam sebuah kesempatan pernah berkata "Kami diagungkan karena kami berpegang teguh dengan Islam ini dan jika kami mencari keagungan bukan pada Islam maka Allah akan  menghinakan kita." Ya, bila perbedaan sengaja dikobarkan karena dorongan nafsu untuk mendapatkan konsesi penghormatan atau keuntungan pribadi maka yakinlah Allah akan menghinakan kita. Kita akan masuk bagian dari orang yang menghinakan agama itu sendiri. Dalam salah satu hadisnya Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang keutamaan mendamaikan ini, serta bahayanya pertentangan dan perpisahan. Sabda Rasulullah s.a.w.: "Maukah kamu aku  tunjukkan suatu perbuatan yang lebih utama daripada tingkatan keutamaan sembahyang, puasa dan sedekah? Mereka menjawab: Baiklah ya Rasulullah! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: yaitu mendamaikan persengketaan yang sedang terjadi; sebab kerusakan karena persengketaan berarti menggundul, aku tidak mengatakan menggundul rambut, tetapi menggundul agama." (Riwayat Tarmizi dan lain-lain)

Tapi bila perbedaan itu diterima sebagai sebuah realitas dengan mengedepankan kesamaan seiman maka rahmat Allah akan sampai kepada kita yang beriman. Menurut teman saya, yang harus jadi agenda bagi semua orang yang membaca kalimasyahadat  adalah rasa persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang. Dalam islam kepada seorang seiman dengan kita maka kita wajib melindungi harta dan kehormatannya"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." [Ali Imran:103]. Perbedaan antara Syiah –Sunni bukanlah karena aqidah tapi lebih kepada mahzab, yang tidak perlu dipertentangkan, apalagi menimbulkan permusuhan saling menghujat.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...