Sunday, September 16, 2012

Innocence of Muslims...


Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai baginda  wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat  Rasulullah SAW yakni Abu Bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu," wahai Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? "

Aisyah RA menjawab,"Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja" "Apakah Itu?", tanya Abu Bakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana", kata Aisyah RA. Maka keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar RA pun  mendatangi pengemis itu, lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?" Abu Bakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).""Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW" . Air mata Abu Bakar tidak lagi  dapat di tahan-tahan dari bercucuran. Seketika itu juga pengemis  pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar  RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia...." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Bahkan ada seorang wanita tua yang berani mencerca Nabi. Setiap kali Nabi melintas depan rumahnya, kala itu pula si wanita meludahkan air liurnya. Peristiwa itu berulangkali terjadi, bahkan hampir setiap hari.Suatu kali, ketika Nabi lewat di depan rumahnya, si wanita tadi tak lagi meludahinya. Bahkan, batang hidungnya saja tak kelihatan pula. Nabi lantas bertanya kepada seseorang, “Wahai Fulan, tahukah engkau, dimanakah wanita pemilik rumah ini, yang setiap kali aku lewat selalu meludahiku?”Orang yang ditanya menjadi heran, kenapa Nabi justru menanyakan, penasaran, dan tak sebaliknya merasa kegirangan. Namun, si Fulan tak ambil peduli, oleh karenanya ia segera menjawab pertanyaan Nabi, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa si wanita yang biasa melidahimu sudah beberapa hari terbaring sakit?” Nabi mampir menjenguk wanita peludah itu. Ketika tahu, bahwa Nabi, orang yang tiap hari dia ludahi, justru menjenguknya, si wanita menangis dalam hati. “Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjenguk kemari.” Dengan menitikan air mata haru bahagia, si wanita bertanya, “Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?”Nabi menjawab, “Aku yakin, engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau mengetahuinya, aku yakin engkau tak akan lagi melakukannya.”

KIsah tersebut memberikan makna terdalam bagi kita orang beriman. Kebencian orang kepada kita karena dasar ketidak tahuannya siapa sebenarnya kita, tidak bisa kita hadapi dengan kekerasan. Orang buta ilmu dan pengetahuan tentu pula buta kebenaran , maka tidak bisa diharapkan banyak dia akan bersikap bijak terhadap kebenaran yang kita berikan itu. Bila kita hadapi dengan kekerasan pula maka kebenaran yang kita perjuangkan akan menjadi tak lagi bernilai. Karena orang “buta” saja tahu dan merasakan bahwa kita memang tidak pantas dihormati. Tapi bila kebencian, penghinaan  orang yang buta (ilmu dan kebenaran) itu kita hadapi dengan kesabaran, bijaksana, penuh cinta kasih maka dia akan disadarkan tentang value kebenaran itu sendiri. Tidak melalui apa yang kita katakan tapi keteladanan akhlak mulia membuat orang hatinya melembut dan tercerahkan jiwanya untuk mau membuka matanya tentang kebenaran.  Inilah yang menjadi prinsip perjuangan rasul ketika menyampaikan kebenaran kepada umatnya. Akhlak agung itulah yang membuat tabiat kasar orang arab menjadi melembut dan akhirnya menjadi komunitas pertama islam yang berakhlak Al Quran.

Yahudi memang sudah tabiatnya tidak mengingingkan kebenaran yang dibawa oleh Rasul. Ini sudah diperingatkan Allah di dalam Al Quran. Mengapa ? tidak perlu dibahas. Allah lebih tahu mengapa Yahudi diciptakan dan juga iblis diciptakan. Yang pasti keberadaan ras Yahudi yang membenci Islam adalah cobaan bagi kita orang beriman untuk mengingatkan kita agar senantiasi waspada dalam beragama dengan memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Itulah sebabnya film "Innocence of Muslims" buah karya dari Sam Bacile, warga Amerika keturunan Israel, cukup kita anggap sebagai orang buta yang berada di sudut pasar Madinah yang senantiasa menghina Nabi namun dibalas oleh  Nabi dengan cnta dan kasih sayang. Kita hanya diberi hak untuk menyabung nyawa ( berperang ) bila kita diserang oleh orang lain atau kita dipaksa untuk pindah agama dengan cara cara kekerasan. Selain itu  kita harus meneladani Rasul terhadap orang orang yang menbencinya dan menghinanya, yaitu melalui akhlak cinta dan kasih sayang.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...