Sunday, June 03, 2012

Peradaban Islami


Komunitas yang tidak teratur dan banyak dosa hanyalah komunitas yang amoral atau komunitas yang jauh dari niat untuk berbuat baik. Demikian kata teman saya ketika wabah korupsi dan maksiat terjadi dimana mana. Karena seharusnya , menurut dia bahwa  komunitas ideal adalah yang memiliki moral berkualitas malaikat bahkan lebih dari itu sebagaimana firman Allah “ sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya “ ( QS. At –Tin (95):4 ). Camkanlah ayat itu.? Tegas teman itu. Manusia adalah mahkluk yang berbentuk paling indah, baik secara material maupun spiritual. Manusia diberi tugas sangat agung sebagai pemimpin dimuka bumi ( khalifah ) oleh Alah karena bumi, gunung, langit takut mengemban tugas tersebut. Inilah takdir manusia. Namun kesempurnaan kita sebagai manusia tidak secara otomatis. Ia terbungkus dengan rapat dan tugas kita membukanya lewat proses sunatullah.

Kehadiran manusia dibumi dapat dianggap sedang menempuh perjalanan untuk menjadi makhluk yang sempurna. Ini terus berproses selama manusia  terus mengembangkan karunia yang menghiasnya  dan hidup sesuai dengan inspirasi Tuhan. Itulah sebabnya manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Manusia adalah makhluk social yang butuh organisasi yang teratur dengan pemimpin yang berkualitas baik.  Dengan begitu maka akan lahirlah komunitas yang indah. Keindahan itu membuat Allah bangga akan ciptaanya sebagaimana bangganya ALllah ketika Adam diciptakan dan meminta kepada semua hakhluk sujud kepadanya. Demikian kata teman saya sambil tersenyum. Tolong gambarkan kepada saya bagaimana sebetulnya komunitas yang indah itu? Tanya saya. Teman ini terdiam sebentar yang nampaknya berpikir untuk memulai. 

Ya, lanjutnya, komunitas itu sangat paham misteri misteri seperti apa itu arti hidup, alasan keberadaan dan tanggung jawab sebagai manusia yang selalu takut akan dosa, senang berbuat baik dan saleh.  Punya sifat empati dan kehalusan hati yang terpancar sebagai sebuah cahaya yang bersumber dari kebijaksanaan Tuhan. Karena itu memungkinkan mereka  dapat melihat apa yang tersembunyi dibalik tirai.   Mereka  akan jauh dari sifat sombong. Mereka bukan peniru Firaun yang doyan kekuasaan akhirnya mati terbenam bersama kesombongannya dilaut. Mereka juga bukan pengikut Hamman yang bangga dengan pengetahuannya, mati tersambar petir. Mereka  bukan pula pengikut Qarun yang kemaruk harta , tenggelam ditelan bumi. Mereka bukan seperti Samiri yang membesarkan eksistensi diri , akirnya hilang ditelan masa. Mereka adalah komunitas rendah hati namun tidak merendahkan diri dihadapan manusia kecuali dihadapan Allah.

Mereka  sadar bahwa mereka akan terus menerus diuji dan dibersihkan oleh Allah, sehingga mereka  dapat mencapai kebahagiaan hakiki. Meskipun menghadapi bencana dahsyat dan jatuh kedalam  pusaran air yag paling mengerikan, bahkan disaat saat paling tak berdaya, dan menyedihkan, mereka  mendengar bisikan” janganlah kamu merasa sedih ; dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh ) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.(QS. Fussilat (41): 30). Mereka sujud dan ruku dengan rasa syukur ,apapun yang terjadi didunia ini. Nikmat Allah menerangi jiwa mereka untuk sabar dan ikhlas. Mereka bergerak teratur sebagai sebuah barisan. Kiblat mereka satu. Cita cita mereka satu. Karena aqidah mereka satu yaitu AL Quran. Teladan mereka satu, yatiu Hadith. Kesatuan mereka bukan karena dunia tapi karena akhirat. Didunia mereka melangkah namun akhirat tujuannya.

Mereka  mencoba agar selalu bersih dari dosa karena mereka telah merancang jalan hidupnya sesuai dengan hukum Allah. Mereka berjihad setiap waktu melawan egonya sendiri. Mereka pekerja keras dan tak suka wasting time for nothing.  Mereka gunakan harta, ilmu dan pengatahuanya untuk memberi dan melayani. Menjauh dari kelakuan berhura hura mabuk dunia yang bergaya hidup hedonism. Mereka mencintai kebebasan namun menerima batasan yang ditetapkan oleh Al Quran dan Hadith. Mereka selalu mencari cari kebaikan sahabatnya dan berusaha pula menutupi keburukan sambil menasehatinya dengan kerendahan hati.  Hati mereka adalah taman yang cerah dan berwarna warni yang terbuka untuk dikunjungi oleh siapapun. Membuat yang berbeda dengan mereka merasa tentram karena mereka menghindari pertengkaran dan kekerasan. Mereka berdamai dengan diri mereka sendiri demi cinta bagi semua. Mereka tampil berani digaris depan untuk tegaknya keadilan, kebaikan dan kebenaran.

Demikian teman ini memberikan gambaran. Namun simpulnya,  dinegeri kita hal tersebut masih jauh api dari panggang.  Karena kita belum bisa membalas kesalahan dengan kebaikan. Kita menghadapi kekerasan dengan kekerasan dan kebencian dengan kebencian. Membalas fitnah dengan fitnah. Suka membuka aib orang lain. Kita bangga dengan kebebasan berpikir dan menyebut diri rasional namun itu tak bersumber dari AL Quran dan hadith. Jadi kita menodai perjuangan kita dijalan Allah dan kalah, meskipun kita berusaha. Kita keluar dari lingkaran cahaya dan sinar keagungan Al Quran akibat akhlak rendah dan ini semakin membuat gelap jalan mencapai kesempurnaan sebagai manusia , dan komunitas yang dirahmati Allah semakin memudar. Kita masih punya harapan, asalkan para pemimpin sadar untuk kembali kepada keagungan Al Quran dan Hadith untuk melahirkan kebijakan dan inspirasi Tuhan. Semua kembali kepada kita sebagai individu untuk berubah , untuk harapan kini dan besok..

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...