Monday, May 28, 2012

Komunitas Islam




Ketika terjadi disintegrasi Block Soviet, perang dingin usai. Tidak ada lagi musuh nyata. Dan kini digantikan oleh musuh imajiner. Seperti ungkapan Huntington tentang benturan peradaban dan ini dijadikan mindset baru oleh dunia untuk melahirkan perang. Perang apa ? musuhnya siapa ? Ya musuh diciptakan melalui benturan peradaban, berdasarkan perbedaan agama dan budaya. Ini adalah agenda terselubung yang dipersiapkan dengan matang oleh segelintir orang. Karena sebetulnya bila  tidak ada perang, tidak ada keuntungan. Perang dan konplik harus terus terjadi. Penduduk dunia by design diberi sinyal kuat untuk saling berhadapan dengan kekerasan dan kebencian. Isu teroris dan islam fundametalis dijadikan semacam alarm tentang musuh bersama peradaban dunia modern saat ini.

Upaya untuk menyudutkan islam terus terjadi. Joyce Chernic yang merupakan lembaga nir laba yang sangat pro Israel telah memberikan dukungan dana tidak sedikit kepada Jihad Watch untuk tujuan propaganda menyudutkan Islam.  Bukan hanya Joyce, ada sederet nama dibelakangnya  seperti Jewis Federation Council of Greater Los Angeles, Anti Deception League, Zionism Organization America. Masih banyak lagi lembaga yang mengkhususkan diri untuk kampanye anti Islam dan mengeluarkan dana ratusan juta dollar, seperti the Donor Capital Fund.   Ada juga AsIa Foundation yang menyalurkan dana tidak sedikit untuk memberikan dukungan kepada Kelompok Islam liberal di Indonesia  dengan segala afiliasinya seperti kelompok paham kebangsaan dan lainnnya, dengan tujuan merusak aqidah umat islam di Indonesia dan memprovokasi terbentuknya bad image atas umat Islam. Inilah apa yang disebut dengan perang idiologi dengan menebar issue Islamofobia. Umat islam harus menjadikan ini sebagai ladang ibadah dengan memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah, bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta.

Ketahuilah bahwa Islam bukan teroris. islam bukan doyan perang. Tidak  ada dalam prinsip agama samawi membolehkan konplik, apalagi melahirkan peperangan. Bila nyatanya sejarah mencatat terjadi peperangan antar manusia dimana agama membenarkan maka itu dalam kasus yang sangat luar biasa dan selalu dalam konteks membela diri. Seorang pemimpin yang dimuliakan oleh kaumnya yang berpikir berdasarkan perintah Allah selalu mengutamakan perdamiaan. Andaikan perang terjadi dan pihak musuh inginkan perdamaian, walau posisi sudah diatas angin , umat islam harus menghentikan perang dan memilih untuk berdamai, dan bertawakal karena itu. Dengan demikian, dalam sebuah agama yang berdasarkan perdamaian, keamanan dan harmoni dunia, perang dan konplik merupakan aspek negative. Islam selalu menghela napas perdamaian dan kebaikan. Islam menganggap perang sebagai peristiwa sekunder. Aturan telah ditegakkan untuk menjaga keseimbangan dan membatasinya.

Islam menggunakan keadilan dan perdamaian dunia sebagai dasar “ Dan janganlah kamu sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil  ( QS. AL – Maidah (5):8) “  Tidak ada keadilan dalam kebencian. Islam mengembangkan garis pertahanan berdasarkan prinsip prinsip tertentu dalam rangka melindungi kebebasan karena agama, budaya, kelas social , etnis. Aturan ini sangat indah dan output nya hanyalah kedamaian berdasarkan prinsip keadilan dan kebenaran untuk kebaikan bagi semua. Sudah menjadi tugas umat islam melakukan yang terbaik untuk terciptanya angin toleransi positip. Dan Alhamdulillah, para pegiat islam dan LSM Islam terus berupaya mengembuskan nilai nilai islam lewat dialogh yang intensip. Kini telah mendunia. Berangsur angsur dunia mulai menyadari eksistensi Islam yang cinta damai.  Upaya ini jauh lebih dahysat pengaruhnya dibandingkan loby politik , diplomasi antar Negara yang penuh dengan kepentingan geopolitik, geostrategis.

Hegemoni militer di irak oleh AS sudah punah. Dukungan militer dunia barat  terhadap Israel sudah mulai berkurang. Tekanan terhadap Iran yang penuh kebencian sudah mulai berkurang. Ditambah lagi ditengah krisis dunia akibat kerakusan kapitalis telah semakin membuat upaya islam sebagai pemberi solusi mendapat tempat terhormat. Indonesia sebagai Negara yang mayoritas beragama islam harus tampil lebih dominan dalam memberikan angin kedamaian ini. Lewat dialogh antar agama, golongan, etnis yang penuh dengan kasih sayang akan menjadi inpirasi bagi penduduk dunia bagaimana Islam membangun nilai nilai kebebasan, kesetaraan, perdamaian berdasarkan prinsip prinsip AL Quran dan Hadith. Maka ramalan Huntington sang futuristis apa yang disebut dengan benturan peradabadan hanyalah omong kosong belaka. Tidak ada benturan yang akan terjadi. Karena ada islam sebagai pendamai.

Masyarakat kita pada prinsipnya adalah masyarakat yang bijak namun waspada. Agama dan budaya mengajarkan hal itu.  Saya yakin , walau pemerintah kini jauh jalan menyimpang dari AL Quran dan hadith, bila masyarakat terus hidup dalan inspirasi Tuhan, hanya masalah waktu akan lahir pemimpin yang mau mendengar hati nurani dan mencoba membangun berdasarkan prinsip agama dan budaya. Tanda tandanya sudah nampak dengan jelas. Para mahasiswa tidak mudah lagi diprovokasi dengan pemikiran secular.  Masyarakat awam tidak mudah lagi percaya dengan politik pencitraan ala demokrasi. Mereka hanya percaya bahwa kebenaran , kebaikan dan keadilan itu tidak perlu dicari tapi diciptakan dan sumber penciptaan itu ada dalam diri mereka sendiri. Maka berubah adalah kata kunci, tapi berubah dari haluan secular kepada haluan spiritual. Dengan itu maka ketulusan akan dijunjung, kesabaran akan memperkuat sikap toleran dan kerja keras, prilaku ikhsan akan menjadi keindahan yang mendamaikan dan mensejahterakan. Semoga …

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...