Saturday, April 14, 2012

Manusia kuat...


Saya teringat dengan kakek saya almarhum. Dulu ketika saya masih kecil acap diajak oleh kakek saya pergi berdagang. Kakek saya pedagang yang ulet namun sekeras itu dia berusaha mendapatkan rezeki Allah namun harta berlebih tak kunjung dia dapat. Kadang usahanya mulai bangkit namun entah kenapa ada saja penyebab hingga usahanya bangkrut. Kakek saya tak pernah sungkan bila harus memulai dari nol. Walau dia harus berdagang kaki lima dengan modal ala kadarnya. Wajahnya tetap cerah. Semangatnya tetap menyala nyala. Tak pernah sedikitpun dia mengeluh dengan keadaannya dan juga tak pernah terdengar sedikitpun dia menyalahkan orang lain yang membuat dia bangkrut. Pernah kakek kena penyakit paru paru yang akut. Badannya mulai kurus dan kalau batuk sampai mengeluarkan darah tapi tak nampak sedikitpun diwajahnya resah atau mengeluh karena penyakitnya. Tak pernah. Tak berharta, penyakit datang, kakek tetaplah pribadi yang tegar.

Ketika saya SMA,saya sempat tanyakan hal ini kepada kakek, dan ini tak pernah hilang dari ingatan saya. Kakek berkata kepada saya bahwa selemah lemahnya manusia bila dia berkeluh kesah. Dan lebih lemah lagi apabila dengan keadaannya yang tak susuai dengan keinginannya dia mulai menyalahkan siapapun. Bila sakit mendera, kadang dia minta agar ajalnya segera dijemput oleh Allah. Bila usahanya tak pernah kunjung berhasil maka dia bersegera mengentikan langkahnya. Manusia seperti ini sangat lemah dan teramat lamah. Mereka harus disayangi. Bila mereka datang padamu berkeluh kesah , ingatkan kepada mereka makna sabar agar mereka sadar untuk menjadi manusia kuat. Mengapa begitu ? karena memang sudah fitrah manusia yang gemar berkeluh kesah ini. Ingatlah firman Allah. Sesungguhynya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan (keuntungan) ia amat kikir. (QS. Al-Ma’aarij:19-21).

Lantas bagaimana agar hidup tidak berkeluh kesah dan tampil menjadi manusia yang kuat ? yang pertama adalah bersikaplah sabar. Makna sabar dalam hal ini sebagai ujud keimanan kepada Allah bahwa segala sesuatu itu datang dari Allah dan tidak ada yang sia sia. Tentu Allah lebih tahu mengapa usaha belum berhasil. Tentu Allah lebih tahu mengapa penyakit datang dan tak sembuh sembuh. Kesabaran kita menerima itu adalah puncak keimanan kita yang tak pernah henti berprasangka baik kepada Allah. Bahwa Allah selalu berniat baik dibalik prahara yang menimpa kita. Dengan keimanan dalam bentuk sabar maka akan melahirkan kesadaran pada diri kita bahwa pada akhirnya kita hidup hanyalah menjalankan scenario Allah. Untuk sampai pada titik puncak keimanan tak tertandingi yaitu Ikhlas.

Yang kedua adalah Istiqamah. Ditanamkan didalam kalbu dan dilaksanakan dalam langkah dan perbuatan bahwa keimanan kita tak akan goyah untuk hanya mencari ridho Allah. Biarkan baik dan buruk bersanding. Biarkan badai dan gelombang datang silih berganti. Biarkan orang lain menghina kita. Biarkan orang lain mengucilkan kita. Biarkan semua terjadi. Asalkan kehadiran Allah tak pernah surut didalam kalbu. Langkah tetap diayunkan. Sehingga gelombag akan menjadi ayunan yang mentramkan. Badai akan menjadi irama kehidupan. Kegagalan dirasa bagaikan bait bait cinta Allah. Penyakit datang , terasa bisikan cinta dari Allah. Kita tak tergoyahkan oleh situasi dan kondisi apapun. Karena pada akhirnya kehidupan ini bukanlah apa yang kita dapat tapi apa yang kita berikan kepada Allah , yang memang kita tidak berhak apapun terhadap kehidupan ini kecuali Allah. Ketika Allah meminta sabar kepada kita maka pada waktu bersamaan Allah akan memberikan rasa syukur.

Hanya dua syarat itulah yang membuat kita kokoh. Kata kakek saya. Namun kedua hal itu mungkin mudah dipahami. Mudah. Tapi menjadi sebuah keyakinan dan dilaksanakan, tidaklah mudah. Bagaimana agar mudah ? Al Quran ada solusinya " Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Al Baqarah [2] : 45). Sholat adalah bentuk dialogh agung antara manusia dengan Ciptaanya. Bentuk tali kasih yang tak bertepi antara makhluk dengan Allah. Pada sholat itulah getaran keimanan mengalir kedalam tubuh kita dan merasuk kedalam jiwa kita untuk kita menjadi sabar dan sadar. Tentu pula tak akan pernah terdengar berkeluh kesah menyalahkan nasip dan orang lain, apalagi berhenti melangkah melewati proses sunatullah mengasah keimanan untuk mencapai kesempurnaan. 
***
Nasehat kakek saya itu sampai kini menjadi pencerah saya ditengah kehidupan yang kadang tak bersahabat antara keinginan dan kebutuhan.

No comments:

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...