Sunday, April 01, 2012

Free to choose


Milton Friedman tahu précis bagaimana melahirkan pemikiran yang langsung menjadi kitab mulia terbaik diplanet bumi, dipuja oleh orang. Karena dia memberikan analogi précis seperti iblis meyakinkan Adam untuk memakan buah terlarang. Konsep free to choose memang ampuh membuat manusia lupa penciptanya. Kalau Kitab Mulia yang diturunkan oleh Allah melalui para Nabi masih banyak diperdebatkan tafsirnya, hingga menimbulkan berbagai mahzab namun Free to choose menjadi inpirasi para intelektual sekular untuk sepakat dalam isme baru itu. Para orang  pinter terdidik di kampus terbaik di AS, merasa sangat bangga untuk menyebut diri mereka sebagai creator dunia baru. Mereka tampil sebagai pencerah para pemimpin di lima benua. Advice mereka menjadi sami’na waatakna bagi Budiono ketika dia menjadi Menteri Keuangan untuk mengganti LOI IMF dalam bentuk Structure Adjustment Program (SAP). Dengan demikian, program penghapusan subsidi, privatisasi layananan publik harus terlaksana secara efektif. Target SAP semua itu harus selesai pada tahun 2015. Negara harus keluar dari fungsi sosialnya melindungi rakyat yang lemah dari kekuatan pasar.

Milton Friedman, memang dikenal seorang orator yang baik dan negosiator yang handal. Ketika China membuka diri di Era Deng, Friedman tampil memukau dihadapan elite yang kelak menjadi mentor dan creator  tampilnya china sebagai kekuatan ekonomi nomor dua didunia. Pada China , Friedman berhasil mengiring Negara komunis yang otoriter , kaku, sok paling benar , menjadi emansipasif terhadap rakyat yang berjumlah diatas 1 miliar itu. Mungkin china suka akan Friedman dalam kerangka teoritis bagaimana membangun emansipasi aktif rakyat dalam berproduksi tapi tidak menjadikan free to choose sebagai isme Negara. Yang pasti disatu sisi Free to chose memang berhasil memberikan inspirasi bagi elite partai komunis bagaimana membangkitkan potensi terpendam rakyat China untuk menjadi locomotive pertumbuhan ekonomi lewat produksi dan pasar. Untuk itu Friedman, boleh berbangga sebagaimana bangganya sebagai peraih hadiah nobel bidang ekonomi science.

Tapi tidak begitu yang dialami Eropa, dan para Negara follower Friedman. Bahkan juga di AS dimana Friedman dibesarkan dan berkiprah bak celebratis dipanggung kampus terbaik. Kebebasan pasar yang tak boleh disentuh oleh Negara, telah membuat AS, Eropa dan lainnya meradang dalam berbagai krisis ekonomi. Namun tak ada satupun para ekonom berani menyalahkan Friedman. Mereka mulai berdalih dengan berbagai tesis yang tetap membenarkan Friedman. George Soros menyebut Friedman sebagai bapak  fundamentalisme pasar; Paul Krugman menamakannya absolutisme laissez faire. Namun Amartya Sen dalam tulisannya di The New York Review of Books bertanggal 26 Maret 2009 tak memberi nama apa pun. Tapi ia menyebut kesalahan Friedman yang tak bisa dengan jelas membedakan keniscayaan (necessity) pasar dari keserbacukupan (sufficiency) pasar. Sen, berani berbeda pendapat karena dia melihat pasar tak selalu ada bandrol dan di etalage.

Bagi Sen, di tiap pasar selalu ada yang bukan-pasar dan itu dibutuhkan. Sen menunjukkan bahwa para penerus Adam Smith, pemikir yang sering disebut sebagai bapak paham kapitalisme itu, telah keliru bukan karena sang bapak salah. Mereka keliru karena Smith, dalam bukunya yang pertama, The Theory of Moral Sentiment, bukan orang yang menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith, sebagaimana dikutip Sen, juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan. Dan itu adalah sifat-sifat yang tak menentang Pasar. Mereka justru diperlukan Pasar agar berjalan beres. Sebagaimana dicatat oleh sejarah, menurut Sen, kapitalisme tak muncul sebelum ada sistem hukum dan praktek ekonomi yang menjaga hak milik dan memungkinkan berjalannya perekonomian yang berdasarkan kepemilikan.

Albert Hirschman mengatakan hal itu dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discours: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Kepercayaan runtuh, orang ramai kembali datang ke Lembaga Negara , bahwa tidak ada free of choose tanpa kearifan!.

Benar bahwa keberadaan institutional bernama Negara tidak sepenuhnya bisa mengendalikan prinsip moral itu tapi bukan berarti Negara dan rakyat terpisah. Ada perekat antara Negara disana dan rakyat disini. Yaitu agama. Makanya kebutuhan agama dalam  lembaga Negara sangat penting untuk mengatur apa yang tersembunyi dalam diri manusia , agar fitrah manusia yang free to choose bisa diarahkan kepada kebenaran, kebaikan dan keadilan…Ya dalam bahasa romantis bahwa agama berkata, Negara memakai. Sami’na waatakna hanya kepada Agama, karena disitulah Allah bertitah untuk cinta dan kasih sayang , untuk lahirnya kesejahteraan bagi semua, ya kan Pak Budiono...

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...