Saturday, July 16, 2011

Rasa Aman

Kemarin saya bertemu dengan teman. Sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu. Terakhir saya tahu dia terkena AIDS – HIV. Virus mematikan dan merupakan musuh dunia modern nomor satu. Tapi ketika saya bertemu kemarin, dia nampak sehat dan bahkan wajahnya lebih bersih , lebih fresh. Dia sehat?. Saya tak ingin bertanya soal penyakitnya dulu. Cukuplah saya senang bahwa dia sehat. Namun , dia sendiri bercerita kepada saya prihal penyakitnya. Menurutnya, ketika vonis AIDS-HIV itu jatuh kepada dirinya maka yang dia lakukan adalah mempersiakan diri dengan sebaik baiknya untuk mati. Dia tidak punya lagi target hebat seperti orang kebanyakan. Hidupnya dijalani dengan sedemikian rupa tidak membuat dia stress. Pengelolaan pabrik diserahkan kepada istri dan iparnya. Sementara dia memilih pekerjaan yang menyenangkan dirinya. Keluarganyapun dapat menerimana itu.

Walau keluarga ingin agar dia dirawat oleh rumah sakit terbaik namun dia menolak. Dia ingin menjadikan AIDS – HIV itu sebagai anggota keluarga baru dalam tubuhnya. Ini berkah dari Tuhan, katanya. Berkah ? ya karena lewat virus ini dia bisa berdialogh setiap hari dengan Tuhan. Bukankah dialogh terbaik terjadi apabila kita sangat dekat dengan Tuhan. Apakah ada yang paling dekat dengan Tuhan kecuali diambang kematian yang pasti itu. Demikian alasannya. Lantas apa yang dia kerjakan. ? Setelah mencoba melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti mencintai Piano, mendengar live music dipusat hiburan terbaik , berwisata ketempat tempat termashur didunia, dia belum merasakan kepuasan penuh. Dia masih gelisah dan kosong ditengah penantian akan kematian akibat Virus HIV itu. Dia bertanya dan mencari sebuah bentuk kebahagiaan di sisa sisa umurnya.

Ketika dalam perjalanan di Bangkok, dia bertemu dengan seseorang gadis, pelajar asal Australia yang kehilangan dompet dan passport. Gadis itu dalam kebingungan di Bandara. Didorong rasa kasihan , dia membantu gadis itu mengurus kehilangan passport pengganti di Kedutaan dan sekaligus memberi uang untuk ticket pulang. Sebulan setelah itu, ada surat dari keluarga gadis itu sampai dirumahnya. Ketika usai membanca surat itu, dia merasakan sesuatu yang luar biasa mengalir hangat didalam tubuhnya. Dia merasa lahir kembali dalam damai menyelimuti bahtera hatinya. Mengapa ? dalam surat itu orang tua gadis itu bertutur “ ketika putri saya dekat, saya merasa sayalah pelindung putri saya. Tapi ketika dia jauh dari saya, lantas siapakah pelindungnya ? Ternyata bukan kita sebagai pelindung siapapun. Kita hanyalah perantara saja. Pelindung sebenarnya adalah Tuhan. Dia ada dimana saja dan kapan saja. Termasuk pada diri anda untuk memberikan sepatah cinta kepada putri saya. Bersyukurlah bila kita menyadari ini karena menghayati ini adalah kunci kedamaian dan kebahagiaan”

Sejak itulah dia semakin mencari cara bagaimana bisa menolong orang lain. Dia ingin menjadi wakil Tuhan untuk menebarkan cinta kepada siapapun di bumi ini. Setiap dia berbuat baik ada jutaan atom kebahagiaan meliputi hatinya. Dia tercerahkan dalam damai akibat dari social spiritualnya namun belum sepenuhnya menemukan kesejatian dalam rasa aman. Dia masih belum merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Hanya dia tahu Tuhan membayangi setiap social spiritualnya. Dia ingin lebih dari itu. Tapi bagaimana ?

Nampak oleh saya airmatanya berlinang. Ya, lanjutnya. Kebahagiaan itu ada pada saat kita merasa aman dari segala masalah. Rasa aman itu harta tak terbilang didunia ini. Semua orang berusaha mencari keluar tapi tak pernah menemukannya. Sama halnya dengan apa yang sudah dia lakukan dengan banyak pergi ketempat yang indah, melakukan yang dikira menyenangkan , banyak social spiritual namun tetap tidak bisa merasakan kebahagiaan. Karena tidak ada rasa aman. Dia terdiam sebentar. Saya memberikan kesempatan untuk dia menghela nafas. Seperti ada desakan hebat didalam hatinya untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih , sesuatu yang berasal dari lurung hati terdalamnya. Benar, Tuhan ada pada diri kita. Benar Tuhan menjaga kita siang dan malam. Benar Tuhan berdialogh dengan kita disetiap waktu dan kesempatan. Tapi bagaimana membenamkan keyakinan ini hingga mendapatkan rasa aman bagi diri kita. Itulah masalahnya. Dia harus mencari sumber bisikan itu. Dia harus menenukan pelindung sejatinya. Tuhan ada untuk dia dan tugasnyalah menemukannya. Katanya.

Agama menyediakan jawaban itu. Juga menyediakan jalan menemukan Tuhan. Dia berusaha mengexplore semua agama, semua jalan yang ditawarkan. Namun hanya satu jalan yang membuat akal dan hatinya berdamai untuk menerima, yaitu Islam. Diapun memeluk agama islam. Demikian katanya. Kini saya yang terharu. Oh, ternyata begitulah rahasia Allah, Penyakit yang dikirim tapi nikmat hidayah yang diterimanya. Taubah yang dijemputnya. Subhanallah. Kemudian dia melanjutkan. Dia mendalami islam. Dia menemukan hakikat islam. Ternyata ,menurutnya, Jalan manusia itu sudah ditentukan dengan pasti ketika ruh manusia akan ditiupkan kedalam jasad” Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172).

Dalam diri manusia ada Ruh yang telah bersaksi Tiada Tuhan selain Allah. Maka dalam diri kita ada secuil ruhNYA “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”. (Q.S. 38:72). Inilah hakikat hubungan antara kita dengan Tuhan. Katanya. Ruh selalu menyuarakan kebaikan. Selalu menyuarakan kedamian sebagaimana sifat Allah yang maha pengasih lagi penyayang. Namun walau sebegitu dekatnya antara kita denganNya, walau sebegitu seringnya Ruh berdialogh dengan kita, masalahnya adalah apakah kita peduli dengan ruh itu dan mau mendengarnya? Itulah yang membuat manusia itu tidak pernah menemukan kedamaian manakala dia menjauh dari Agama. Katanya. Saya terpukau dengan ulasan teman ini. Karena hanya lewat agamalah kita mendapat rahasia kehadiran Tuhan pada diri kita. Allah mengirim rasul kedunia tak lain tak bukan adalah memberikan kabar gembira kepada manusia tentang jalan pulang kepada kesejatian sebagai sebaik baiknya makhluk ciptaan Allah. Sebuah reminder system yang maha agung.

Ketika dia menemukan Tuhan dalam dirinya. Rasa damail meliputi hatinya. Dia ikhlas dengan semua yang terjadi. Berjalannya waktu, penyakit yang mematikan itu sembuh dengan sendirinya tanpa pernah dia datang kedokter atau kerumah sakit untuk perawatan medis. Benarlah , bila manusia sudah menyatu dengan Allah, maka segala organ jasadnya termasuk mikro kosmos berupa virus, bakteri yang merupakan bagian dari jaringan DNA , bertasbih kepada Allah dan tentu hanya melaksanakan perintah Allah, dan Allah cinta kepada orang yang dekat kepadaNYA,. Maka apapun yang meliputi raganya tentu akan bergerak untuk menjadi sebaik baiknya fungsi yang menyehatkan dan mendamaikan, sehat lahir batin. Itulah harta yang tak ternilai melebihi segala apa yang ada didunia sebagai buah iman dan taqwa. Katanya dengan tesenyum, Subhanallah.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...