Thursday, July 21, 2011

Pak Karim...

“ Dihadapan Allah kita tidak bisa menimpakan kesalahan kepada ulama bila ternyata fatwa yang dikeluarkan ulama itu salah. Kita bertanggung jawab atas sikap kita sendiri dan tidak bisa orang lain dilibatkan. Manusia memiliki kebebasan dan bertanggung jawab atas setiap pilihannya” itulah prinsip yang diajarkan oleh Pak Karim kepada saya. Dia guru spiritual saya. Yang membuat saya tak bosan mendengar pituahnya yang selalu berdasarkan Al Quran dan Hadith. Bila saya bertanya tentang satu masalah , dia dengan tanggap membuka kitab mulia. Lembaran kitab mulia itu dibukanya dengan cepat untuk sampai kepada jawaban atas pertanyaan saya. Diapun akan membaca ayat ayat Al Quran dan sedikit ulasan dalam hadith yang berhubungan dengan firman Allah itu. Kemudian , dia serahkan kepada saya untuk bersikap. Kalau saya desak , mengapa Allah berfirman seperti itu. Dia tidak mau menjawab. Itu urusan Allah, katanya.

Mengapa ? menurutnya satu ayat firman Allah di dalam Al Quran melebihi segala pengetahuan yang ada pada manusia. Ilmu pengetahuan manusia hanyalah setetes air ditengah samudera Ilmu Allah. Itulah sebabnya terlalu sombong bila manusia menganggap pintar dengan pengetahuannya. Puncak dari ilmu bukanlah sains tapi keimanan kepada Allah, ya sebuah kesadaran bahwa manusia tidak berarti apapun tanpa Allah, yang akan membuat manusia senantiasa rendah hati dihadapan Allah. Demikian wejanngan Pak Karim kepada saya. Inilah yang membuat saya tak pernah berprasangka buruk terhadap situasi yang ada disekitar saya. Mengapa umat islam terbelakang dibandingkan umat lain?. Saya berusaha menghindar tentang kajian budaya, filsafat, sosiolog tentang jawaban atas pertanyaan itu. Sama halnya mengapa Nabi Yunus selalu kalah dalam undian diatas kapal yang akhirnya dia orang terpilih untuk dikorbankan agar kapal selamat dari karam dan akhirnya ditelan ikan Paus.

Menurut Pak Karim, ketika itu rahasia kekalahan Nabi Yunus dalam undian diatas kapal itu belumlah dibuka oleh Allah. Di era Nabi Muhammad barulah itu dibuka sebagaimana surah Annisaa' (4) ayat 163, Al-An'aam (6) ayat 86, Yunus (10) ayat 98, Al-Anbiyaa (21) ayat 87-88, dan Alshaafaat (37) ayat 139-148. Butuh berabad abad akhirnya tabir itu terbuka. Tapi ketika itu Nabi Yunus menerimanya dengan ikhlas sambil berzikir “Laa ilaha illa Anta, Subhanaka inni kuntu min al-zhalimin (Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim) “ sebagai ujud puncak keimanan kepada Allah , yang tak pernah berprasangka buruk kepada Allah atas segala peristiwa yang datang, walau itu sangat pahit dan menyakitkan. Kasihnya Allah kepada umat Muhammad , berbagai rahasia kebijakan Allah di masa masa nabi sebelunya disingkap dalam kitab mulia sebagai cara agar kita menggunakan akal kita untuk mencapai puncak keimanan kepada Allah. Singkatnya kehebatan telaah teologis, sains yang kita miliki belum cukup untuk sebagai sandaran beriman kepada Allah. Maka iman adalah iman , yang hanya bisa dipahami oleh hati , dan ini hidayah Allah, rahmat Allah.

Demikianlah sedikit tentang perkenalan saya dengan Pak Karim. Kini dia telah tiada. Telah berlaku takdir untuknya pada tanggal 20 Juli 2011,jam 11.30, kembali dalam dekapan rabb nya. Terakhir saya bertemu dengan beliau tiga minggu lalu di Surabaya. Dialogh dalam untaian nasehat kepada saya , masih terngiang ngiang ditelinga saya. Rasa hormat saya kepadanya bukanlah karena dia pejabat politik, jutawan tapi kerendahan hatinya , yang hidupnya telah diwakafkan kepada Allah. Betapa tidak? Dia ekonom lulusan German. Berkarir di luar negeri lebih dari 10 tahun dan hinggap dilebih 10 negara maju. Namun perjalanan hidupnya mengajarkannya untuk kembali pulang ke Indonesia. Mungkin dia merasa bernasip sama dengan Nabi Yunus yang lari dari umatnya yang ingkar. Ketika dia pulang, dia tak mengejar jabatan bergengsi sebagai professional di Partai atau di Perusahaan. Dia memilih untuk dekat kepada umat yang lemah. Beberapa panti Asuhan di bangun dan dikelolanya dengan segala keterbatasannya, dan akhirnya berkembang. Diapun membangun jaringan kesehatan ala Nabi yang menggabungkan pengobatan yang diajarkan sunnah dan pendekatan keimanan.

Apa yang saya tahu tentang Pak Karim, betapa banyak cita citanya untuk umat islam, yang membuat dia tak pernah berpikir soal apapun ketika dimintai tolong. Betapa banyak obsesinya untuk tegaknya kalamullah dibumi ini, yang tak pernah membuatnya lelah bila dimintai nasehat tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan, Betapa banyak cintanya kepada kaum duapa, yang tak pernah membuatnya lelah menggerakan semua potensi untuk berbuat dan berkoban. Kini semuanya telah dia lewati dengan segala keterbatasnya sebagai manusia untuk akhirnya berhenti dan selesai. Selamat Jalan Pak Karim. Ya Allah, ampunilah seluruh dosa dan kesalahannya dengan mendapatkan tempat sebaik baiknya disisi mu, ,ya Allah. Amin, ya Allah.

No comments:

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...