Friday, November 26, 2010

Bambang Widjojanto?

Sang istri nampak resah ketika suaminya mulai dibicarakan banyak orang , yang akan memimpin lembaga pembrantasan korupsi ( KPK) di republik ini. Sang istri Dewi berkata sebagaimana dituturkan oleh tukang ojek suaminya ” Sebenarnya aku enggak mau kehilangan kebiasaan dia sehari-hari . Dia aktif di masjid, kalau dia di rumah shalat di masjid. Aku enggak mau kehilangan kebiasaan suamiku kalau di tempat baru nanti,". Sang Istri mengkawatirkan tugas berat kelak suaminya akan menghilangkan kebiasaannya dekat dengan mesjid. Dia lebih bahagia dengan keadaan suaminya yang cinta masjid. Subhanallah. Sang suami adalah Bambang Widjojanto yang dikenal luas sebagai pembela kaum lemah yang pernah memimpin LBH.

Saya tak pernah bertemu dengan Bambang Widjojanto. Namun dari sahabat saya yang kebetulan tetangga dengan dia di Depok ,yang acap sholat berjamaah dengannya, sedikit banyak tahulah saya tentang pribadi Bambang yang selalu rendah hati dan dekat dengan siapapun terutama dengan tetangganya. Apabila orang itu akrab dengan mesjid tentu orang itu dekat dengan Allah. Tentu pula dekat dengan umat terdekatnya. Bambang hidup sederhana dilingkungan komunal dipinggiran kota Jakarta. Andaikan dia ingin hidup senang sebagaimana gaya hidup para pengacara di republik ini tentu tak sulit. Dia dikenal luas oleh publik. Pengalamannya memimpin LBH tentu membuat dia punya akses luas dikalangan aparat hukum. Tapi tidak menjadikannya akrab secara batin dengan aparat hukum untuk mendapatkan keadilan dengan cara kotor dan hidup dari lendir suap para pencari keadilan.

Setiap orang dekat dengan Allah dan terdidik dengan baik, maka janganlah terkejut bila orang itu tak pernah takut tampil digaris depan untuk meninggikan kalimat Allah melalui keilmuannya. Tak pernah takut untuk menjadi imam. Itulah Bambang yang bertekad untuk menjadi ketua KPK. Dia ikutin semua procedure administri dalam proses seleksi menjadi ketua KPK. Dia berhasil menyingkirkan puluhan ahli hukum yang sebagian besar hidup bergelimang dengan harta dan ketenaran. Ketika namanya disebut sebagai calon Ketua, kita merasakan ada harapan, ada angin segar bertiup dibalik rimbun kekuasaan yang angker itu. Rakyat kecil yang pernah dibelanya ketika di LBH tentu lebih bisa merasakan harapan itu. Kitapun berhati satu bahwa Bambang akan diterima dengan tangan terbuka oleh anggota dewan yang akan memberikan keputusan untuk lahirnya keadilan bagi semua, untuk menegakan kehormatan sebagai bangsa yang menegakkan hukum.

Tapi, apa hendak dikata. Takdir berlaku lain bagi Bambang. Dia memang dekat dengan masjid dan disukai oleh orang terdekat dia, yang selalu terjaga akhlaknya oleh Allah dengan memberinya istri yang tak silau harta dunia., namun DPR yang kita cintai , yang kita pilih dengan segala suka cita tak berkenan dengan sosok intelektual yang rendah hati itu. DPR lebih suka memilih pimpinan KPK yang memang berasal dari lingkungan birokrasi yang akrap dan kenal lahir batin dengan wajah birokrasi negeri ini. Dia adalah Busyro Muqoddas. Presiden SBY pun langsung memberikan dukungan penuh kepada Ketua KPK terlipih itu. Kitapun harus menghela nafas panjang. Usai sudah impian Bambang untuk memimpin KPK sebagai cara mengabdikan umurnya bagi kejayaan hukum di negeri ini yang berpihak kepada rakyat dan Allah.

Sekali lagi , kita saksikan betapa mesin birokrasi dengan fuel elite poltik sangat perkasa untuk menghalau segala niat baik di negeri ini untuk memastikan kekuasaan adalah berkah untuk hidup senang dari sistem yang jauh dari Allah. Politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul berkata ” Saya bilang, kalau milih Bambang, petinggi-petinggi partai itu bisa kena semuanya memang. Kan (Bambang) berani kali itu orangnya”. Kegagalan Bambang adalah cara Allah berdialogh kepada Bambang , dan juga kepada kita semua yang berharap korupsi dibrantas, bahwa tidak selamanya yang kita harap akan bersua sesuai dengan kenyataan. Niat baik Bambang telah dicatat oleh Allah sebagai ibadah dan tentu Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi Bambang. Segala kebobrokan yang ada dikalangan elite merupakan lahan ibadah yang tak terhingga bagi kita semua untuk menguji keimanan kita, untuk menguji kesabaran kita beragama , sebagaimana Allah menyediakan Iblis untuk menguji aqidah kita agar sempurna ketika kembali kepada Allah.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...