Friday, March 12, 2010

Supersemar

Anda tidak bisa membayangkan kini , bila rakyat biasa dengan wajah dingin menyembelih kaum komunis secara massal. Darah menganak sungai dibumi pertiwi. Sebuah sikap politik yang tidak santun, mungkin. Balas dendam politik. Provokasi politik. Itulah yang terjadi ketika paska G30S PKI. Kekuatan Soeharto dibawah Supersemar, telah mengawal rakyat melakukan pembalasan politik secara sadis kepada pengikut politik Komunis. Hanya karena sebuah provokosi sistematis tentang PKI anti agama, maka sudah cukup menjadikan chaos dan menghalalkan darah. Lantas siapakah yang benar ketika itu ? Umat Islam bangga sebagai pengawal Tauhid tapi tidak pernah menyadari perjuangan Tauhid itu mau dibawa kemana ? Bagaimanapun pentas politik bau amis darah telah terjadi...

Komunis usai ditumpas habis sampai keakar akarnya. Yang selamat dari pancungan rakyat , dijebloskan kedalam penjara dan sebagian diasingkan , ada juga keluarganya diisolasi dari kehidupan sosial dan politik. Menangkah kita ? Siapa yang menang ? Yang kita tahu setelah komunis tumbang, yang muncul adalah orde baru dengan pemikiran mafia Barcley. Kita masuk dalam dunia kapitalisme. Antara komunisme dan kapitalisme adalah ibarat kakak beradik. Dua duanya mempunyai ciri khas imperialime , internationalisme, penguasaan resource dan menindas yang lemah. Komunis , kekuasaan pada partai dan kapitalisme , penguasaan pada pemodal. Dua duanya menjadikan negara sebagai alat untuk lahirnya kekuasaan Partai atau Modal. Kini , barulah kita sadari bahwa kita salah dan kita kalah.

PKI berkembang dan dikuti oleh rakyat karena membela kaum tertindas. Kapitalisme didukung oleh cerdik pandai karena cara cerdas menciptakan kemakmuran. Dua duanya punya tujuan yang sama. Diera kini kapitalisme mendapat tempat dalam rumah negara, kita menyadari semua hal yang berhubungan dengan sendi kehidupan kita harus dibayar dengan mahal. Semua berbicara tentang laba dan derivative value. Agama tetap dalam cerita lama yang ditempatkan dipojok untuk dilupakan. Tak jauh beda dengan PKI yang melarang agama dalam kehidupan bernegara. Kenyataannya dua duanya menimbulkan paradox dan akhirnya ketidak adilan tetap terjadi. PKI dengan dikomandani oleh Aidit mungkin salah dalam menterjemahkan Komunisme untuk Indonesia. Karena dia hanya membaca dari sudut Komunis. Kini kita juga salah menterjemahkan kapitalisme untuk Indonesia karena kita hanya membaca literatur tentang kapitalisme.

Tak ada sesungguhnya idealisme yang bisa diterapkan dimuka bumi ini selagi kepentingan golongan atau individu ditempatkan diatas segala galanya. Islam sudah memberikan jalan yang benar untuk mengatur kehidupan ini. Semua hal yang berkaitan dengan cara mengelola keseharian kita dalam bermasyarakat , bernegara telah diajarkan oleh Allah melalui Al quran. Rasul telah memberikan contoh sebagai seorang buruh (pengembala) , seorang pedagang, seorang sahabat, seorang ayah, seorang ulama, seorang pemimpin perang, seorang President kepada kita semua. Rasul bagaikan cetak biru manusia untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dengan menempatkan Akhlak Agung. Sebetulnya tidak sulit bila kita termasuk orang yang berakal.

Saatnya umat Islam menyadari hakikat dirinya. Hakikat rahmatan lilalamin.Jangan lagi mudah di provokasi oleh politisi. Apapun yang mereka usung dengan berbagai benderanya, tetap saja mereka bicara atas nama golongannya. Tetap saja pada akhirnya mereka membela kelompoknya. Yakinlah, hakikat Islam tidak akan pernah politisi terima selagi nafsu berkuasa begitu besar dalam diri mereka. Jangan tergoda dengan segala jargon politik yang membawa agama. Jangan ada lagi , darah tumpah karena provokasi politik untuk menjadikan umat islam sebagai mesin pembunuh untuk kepentingan politik tertentu.

Supersemar, G30 PKI adalah cerita suram bangsa dan kita ngeri melihat kebelakang betapa bodohnya kita sebagai umat. Kini kitapun masih merasakan itu namun tak berdaya untuk berbuat kecuali diam sambil berdoa. Sementara setiap hari budaya brengsek yang dibawa oleh media kapitalisme menggiring anak anak kita kejalan lain hingga lupa “jalan pulang “ ...Ini tantangan bagi umat akhir zaman. Perkuat aqidah, akhlak dan tebarkan semangat cinta kasih sayang kepada lingkungan terdekat. Insya Allah suatu saat akan lahir pemimpin yang dirahmati Allah...Insya Allah.

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...