Wednesday, October 10, 2007

Mudik

Tidak pernah terbayangkan bila budaya mudik lebaran ini dapat terjadi dinegera lain. Apa yang kita lihat adalah suatu peristiwa yang sulit dicerna dalam kacamata individualisme . Dimana jutaan orang bergerak serentak meniggalkan kota tempat mereka mengadu nasip untuk kembali kekampung halamannya. Kampung dimana mereka dilahirkan. Kampung dimana menyimpan banyak nostalgia. Dimanapun mereka bermigrasi ,entah didalam negeri maupun luar negeri untuk mengadu nasip, selalu mereka bertekad untuk harus kembali pulang kempung halaman menjelang lebaran. Walau untuk kegiatan ini , mereka harus menyisihkan sebagian pengdapatan harian/bulanannya hanya untuk bekal kembali kekampung halamannya ketika lebaran datang. Andai ada survey tentang jumlah dana yang mengalir kedaerah akibat budaya mudik ini, tentu kita akan mengetahui betapa dahsyat kekuatan financial komunitas Islam ini dalam menciptakan capital flow ke daerah.

Mereka adalah komunitas yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia dan mempunyai latar belakang berbeda namun mereka bergerak serentak tanpa ada yang mengomandoi kecuali oleh satu keyakinan agama dan penguatan paham budaya tentang silahturahmi terhadap sesame keluarga, kerabat dan handai tolan. Di hari yang fitri ini, kekuatan komunitas umat islam menunjukan kepada dunia bahwa mereka adalah komunitas yang teroganisir dengan baik walau tanpa peraturan, komando apapun. Biaya yang tidak sedikit, tenaga berlelahan didalam perjalanan dan waktu tempuh yang lama mereka abaikan untuk hanya dan hanya ingin mempertautkan kembali silahturahmi yang lama hampir setahun terputus.

Itulah komunitas Islam yang sesungguhnya , yang didalamnya terdapat rahmat Allah yang menanamkan rasa cinta kasih sayang kepada sesama. Mereka mampu mengorganisir dirinya sendiri dengan baik untuk satu tujuan yang mulia. Fakta membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa ini didapat berkat kekuatan komunitas islam yang berbaris rapat dengan gagah berani ketika berhadapan dengan penjajah asing. Padahal mereka bukanlah militer terlatih untuk disandingkan dengan keuatan militer penjajah. Tapi ruh islam sebagai rahmatanlilalamin membuat mereka menjadi kumpulan manusia yang terorganisir dengan baik. Ba lebah mereka ikhlas berkorban tanpa berharap balasan apapun.

Lantas mengapa kini kenyataannya komunitas Islam yang 80% di Indonesia tidak mampu membuat bangsa ini besar dan makmur. Mengapa semua pemimpin yang beragama muslim di negeri ini gagal memanfaatkan kekuatan komunitas islam ? Padahal mengelola komunitas islam tidaklah membutuhkan konsep management modern atau juklak yang ruwet. Jawabannya ternyata terletak pada system yang membuat komunitas Islam itu hidup dalam atmosfir yang membuat mereka gagal menjadi rahmatan lilalamin. System kita begitu mengagungkan nasionalisme, demokratisasi, neoliberalisme dan mengabaikan peran agama sebagai komando menggiring komunitas Islam dalam satu barisan yang kuat. Agama sebagai spirit hanya hidup dalam ruang kotbah dan ritual agama. Namun terpinggirkan dalam system pengelolaan berbangsa dan bernegara.

Aturan hukum dibidang sosial, ekonomi , budaya, politik di create berdasarkan spirit sekular yang diambil dari pemahaman sosialis kapitalis yang mengharamkan keihlasan kecuali laba atau kepentingan golongan/pribadi adalah segala galanya. Lambat namun pasti system ini mengikis semangat kebersamaan , gotong royong, senasip sepenanggungan yang merupakan ruh dari islam sebagai rahmatan lilalamin. Sampai kini kita masih terus percaya bahwa system yang bukan Islam lah satu satunya yang akan membuat kita makmur dan menjadi bangsa yang besar. Entah sampai kapan ini akan terus berlangsung dan entah sampai berapa korban dari system ini yang menyebabkan kemiskinan , ketidak adilan terus ditanggung oleh komunitas islam yang notabene adalah populasi terbesar di negeri ini.

Yang pasti budaya mudik adalah sepotong budaya Islami ala Indonesia yang masih tersisa di negeri ini. Mungkinkan besok budaya ini juga akan terkikis dalam ruang sosial budaya komunitas Islam dinegeri ini ? Entahlah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Taqobballahu minna wa minkum Taqobbal ya karim

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...