Sunday, October 23, 2005

KEMISKINAN..

Allah berkata kepada manusia, inilah kataNya. “ Allah telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu minta (butuhkan dan inginkan). Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat aniaya lagi sangat kufur." (QS Ibrahim [14]: 13). Kalau kita perhatikan firman Allah ini ,jelaslah bahwa makhluk manusia itu sudah diberi segala galanya untuk bisa survive. Lantas mengapa ada yang miskin dan adapula yang kaya ? Mengapa ada yang beruntung dan tidak beruntung. Lantas dimanakah keadilan Allah? . Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh teman bila sedang berdiskusi soal keagamaan. Bagi saya, firman Allah itu sudah cukup jelas. Bahwa Allah bersifat Adil. Dia memberi sama kepada semua manusia. Hanya situasi dan kondisi yang diciptakan manusialah yang membuat perbedaan terjadi.Membuat kelas terbentuk.

Memang setiap manusia itu punya takaran berbeda. Istilah miskin dan kaya hanya didasarkan kepada materi, tentu tidak benar. Karena kadar orang dengan latar belakang pendidikan dan budaya , ikut mempengaruhi persepsi tentang kekayaan dan kemiskinan itu sendiri. Banyak orang hidup bergelimang harta namun miskin waktu untuk privasi. Banyak orang miskin harta namun kaya waktu untuk privasi. Cobalah renungkan, Berapa jam sehari anda bisa bahagia tanpa beban apapun ? saya yakin kalau anda hidup sebagai orang kota dengan kesibukan bisnis, kerja yang berkompetisi , rasanya sangat jarang sekali anda merasa bahagia. Walau anda tinggal dirumah mewah dan kendaraan bermerek. Tapi pikiran anda tidak pada kemewahan itu. Pikiran anda pada tempat lain yang kadang meresahkan anda. Membuat anda tertekan diatas kemewahan harta itu. Artinya belum tentu anda kaya secara materi lebih bahagia dibandingkan orang miskin yang tak memiliki kemewahan itu.

Saya rasa yang dipersoalkan adalah kemiskinan sehingga orang tidak punya kesempatan untuk mencari nafkah. Sementara yang lain menikmati kemudahan menumpuk harta. Harus ada sistem yang menjamin orang tidak kelaparan . Inilah yang harus diperbaiki. Soal jumlah harta itu sifatnya relatif. Islam sudah pnnya standard yang jelas bagaimana terciptanya masyarakat bebas dari kelaparan. Yaitu melalui zakat. Disamping itu bagi penguasa, harus memikirkan bagaimana mengemban amanah hingga mampu menciptakan sistem yang memungkinkan orang mampu mencari nafkah dengan mudah. Harus ada upaya sistematis membuat pendapatan minimal dapat memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Pada mereka itulah Allah menitipkan keadilanNya untuk tercipta kehidupan penuh kasih sayang. Bila penguasa tak peduli soal ini, maka itu sama saja mereka berperang degan Allah.

Bagi orang kebanyakan, budaya lemah kemauan untuk bersyariat harus dikikis habis dalam dirinya. Ini penyakit budaya membuat orang terjajah dan lemah bersaing. Juga lemah beribadah kepada Allah. Tak bisa hidup hanya dengan terus berdoa tanpa iktiar mengikuti sunatullah. Kalau percaya dengan Allah, jangan hanya berdoa tapi juga turuti sunattulah , yaitu bekerja giat agar nikmat yang Allah titipkan berupa akal, panca indra dapat berfungsi dengan baik dalam meniti hidup yang fana ini. Ingatlah Allah berfirman "Apabila telah selesai shalat (Jumat), bertebaranlah di bumi dan carilah fadl (kelebihan) dari Allah." (QS Al-Jumu'ah [62]: 10). Benarlah, antara sholat (berdoa ) dengan kerja keras seiring sejalan. Allah menjamin makan semua makhluk tapi Allah tidak pernah mengirim makanan kesangkar burung, ya kan.

Rezeki itu ditebarkan Allah dimuka bumi untuk siapa saja yang mampu berbuat dan berilmu. Lihatlah China, rakyatnya dapat keluar dari kubangan kemiskinan setelah terpuruk selama revolusi kebudayaan dengan korban kelaparan lebih dari 25 jota orang mati. Tapi, ketika mereka merubah gaya kepemimpinannya, merubah budayanya maka rakyat bangkit bagaikan lebah pekerja mencari nafkah. Yang kaya bertambah namun yang kelaparan tak ada lagi, walau kemiskinan masih terdapat dibanyak tempat. Lagi lagi, soal miskin atau kaya dalam ukuran materi bukanlah ukuran kemakmuran yang hakiki. Tapi bagaimana hidup damai dilingkungan yang saling cinta kasih , mencari nafkah yang mudah dan penguasa yang cinta kepada rakyat. Itulah yang menjamin nikmat Allah akan menimbulkan rasa syukur.

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...