Sunday, October 16, 2005

Akal dan nafsu

Seorang teman dengan enteng menyimpulkan bahwa orang berbeda paham dengannya adalah kafir. Dengan nada marah dia menegaskan bahwa ketidak adilan terjadi karena orang kafir yang berkuasa dan dia membenarkan tindakan jihad terhadap orang kafir itu. " Halal darah mereka "katanya dengan nada geram. Saya hanya tersenyum. Menurut saya orang menjadi kafir karena memperturutkan hawa nafsu. Apakah kemauan nafsu itu ? rasa sombong merasa paling benar dan paling terhormat. Ya seperti kaum Qurais ketika awal di seru oleh rasul tentang Islam. Mungkin soal Ketuhanan bukanlah hal yang baru bagi penduduk Makkah dan tidak begitu dipersoalkan ketika Muhammad datang membawa risalah Islam. Tapi yang langsung ditentang ketika Muhammad berbicara tentang kesamaan hak manusia. Rasul menentang segala bentuk penindasan manusia terhadap manusia. Utamanya perbudakan. Karena bagi penduduk Arab dan juga bagi budaya dunia ketika itu, perbudakan adalah sesuatu yang lumrah. Manusia lemah biasa diperbudak dan bisa diperdagangankan dengan harga. Rasul menyerukan juga sayangi hamba sahaya kalian, hormati istri kalian, hiduplah damai dalam kasih sayang, hentikan perang antar suku, jangan curang dalam berdagang. Yang di tentang itu berkaitan dengan nafsu dan kaum Qurais memang hidup di masa jahiliah yang memperturutkan hawa nafsunya.

Perumpamaan orang yang menuruti hawa nafsunya seperti anjing, dihalau atau tidak tetap mengulurkan lidahnya lari terengah-engah (Al A'raf 7/176) "Sekiranya Kami berkehendak menjadikan semua kaum kafir Quraisy beriman, niscaya mereka Kami jadikan mau mengikuti Al Quran. Akan tetapi, kaum kafir Quraisy lebih menyukai kesenangan dunia dan mengikuti hawa nafsunya, laksana seekor anjing. Jika anjing itu kamu kejar, ia lari terengah-engah, dan jika kamu membiarkannya, ia juga terengah-engah. Begitulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan Al Quran. Kemudian dalam QS. Al Maidah 5/48 “ Wahai Muhammad, Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu, yang berisikan kebenaran dan mengakui sebagian kebenaran Taurat dan Injil, serta mengoreksi penyimpangan yang dilakukan para pendeta mereka terhadap Taurat dan Injil. Wahai Muhammad, karena itu hukumlah kaum Yahudi dan Nasrani sesuai syari’at Allah yang diturunkan kepadamu. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu manusia setelah Al Quran datang kepadamu. Wahai para Nabi, setiap orang dari kalian telah Kami beri syari’at dan petunjuk penerapannya. Sekiranya Allah berkehendak menghilangkan hawa nafsu manusia, niscaya semua manusia dijadikan mengikuti Islam. Wahai manusia, akan tetapi Allah ingin menguji ketaatan kalian kepada syari’at yang telah diberikan kepada kalian.Karena itu hendaklah kalian segera melakukan amal shalih. Hanya kepada Allah lah kalian semua kembali. Pada hari kiamat Allah akan menampakkan kepada kalian kebenaran Islam yang kalian perselisihkan di dunia."

Ketahuilah bahwa andaikan manusia tidak dikuasai oleh nafsunya maka manusia akan mudah sekali menerima kebenaran dari Allah. Karena di kuasai nafsu maka manusia mudah sekali ingkar dan sesat. Siapapun dia maka dia telah kafir karena memperturutkan nafsunya. Kalau kita merendahkan orang lain yang berbeda dengan amarah dan kebencian maka yakinlah bahwa yang berbicara itu bukanlah kita tapi nafsu kita. Sebelum kita cap orang lain kafir maka kita telah lebih dulu kafir. Jadi kalau melihat orang berbeda dan cenderung memperturukan hawa nafsunya maka ajaklah ia dengan kebaikan, kalau bisa buktikan dengan keteladanan bagaimana pribadi islam itu sebenarnya dalam keseharian anda. Tapi kalau anda mengangkat tinggi tinggi Al Quran dengan tangan kanan tapi di tangan kiri anda mengangkat hawa nafsu kesombongan dan amarah maka sebetulnya ada telah kafir , bahkan lebih buruk dari kafir alias sesat. Maka sebaiknya rendah hatilah. Perbedaan akan selalu ada. Orang jahat yang menjadi budak nafsu akan selalu ada.  Tapi semua itu adalah scenario Allah agar kita keimanan kita teruji. Karena kalau Allah berkehendak maka bisa saja nafsu di musnahkan dan semua orang akan menjadi baik. Tapi kan kehidupan tidak seperti itu.

Lantas bagaimana mengelola nafsu ? Sebaiknya kita ketahui dulu apa itu nafsu. Nafsu itu terletak di dalam QOLBU. Diterangkan dalam hadist diriwayatkan oleh Muslim, Nabi bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu”". Qolbu dalam bahasa arab artinya jantung. Menurut Imam Al-ghozali, perenungan itu dilakukan mulai dari qolbu yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui pemikiran (al-fikri) dalam otak kepala. Dalam jantung, ada syaraf-syaraf yang bersambung ke otak. Otak sendiri ada dua bagian, yaitu otak kanan yang disebut EQ, tempat syaraf emosional, seperti marah, sedih, senang, takut, dll. Disinilah yang menghubungkan dengan nafsu yang berpusat di jantung. Yang kedua yaitu otak kiri yang menghubungkan syaraf memory, kecerdasan, berfikir, daya ingat, rasional, yang disebut IQ pusat intelegensi, di sinilah pusat akal yang berhubungan dengan syaraf di jantung. Jantung bukan sekedar pemompa energy yang berupa darah menuju ke otak, sebab jantung adalah pusat segala energy yang ada, detakan jantung itu tidaklah bekerja otomatis, tapi di kendalikan oleh Sang Maha Pengendali. Saat manusia menforsir daya otak kiri-nya, maka jantung bereaksi, begitu juga jika perasaan cinta, benci, senang, sedih, di otak kanan bangkit, maka akan bereaksi pada jantung.

Namun didalam Qalbu di samping ada nafsu juga ada kamar khusus untuk yang bernama Akal. Imam ghozali berpendapat dengan dasar ayat alqur’an di atas, bahwa ilmu itu bukan di otak, tapi di dalam qolbu, penglihatan itu bukan pada mata, tapi di dalam qolbu, pendengaran itu bukan pada telinga, tapi di dalam qolbu, pembicaraan itu bukan pada mulut, tapi di jantung qolbu haqiqotun. Otak, mata, telinga, mulut, itu hanyalah peralatan yang berupa raga yang dikendalikan oleh akal  dan nafsu yang terletak dalam QOLBU.  Mengendalikan nafsu haruslah dengan akal, dan akal di kendalikan karena pengetahuan. Sumber pengetahuan itu adalah Agama. BIla ber-agama tanpa mengenal Allah maka antara Akal dan nafsu akan saling tarik menarik yang menimbulkan paradox kehidupan; Menangis ditempat sepi , menumpang tawa di tempat ramai , miskin ditengah harta berlimpah dan tidak bahagia ketika seharusnya bahagia. Kaya ilmu agama tapi miskin ke shalehan social. Akan selalu begitu..Waspadalah kepada sifat kafir yang lebih memperturutkan hawa nafsu dan berjihad lah terhadap diri anda sendiri agar bisa mengalahkan nafsu.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...