Tuesday, January 20, 2015

Tan Malaka...

SAYA bisa bayangkan pagi hari 17 Agustus 1945 itu, di halaman sebuah rumah di Jalan Pegangsaan, Jakarta: menjelang pukul 09:00, semua yang hadir tahu, mereka akan melakukan sesuatu yang luar biasa. Hari itu memang ada yang menerobos dan ada yang runtuh. Yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik; Hindia Belanda sudah tak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikannya baru saja kalah. Yang ambruk sebuah wacana.Sebuah wacana adalah sebuah bangunan perumusan. Tapi yang berfungsi di sini bukan sekadar bahasa dan lambang. Sebuah wacana dibangun dan ditopang kekuasaan, dan sebaliknya membangun serta menopang kekuasaan itu. Ia mencengkeram. Kita takluk dan bahkan takzim kepadanya. Sebelum 17 Agustus 1945, ia membuat ribuan manusia tak mampu menyebut diri dengan suara penuh, ”kami, bangsa Indonesia”–apalagi sebuah ”kami” yang bisa ”menyatakan kemerdekaan”. Agustus itu memang sebuah revolusi, jika revolusi, seperti kata Bung Karno, adalah ”menjebol dan membangun”. Wacana kolonial yang menguasai penghuni wilayah yang disebut ”Hindia Belanda” jebol, berantakan. Dan ”kami, bangsa Indonesia” kian menegaskan diri. Sebulan kemudian, 19 September 1945, dari pelbagai penjuru orang mara berduyun menghendaki satu rapat akbar untuk menegaskan ”kemerdekaan” mereka, ”Indonesia” mereka. Bahkan penguasa militer Jepang tak berdaya menahan pernyataan politik orang ramai di Lapangan Ikada itu. Dua tahun kemudian, meletus pertempuran yang nekat, sengit, dan penuh korban, ketika ratusan pemuda melawan kekuatan militer Belanda yang hendak membuat negeri ini ”Hindia Belanda” kembali.

Dari medan perang itu Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Di Tepi Kali Bekasi: sebuah revolusi besar sedang terjadi, ”revolusi jiwa—dari jiwa jajahan dan hamba menjadi jiwa merdeka….”. Walhasil, sebuah subyek (”jiwa merdeka”) lahir. Agaknya itulah makna dari mereka yang gugur, terbaring, tinggal jadi ”tulang yang berserakan, antara Krawang dan Bekasi”, seperti disebut dalam sajak Chairil Anwar yang semua kita hafal. Subyek lahir sebagai sebuah laku yang ”sekali berarti/sudah itu mati”, untuk memakai kata-kata Chairil lagi dari sajak yang lain. Sebab subyek dalam revolusi adalah sebuah tindakan heroik, bukan seorang hero. Dalam hal ini Tan Malaka benar: ”Revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa.” Tan Malaka menulis kalimat itu dalam Aksi Massa yang terbit pada 1926. Dua puluh tahun kemudian memang terbukti bahwa, seperti dikatakannya pula, ”Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.” Itulah Revolusi Agustus.  Tapi kemudian tampak betapa tak mudahnya memisahkan perbuatan yang heroik dari sang X yang berbuat, yang terkadang disambut sebagai ”hero” atau ”pelopor”. Sebab tiap revolusi digerakkan oleh sebuah atau sederet pilihan + keputusan, dan tiap keputusan selalu diambil oleh satu orang atau lebih. Dan ketika revolusi hendak jadi perubahan yang berkelanjutan, ia butuh ditentukan oleh satu agenda. Ia juga akan dibentuk oleh satu pusat yang mengarahkan proses untuk melaksanakan agenda itu.

Sekitar seperempat abad setelah 1945, Bung Karno, yang ingin menegaskan bahwa Revolusi Agustus ”belum selesai”, mengutarakan sebuah rumus. Ia sebut ”Re-So-Pim”: Revolusi-Sosialisme-Pimpinan. Bagi Bung Karno, revolusi Indonesia mesti punya arah, punya ”teori”, yakni sosialisme, dan arah itu ditentukan oleh pimpinan, yakni ”Pemimpin Besar Revolusi”. Tan Malaka tak punya rumus seperti itu. Tapi ia tetap seorang Marxis-Leninis yang yakin akan perlunya ”satu partai yang revolusioner”, yang bila berhubungan baik dengan rakyat banyak akan punya peran ”pimpinan”.  Bahwa ia percaya kepada revolusi yang ”timbul dengan sendirinya”, hasil dari ”berbagai keadaan”, menunjukkan bagaimana ia, seperti hampir tiap Marxis-Leninis, berada di antara dua sisi dialektika: di satu sisi,  perlunya ”teori” atau ”kesadaran” tentang revolusi sosialis; di sisi lain, perlunya (dalam kata-kata Tan Malaka) ”pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia”.  Di situ, ada ambiguitas. Tapi ambiguitas itu agaknya selalu menghantui agenda perubahan yang radikal ke arah pembebasan Indonesia.  Tak begitu jelas, apa yang dikerjakan Tan Malaka pada Agustus 1945. Yang bisa d ikuti adalah yang terjadi sejak proklamasi kemerdekaan bergaung. 

Beberapa pekan setelah 17 Agustus 1945, di Serang, wilayah Banten, Tan Malaka bertemu dengan Sjahrir. Mungkin itulah buat pertama kalinya tokoh kiri radikal di bawah tanah itu berembug dengan sang tokoh sosial demokrat. Tan Malaka dan Sjahrir secara ideologis berseberangan; seperti halnya tiap Marxis-Leninis, Tan Malaka menganggap seorang sosial-demokrat sejenis Yudas. Tapi seperti dituturkan kembali oleh Abu Bakar Lubis —orang yang menyatakan pernah dapat perintah Presiden Soekarno untuk menangkap Tan Malaka—dalam pertemuan di Serang itu Tan Malaka mengajak Sjahrir untuk bersama-sama menyingkirkan Soekarno sebagai pemimpin revolusi. Menurut cerita yang diperoleh A.B. Lubis pula, Sjahrir menjawab: jika Tan Malaka bisa menunjukkan pengaruhnya sebesar 5 persen saja dari pengaruh Soekarno di kalangan rakyat, Sjahrir akan ikut bersekutu.  Ada sikap meremehkan dalam kata-kata Sjahrir itu. Konon ia juga menasihati agar Tan Malaka berkeliling Jawa untuk melihat keadaan lebih dulu sebelum ambil sikap. Jika benar penuturan A.B. Lubis (saya baca dalam versi Inggris, dalam jurnal Indonesia, April 1992), pertemuan di Serang itu lebih berupa sebuah perselisihan: sang ”radikal” tak cocok dengan sang ”pragmatis”. Tan Malaka tampaknya hendak menjalankan tesis Trotsky tentang ”revolusi terus-menerus”. Bagi Trotsky, di sebuah negeri seperti Rusia dan Indonesia—yang tak punya kelas borjuasi yang kuat—revolusi sosialis harus berlangsung tanpa jeda. Trotsky tak setuju dengan teori bahwa dalam masyarakat seperti Rusia dan Indonesia revolusi berlangsung dalam dua tahap: pertama, tahap ”borjuis” dan ”demokratis”; kedua, baru setelah itu, ”tahap sosialis”.

Bagi Trotsky, di negeri yang ”setengah-feodal dan setengah-kolonial”, kaum borjuis terlampau lemah untuk menyelesaikan agenda revolusi tahap pertama: membangun demokrasi, mereformasi pemilikan tanah, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Maka kaum proletarlah yang harus melaksanakan revolusi itu. Begitu tercapai tujuannya, kelas buruh melanjutkan revolusi tahap kedua, ”tahap sosialis”.  Ini tentu sebuah pandangan yang terlampau radikal—bahkan bagi Rusia pada tahun 1920-an, di suatu masa ketika Lenin terpaksa harus melonggarkan kendali Negara atas kegiatan ekonomi, dan kelas borjuis muncul bersama pertumbuhan yang lebih pesat. Di Indonesia agenda Trotskyis itu bisa seperti garis yang setia kepada gairah 1945. Dilihat dari sini, niat Tan Malaka tak salah: ia, yang melihat dirinya wakil proletariat, harus menggantikan Soekarno, wakil kelas borjuis yang lemah.  Tapi Sjahrir, sang ”pragmatis”, juga benar: pengaruh Tan Malaka di kalangan rakyat tak sebanding dengan pengaruh Bung Karno. Dunia memang alot. Di sini ”pragmatisme” Sjahrir (yang juga seorang Marxis), sebenarnya tak jauh dari tesis Tan Malaka sendiri. Kita ingat tesis pengarang Madilog ini: revolusi lahir karena ”berbagai keadaan”, bukan karena adanya pemimpin dengan ”otak yang luar biasa”.  Tapi haruskah seorang revolusioner hanya mengikuti ”berbagai keadaan” di luar dirinya? György Lukács, pemikir Marxis yang oleh Partai Komunis pernah dianggap menyeleweng itu, membela dirinya dalam sebuah risalah yang dalam versi Jerman disebut Chvostismus und Dialektik, dan baru diterbitkan di Hungaria pada 1996, setelah 70 tahun dipendam. Dari sana kita tahu, Lukács pada dasarnya dengan setia mengikuti Lenin. Ia mengecam ”chvostismus”. Kata ini pernah dipakai Lenin untuk menunjukkan salahnya mereka yang hanya ”mengekor” keadaan obyektif untuk menggerakkan revolusi. Bagi Lenin dan bagi Lukács, revolusi harus punya komponen subyektif.

Tentu, ada baku pengaruh antara dunia subyektif dan dunia obyektif; ada interaksi antara niat dan kesadaran seorang revolusioner dan ”berbagai keadaan” di luar dirinya. Tapi, kata Lukács, di saat krisis, kesadaran revolusioner itulah yang memberi arah. Penubuhannya adalah Partai Komunis. Tapi seberapa bebaskah ”kesadaran revolusioner” itu dari wacana yang dibangun Partai itu sendiri? Saktikah Partai Komunis hingga bisa jadi subyek yang tanpa cela, sesosok hero? Ternyata, sejarah Indonesia menunjukkan PKI juga punya batas. Partai ini harus mengakui kenyataan bahwa ia hidup di tengah ”lautan borjuis kecil”. Agar revolusi menang, ia harus bekerja sama dengan partai yang mewakili ”borjuis kecil” itu. Ia tak akan berangan-angan seperti Tan Malaka yang hendak merebut kepemimpinan Bung Karno. Di bawah Aidit, PKI bahkan akhirnya meletakkan diri di bawah wibawa Presiden itu.  Pada 1965 terbukti strategi ini gagal. PKI begitu besar tapi kehilangan kemandirian dan militansinya. Ia tak melawan pada saat yang menentukan, tatkala militer dan partai ”borjuasi kecil” yang selama ini jadi sekutunya menghantamnya. PKI terbawa patuh mengikuti jalan Bung Karno, sang Pemimpin Besar Revolusi, yang mementingkan persatuan nasional.  Terkurung di bawah wacana ”persatuan nasional”, agenda radikal tersisih dan sunyi. Terutama dari sebuah Partai yang mewakili sebuah minoritas—yakni proletariat di sebuah negeri yang tak punya mayoritas kaum buruh.

Tan Malaka sendiri mencoba mengelakkan ketersisihan itu dengan tak hendak mengikuti garis Moskow, ketika pada 1922 ia menganjurkan perlunya Partai Komunis menerima kaum ”Pan-Islamis”—yang bagi kaum komunis adalah bagian dari ”borjuasi”—guna mengalahkan imperialisme. Tapi ia juga akhirnya sendirian. Sang radikal, yang ingin mengubah dunia tanpa jeda tanpa kompromi, bergerak antara tampak dan tidak. Ia muncul menghilang bagaikan titisan dewa. Sejak Agustus 1945, Tan Malaka adalah makhluk legenda. Sebuah legenda memang memikat. Tapi dalam pembebasan mereka yang terhina dan lapar, sang pahlawan sebaiknya mati. Revolusi tak pernah sama dengan dongeng yang sempurna.@GM

Friday, January 09, 2015

Teror di Francis...

Prancis, di pertengahan Oktober 1989, tiga potong kain kepala mengguncang republik itu. Kepala Sekolah Collège de Creil di Osie memutuskan untuk mengeluarkan tiga gadis yang memakai jilbab dari sekolah. Para guru mendukung keputusan itu. Bagi mereka, yang hendak dipertahankan adalah ide tentang ”Prancis”, yang lahir sejak Revolusi 1789, persis 200 tahun sebelum insiden kerudung itu—yakni sebuah Prancis yang sekuler, yang menganggap pemisahan agama dari wilayah publik merupakan pembebasan, yang juga menghendaki persatuan dan kesatuan yang kuat, sehingga perbedaan budaya harus dilarutkan dalam asimilasi. ”Sekolah ini Prancis,” ujar si kepala sekolah, ”Ia terletak di Kota Creil, dan sifatnya sekuler. Kita tak akan membiarkan diri kita direcoki soal-soal agama.”  Bagi para aktivis yang memperjuangkan persamaan hak antara kelompok dalam masyarakat, tindakan kepala sekolah itu diwarnai keras oleh sikap melecehkan minoritas Islam di Prancis. Bagi kalangan agama, tindakan si kepala sekolah merupakan contoh semangat sekularisme yang militan dan sewenang-wenang. Kardinal Lustiger, Uskup Agung Paris, berseru: ”Janganlah kita berperang melawan anak-anak itu!” Juru bicara Federasi Protestan juga mengatakan: ”Kalangan Protestan menganggap tak ada alasan untuk melarang jilbab di sekolah,” dan ia memperingatkan agar Prancis bangun dari mimpinya untuk memerangi agama. Tokoh rohaniwan Yahudi Kota Paris bicara lebih tegas lagi bahwa ”mereka yang melarang anak-anak muslim memakai jilbab itu...menampakkan tidak adanya toleransi di kalangan mereka.”

Mengapa tokoh non muslim membela Islam di Prancis yang dikenal sangat sekular? Karena kalangan umat islam seperti  da’i, ilmuwan, sastrawan, seniman muslim berusaha menampilkan wajah rahmatan lil ‘alamin Islam, mulai dari kesantunan, intelektualitas, produktivitas, dan keterbukaan mengajarkan Islam dengan semua cara yang elegan. Mereka berusaha menciptakan atmosir damai ditengah Islamophobia yang sangat kental di Prancis. Ini tidak mudah. Karena pada waktu bersamaan bermunculan berbagai golongan Islam yang menampakan wajah vulgar permusuhan dengan non muslim. Cara mereka bersikap menakutkan, cara mereka berpikir penuh permusuhan dan dari itu semua, mereka menawarkan posisi perang kepada siapapun yang berbeda. Namun perjuangan puluhan tahun dengan pesan damai itu, hasilnya masyarakat Prancis mulai merasakan kehangatan kehadiran muslim yang jauh berbeda dengan stigma yang mereka punya sebelumnya. Sekolah-sekolah SD hingga SMA muslim mulai bermunculan dan terbukti meraih banyak prestasi dan menunjukan kepada warga asli Prancis bahwa anak-anak muslim tidak berbeda dengan semua anak kulit putih eropa dalam kemampuan pendidikan. Universitas dan lembaga-lembaga kajian muslim bermunculan dan memjawab kebutuhan masyarakat muslim dan Perancis. Even-event akbar diadakan, seperti Rencontre annuelle des musulmans de France dan sangat terbuka mengundang non-muslim berpartispasi. Perjuangan puluhan tahun mereka yang ikhlas dan dalam kesabaran melakukan syiar islam  di Francis hancur begitu saja ketika terdi aksi teror di kantor majalah Prancis, Charlie Hebdo di Paris yang menewaskan 14 orang , termasuk 2 polisi,  

Dampak kejahatan ini sangat signifikan dan sangat berhasil menghancurkan citra Islam cinta damai. Diprediksi fenomena islamofobia setelah aksi terror ini akan kembali bangkit di seluruh Perancis. Dan dampaknya akan sangat terasa khususnya oleh muslimah dan oleh anak-anak muslim. Ruang gerak mereka akan lebih sempit kedepan, seperti dipersulit, dicemooh, dilecehkan, dll. Apalagi beberapa media-media mainstream memanfaatkan isu ini seperti menyoroti dengan sengaja kaitan ‘membela nabi dan pembunuhan’. Saya yakin mereka yang melakukan aksi terror itu bukanlah Islam tapi musuh senyata nyatanya islam. Mereka musuh Islam yang bersembunyi dibalik dalil dan simbol Al Quran dan Hadith. Mereka bersorban, berjanggut, fasih berhasa Arab, dan hafal AL Quran namun mereka menebarkan kebenciaan , kemarahan, dendam, hujatan dengan mudah mengkafirkan orang lain, ekslusif, paranoid. Padahal upaya yang terbukti efektif melakukan syiar islam adalah melalui akhlak mulia dan Nabi telah mentelandankan betapa agung akhlaknya sehingga bisa merubah mental kaum Arab yang jahiliah menjadi berakhlak Al Quran. Islam tidak dibesarkan oleh retorika, kehebatan pidato diatas panggung tapi oleh akhlak cinta dan kasih sayang para pengikutnya. Ikuti sunah rasul , tentu harus ikuti akhlaknya.

Walau ISIS yang terus mengibarkan bendera teror dan menumpahkan darah kebumi dan aksi teror di mana mana membawa rasa takut, dan juga segala retorika kebencian kepada pihak tidak seiman, namun saya yakin citra Islam yang cinta damai tidak akan rusak asalkan siapapun kita harus punya kepedulian untu terus berjuang dengan keteladanan akhlak mulia. Yang penting. "Dont tell them that Islam is the best but show them that Islam is the best. Dengan demikian akan banyak pengikut agama lain yang bisa kita yakinkan bahwa Islam bukan ancaman dan mereka akan membela Islam dengan akal sehat. Seperti ungkapan teman saya di Ausi paska penyanderaan café yang dilakukan ISIS, dia bilang" tidak ada alasan yang bisa diterima demi agama orang mengancam dan akhirnya membunuh. Islam yang saya kenal adalah kamu sebagai sehabat saya, dan menyenangkan...

Wednesday, January 07, 2015

Jalan pengabdian

Jonan ketika dia sampai dipuncak karirnya sebagia TOP executive Citibank , dia memilih mundur dan mewakafkan hidupnya untuk negara. Dia bekerja di PT.KA , gajinya hanya 10% dari gajinya di CItibank tapi karena itu PT.KA sukses. Kini dia jadi Menteri gajinya hanya 20% dari gajinya di Citibank dan dia akan menjadikan Insfrastutkur transfortasi Indonesia berkelas dunia. Ridwan Kamil sebelum menjadi walikota ,honornya sudah 6 digit sebagai arsitek kelas dunia. Jabatannya sebagai walikota tidak membuat income nya bertambah malah defisit. Tapi pengabdiannya sebagai walikota Bandung menghasilkan prestasi lebih baik dibandingkan walikota sebelumnya.Ibu Susi, sebelum jad Menteri Kelautan adalah pengusaha sukses dibidang perikanan dan penerbangan. Walau gaji menteri  hanya 5% dari gajinya sebagai CEO kelompok usahanya namun dia tidak menolak untuk diangkat sebagai menteri. Mengapa? Jokowi tidak memberikan janji gaji dan fasilitas tapi Jokowi memberikan jalan baginya untuk melaksanakan visi dan misinya ujntuk berbuat sesuatu bagi nelayan pada khususnya dan negara pada umumnya. Liatlah prestasinya ketika menjabat Menteri. Jokowi sebelum jadi walikota Solo akhirnya jadi presiden adalah pedagang berkelas dunia yang punya outlet perdagangan dibeberapa negara. Mereka , Jonan, Ibu Susi, Ridwan Kamil, Jokowi, bukanlah tergolong konglomerat tapi mereka mapan secara materi. Karena itulah mereka tidak ragu untuk berbuat baik dan tidak mungkin bisa disuap.Mereka sudah selesai dengan dirinya.

Mereka pekerja keras sejak usia muda.Mereka kreatif dan mandiri. Pada usia relatif muda mereka sudah mapan. Pada usia produktif  bagi ukuran orang Indonesia karena belum masuk usia pension, mereka menentukan sikap untuk memilih jalur pengabdian lewat kepemimpinan di Pemerintahan. Ini merupakan langkah yang sangat ekstrim bagi ukuran manusia pada masa kini. Dimana orang berlomba lomba untuk mengejar kesenangan diri dan menumpuk harta. We should live and labor in our time that what came to us as seed may go to the next generation as blossom, and that what came to us as blossom may go to them as fruit. This is what we mean by progress. Demikian yang ditulis oleh Henry Ward Beecher dalam bukunya. Mungkin ini pula yang menggerakkan hati mereka untuk keluar dari kehidupan yang menjanjikan kemewahan kepada kehidupan yang lebih banyak menuntut pengorbanan. Mereka ingin membentuk masa depannya dengan lebih berarti. Setidaknya dengan kemampuan yang dimilikinya mereka bisa memberikan harapan kepada rakyat khusus yang duafa  bahwa masa depan bukanlah yang mengkawatirkan. Inilah salah satu berkah dari sistem demokrasi dimana orang baik akan mendapatkan ruang untuk berbuat dengan umur dan pontesinya, dan mereka membuktikan itu.

Sikap mereka tersebut mengingatkan saya tentang seoranag sahabat yang dalam satu kesempatan pernah mengungkapkan kepada saya bahwa masa depan tidak mencuatkan paralelisme antara ruang, jarak, dan waktu. Tentu masa depan bukan reproduksi kehidupan kelampauan dan ke-masa-mendatangan yang unpredictable. Bagaimanapun masa depan merupakan kausalitas perjalanan tentang substansi ''keberadaan'' (eksistensi) dan beraktualisasi tentang hidup itu sendiri. Pun rekonseptualisasi mengenai masa depan, tiadalah nilai kesejarahan hidup masa silam yang diterima. Sebagai masa depan, manusia dituntut -mengutip Dr Zhivagonya dalam novel Boris Pasternak- untuk membentuk kembali hidup. Itulah yang dilakukan oleh mereka yang meng “nol” kan dirinya untuk memulai sesuatu yang baru dalam dimensi baru. Sikap mereka seakan menegaskan tentang semangat juang untuk berbuat lebih untuk orang lain , yang mereka yakini sebagai wahana yang lebih bernilai dari apa yang sudah mereka capai. Memang bahwa manusia dilahirkan buat Hidup, bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup. Hidup senantiasa memperbarui, menciptakan kembali, mengubah, dan meningkatkan dirinya. mempertimbangkan masa depan adalah membentuk kembali hidup. Berdasarkan pertimbangan semacam itulah, permenungan masa depan dimulai agar tidak menghadapi kecemasan, dus merugi. Bukankah dalam rentang waktu, kehidupan manusia senantiasa merugi, ''Wal ashr. Innal insaana lafii khusrin.''

Bangsa Indonesia sebagai komunitas dunia , seharusnya memandang masa depan dengan mata hati dan bukannya mata gelap. Di tengah kepayahan yang menimpa bangsa ini akibat rezim masalalu diperlukan kearifan tersendiri untuk memandang masa depan. Setidaknya bagi mereka yang sudah terlalu kaya karena korupsi atau manipulasi tanpa tersentuh hukum untuk meng “nol” kan dirinya ; memulai sesuatu yang baru dan lebih bernilai. Agar masyarakat bangsa ini memandang masa depan bukan sebagai penantian waktu yang tak kunjung selesai. Tentu kita tidak ingin, maka waktu yang makin absurd seperti diperlihatkan tokoh Estragon dan Vladimir dalam lakon Menunggu Godot (Waiting for Godot) Samuel Beckett. Atau, masa depan bangsa ini seperti lentingan Bob Dylan dalam lagu ballada Blowing in the Wind: How many times must a man turn his head/and pretend that he just doesn't see/How many ears must one have/before he can hear people cry/How many deaths will it take till he knows/that too many people have died. Setidaknya dari sosok Jonan, Menteri Perhubungan, Susi,Menteri Kelautan, Ridwan Kamil, Walikota Bandung, Reza Pahlevi, Walikota Payakumbuh, Nurdin Abdoelah, Bupati Bantaeng, dan Jokowi kita punya hope...


Wednesday, December 31, 2014

Berbuat karena cinta.

Berbulan bulan korban bencana Gunung Sinabung di Sumatera Utara, tidak jelas statusnya. Mereka tinggal di barak pengungsian. Setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden, tidak lebih 1 bulan , masalah pengungsi dapat di identifikasi dengan jelas melalaui acara blusukan kelokasi. Jokowi memerintahkan Menteri Kehutanan memberikan status tanah hutan lindung sebagai tempat pemukiman bagi keluarga korban bencana dan memerintahkan ABRI untuk ambil bagian membangun perumahanya. Masalah selesai.  Tak lama setelah itu masalah Lapindo dapat di indentifikasi dengan akurat berdasarkan masukan dari semua sumber. Hasilnya , Jokowi mengambil keputusan untuk mengalokasikan dana pada APBN guna menalangi kewajiban Lapindo untuk membayar kekurangan  ganti untung tanah warga yang terkena lumpur. Masalah selesai. Sebelumnya masalah ini mengambang lebih dari 8 tahun dan dibiarkan menjadi polemik tak berkesudahan.  Masalah korban gunung Sinabung, Lumpur Lapindo, adalah bencana yang tidak ada satupun pihak menginginkannya namun pemerintah sebelumnya begitu lambatnya menyelesaikannya. Sehingga ditengah bencana, pejabat hanya berwacana namun masalah tidak pernah selesai. Seharusnya disaat bencana terjadi negara hadir memberikan total solusi sehingga mereka tidak perlu kehilangan harapan. Sebagaimana Jokowi buktikan, ketika bencana longsor di Banjarnegara, Jawa tengah, Jokowi langsung berada dilokasi dan memberikan arahan kepada petugas untuk melakukan apa saja agar korban dapat ditolong dan memastikan mereka masih punya harapan. Masalah selesai, dan tidak butuh berbulan bulan.

Ketika AirAsia hilang kontak , pada hari itu juga menteri Perhubungan membentuk crisis center sehingga memungkinkan segala sesuatu dapat dilakukan dengan cepat dan terkoordinir. Keesokannya Wapres langsung hadir di Crisis center dan sehari setelah itu Jokowi setibanya di Jakarta dari Kunjungan ke Papua, tidak banyak berkomentar tentang kecelakaan itu. Jokowi tidak menemui Keluarga korban atau mengucapkan rasa prihatin atau memberikan harapan palsu. Tapi dia langsung mendatangi markas BASARNAS dan memimpin rapat koordinasi semua kekuatan SAR yang ada. Pada hari itu juga sebetulnya Team SAR sudah dipimpin langsung oleh Presiden. Ini kali pertama terjadi dalam sejarah republik.Keesokan harinya Team SAR berhasil menemukan korban dan Presiden Jokowi langsung terbang ke lokasi di Pangkalan Bun melihat proses evakuasi badan pesawat dan jenazah dari pesawat Hercules, kemudian bertemu keluarga di pusat krisis Bandara Juanda untuk menyampaikan duka cita. The mission accomplished! Bisa dikatakan, ini operasi SAR yang paling transparan yang saya ketahui. Dimana Presiden dan Wapres terlibat langsung dalam operasi SAR. Penanganan pusat krisis yang profesional. Saya mengikuti secara seksama beragam krisis di negara lain, termasuk hilangnya dua pesawat Malaysia Airlines kode penerbangan MH370 dan MH17. Tidak bisa dibandingkan pola tragedinya. Tapi pola layanan dan informasi kepada publik dan keluarga tergolong sangat baik...Bravo Presiden Jokowi, SAR, TNI,POLRI.

Ada dua hal yang perlu kita catat dari sikap Jokowi  ini , Pertama kepeduliannya terhadap nyawa manusia dan nasip rakyat yang terkena korban tanpa memperhitungkan dana yang harus dikeluarkan. Kedua , karena itu dia melompati pagar tinggi birokrasi yang membuat dia berjarak dari rakyat. Dua hal tersebut bukanlah sikap yang mudah bagi seorang President yang disibukan dengan segala problema kenegaraan yang kompleks. Namun, Jokowi dengan kekuatan hatinya meyakinkan semua pihak yang berada dibawahnya untuk berbuat demi cinta. Rakyat butuh pemimpinnya disaat mereka tidak berdaya. Seteguk air diberikan dengan wajah senyum, harapanpun tercipta. Itulah yang ingin disampaikan Jokowi ketika dia harus hadir ditengah tengah rakyat yang terkena musibah. Tampilnya Jokowi menjadi Presiden Baru Indonesia telah menjadi sebuah fenomena. Walaupun fenomena itu bagi sebagian orang, setidaknya bagi mereka yang tidak menetapkan pilihannya pada Jokowi-JK, dan tergabung dalam KMP (Koalisi Merah Putih), dinilai sebagai “the engineered phenomenon” (fenomena yang direkayasa). Karena diyakini keberhasilan dan kepopulerannya muncul atas bluffing dari media. Namun apapun persepsi kubu penentang Jokowi terhadap kemunculan dirinya, yang pasti mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI ini, berhasil mengemas dirinya sebagai “Pemimpin Rakyat”.

Cap sebagai “Pemimpin Rakyat” yang menempel pada Jokowi, tidak hanya didasarkan pada gaya ‘blusukan’-nya dalam menjalankan roda pemerintahan, baik di Solo maupun Jakarta, tetapi keberaniannya dalam mengubah “kelaziman politik” dalam tata politik Indonesia. Dari caranya menyelesaikan masalah yang bersinggungan langsung dengan penderitaan rakyat adalah satu bukti bahwa dia tidak akan pernah berjarak dengan rakyat namun tetap mengedepankan akal sehat , bukan emosional. Rakyat juga harus dididik mandiri dengan semakin kecil ketergantungan mereka terhadap subsidi konsumsi. Negara harus mengupayakan segala cara agar mencari nafkah mudah dan rakyat mampu membeli kebutuhannya dengan harga berapapun. Walau untuk mencapai itu harus mengambil keputusan yang tidak populer namun demi rakyat, demi hari esok ,harus  ada yang berkorban dan negara akan meminimal korban itu melalui program KISehat, KISejahtera, KIP.

Monday, December 29, 2014

Al Gazhali..

Abu Hamid Muhammad Al –Ghazali, atau dikenal dengan nama Al Gazhali, adalah ulamat hebat dimasanya. Pada usia 20 tahu beliau sudah menguasai seluruh tafsir Al Quran dari berbagai kitab dan mengetahui hadith lebih banyak dari orang pada umumnya. Beliau dikenal sebagai ulama jenius. Pada masanya ada beberapa ulama mengembangkan teologi untuk bersaing degan kaum Muktazilah. Mahzab  Asy’ariyah, begitu namanya, bersikeras bahwa iman tidak akan pernah bisa didasarkan pada akal, hanya pada wahyu. Fungsi akal hanya untuk mendukung wahyu. Para teolog Asy’ariyah terus menerus menentang pemuka Muktazilah dalam debat publik, tetap muktazilah tahu trik orang Yunani untuk memenangkan argumen, seperti logika dan retorika, sehinga mereka terus saja membuat Asy’ariyah tampak bingung. Gazhali datang menyelamatkan mereka. Cara mengalahkan filsuf ; ia menyimpulkan adalah dengan bergabung bersama mereka dengan mendalami ilmu Fisafat dan kemudian menggunakan pengetahuan itu untuk melawan mereka. Untuk itu dia terjun dalam studi tentang filsafat Yunani,termasuk meguasai bahasa Yunani. Kemudian menulis sebuah buku tentang filsafat Yunani yang berjudul “ Maksud para Filsuf ( Maqashid al-Falasifah). Uraiannya tentang filsafat begitu jernih ,sangat luas, bahkan ahli filsafat khusus tentang aristoteles yang membaca bukunya berkata “ Ah sekarang akhirnya aku mengerti Aristoteles.

Kemudian Al Gazhali menulis kembali buku tentang Filsafat dan ini buku keduanya yang berjudul “Ketidaklogisan Para Filsuf “ ( Tahafut al-Falasifah ). Disini AL Gazhali mengindentifikasi dua puluh premis yang menjadi sandara Filsafat Yunani dan Greko-Islami, kemudian menggunakan  logika silogisme untuk membongkar masing masingnya. Argumen yang paling konsekuensial  adalah serangannya terhadap gagasan tentang hubungan sebab akibat antara fenomena material: kita berpikir api menyebabkan kapas terbakar, karena api selalu ada saat kapas terbakar.Kita keliru menyamakan kesinambungan sebagai kausalitas. Sebenarnya, Allah lah yang menyebabkan kapas itu terbakar,karena Dia adalah kausa pertama dan satu satunya dari segala sesuau. Api kebetulan berada disana.  Al Gazhali dengan sangat terpelajar mampu menyakinkan siapapun bahwa filsafat  Yunani itu keliru. Berapa Filsuf memukul balik. Ibn Rusyd ( Averroes) menulis balasan untuk buku Gazhali, tetapi itu tidak ada banyak gunanya;ketika kabut telah berlalu, Gazhali juga yang menang. Sejak itu, filsafat islam berbasis Yunani kehilangan tenaga dan minat kaum muslim dalam Ilmu pengetahuan sekularpun karam.  Gazhali meraih penghargaan luar biasa untuk karyanya. Ia diangkat menjadi kepala Universitas Nizamiyah yang prestisius di Bagdad. Kaum mapan ortodok mengakuinya sebagai otoritas keagamaan terkemuka.

Akan tetapi Al Gazhali mempunyai masalah ; dia adalah manusia religius yang autentik, dan entah bagaimana, ditengah semua status dan pujian itu, dia tahu dia tidak memilik harta yang sesungguhnya.Dia percaya pada wahyu, dia menghormati Nabi dan Kitab, dia setia kepada syariah, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah secara jelas- ketidakpuasan serupa yang telah melahirkan tasawuf. Gazhali tiba tiba mengalami krisis ruhani, mengundurkan diri dari semua jabatannya, membagi bagikan semua harta miliknya, meninggalkan semua teman temannya, dan pergi kepengasingan.  Ketika keluar dari sana beberapa bulan kemudian,dia menyatakan bahwa para ulama itu benar, tetapi para Sufi lebih benar lagi :Hukum adalah Hukum dan Anda harus mengikutinya,tetapi Anda tidak bisa mencapai Allah dengan mempelajari Kitab dan beramal baik semata. Anda perlu membuka hati, dan hanya para sufi yang tahu cara membuka hati. Karena itulah Gazhali menulis buku yang berjudul ‘Kimia Kebahagiaan “( Kimiyaat AL –Saadat) dan “ Kebangkitan Ilmu Agama ( Ihya Ulumiddin).  Dalam dua buku ini , dia menempa perpaduan antara teologi ortodoks dengan terekat, metode sufi untuk menyatu dengan Allah. Dia menciptakan sebuah tempat bagi mistissme dalam kerangka islam ortodoks dan dengan demikian membuat tasauf menjadi terhomat.

Apa yang bisa ditarik dari pelajaran tentang sosok seorang Al Gazhali? Dia tidak serta merta menyalahkan paham yang datang dari luar.Tidak serta merta beradu debat dengan orang yang berbeda paham sebelum dia memahami pemikiran orang itu cara utuh. Cara berpikirnya yang terbuka memungkinkan dia bisa mengosongkan dirinya untuk menerima pemikiran orang lain secara utuh. Setelah dia pahami dengan baik maka diapun bersikap berdasarkan pemahaman agama yang telah sangat dia kuasai. Sehingga argument nya tentang kebenaran Al Quran dan Hadith tidak membuat orang yang berbeda paham akhirnya marah tapi justru mencerahkan mereka untuk balajar dan mengerti. Itulah ciri ulama islam sebenarnya. Saat sekarang banyak orang mengaku hebat ilmu agamanya, yang dengan cepat mengatakan kapitalisme ,sosialisme, demokrasi dan lain sebagainya salah padahal mereka tidak pernah mempelajari hal yang dikatakanya salah itu secara utuh. Mungkin sebagian mereka hanya tahu tentang kapitalisme dari cover nya saja, sehingga tidak tahu bahwa jauh sebelum mereka bicara ekonomi syariah dalam dunia sekular sudah ada Venture Capital, factoring, trustee yang ekonomi tanpa Riba. Al Gazhali adalah inspirasi kita untuk bersikap bijak terhadap mereka yang berbeda namun piawai meyakinkan mereka untuk mengerti tanpa merendahkan mereka, apalagi terburu buru mengatakan orang lain kafir. Islam itu hebat dan bercahaya bila umatnya mampu berpikir terbuka tanpa kehilangan aqidah...

Saturday, December 20, 2014

Islam tentang , Selamat Natal ?

Sahabat saya dalam bisnis sebagian besar beragama Non Muslim. Mereka kebanyakan orang asing. Pada setiap hari besar Islam, mereka selalu mengucapkan selamat kepada saya. Begitu cara mereka menghormati persahabatan dengan saya. Sebaliknya setiap hari besar agama mereka , saya juga mengucapkan selamat. Ya, sebentar lagi ada hari keagamaan bagi umat kristiani yaitu Natal. Dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada 1 Jumaidil Awal 1401 atau 7 Maret 1981 itu, Buya Hamka menetapkan keputusan bahwa Natal bersama adalah haram hukumnya. Artinya haram apabila kita ikuti prosesi ibadah Natal di Gereja seperti misa , berdoa,  mendengar kotbah. Tapi kalau hanya mengucapkan Selamat Natal  atau hadir pada satu event diluar gereja yang tidak termasuk dalam prosesi ibadah Natal, itu tidak melanggar Fatwa MUI,dan Hamka pernah mengatakan dalam majalah Panjimas bahwa itu dibolehkan dengan alasan toleransi. Mengapa saya bersandar pada buya Hamka? Pertama, dia adalah ulama besar Indonesia dan pernah menjadi ketua MUI. Kedua, disamping ulama, beliau juga adalah politisi, tokoh Muhammdiah. Ketiga , dalam pohon keluaga besar, saya termasuk cucu beliau dari garis Ibu ( nenek ). Saya tahu percis bahwa Buya Hamka sangat toleran dengan orang yang berbeda agama.Argumentasi beliau mempertahankan aqidah sangat jelas tanpa membuat orang berbeda agama merasa tersinggung. Sikap beliau terhadap toleransi didasarkan pemahaman agama yang luas , yang ditulis dalam Tafsir Al Azhar.

Dalam Al-Baqarah 62: “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.”. Kemudian al-Maidah 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitujuga) orang Shabi’un, dan Nashara, barang sipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutanatas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.”.Bagaimana penafsiran Hamka atas kedua ayat ini ? “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. ‘Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung ayat 62), Tafsir Al Azhar halaman 211.  Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan (mansukh) oleh ayat 85  surat Ali ‘Imran yang artinya: “Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah  akan diterima dari padanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.”(Halaman  217).

Alasan Hamka bahwa   ayat 85  surat Ali ‘Imran tidak menghapuskan Al-Baqarah  ayat 62 itu sebagai berikut: “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.”(Halaman 217). “Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu da’wah senantiasa terbuka,dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi) dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.” (Halaman  217). Tentang neraka, Hamka bertutur: “Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh DziNuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran.” (Halaman  218).

Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Dalam kehidupan kita sekarang, kadang bila ada orang beragama lain yang begitu baik amalannya kita curigai dengan kefanatikan kita. Yang kadang-kadang saking fanatiknya, maka imannya bertukar dengan cemburu: "Orang yang tidak seagama , yang tidak semahzab ,yang tidak seide dengan kita adalah musuh kita. "Dan ada lagi yang bersikap agresif., menyerang, menghina, dan menyiarkan propaganda bahwa agama /golongan yang lain itu kafir, sesat, bid'ah.Ternyata kita terlalu hebat belajar mengurai dalil dibalik hadith Rasul dan Firman Allah namun kadang kita sangat lupa tentang pribadi Rasul yang lebih mengutamakan perdamaian dan Allah yang maha pengasih lagi penyayang. Ketahuilah bahwa tidak ada Kitab Suci dimuka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Alquran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99). 

Monday, December 15, 2014

Asuransi...?

Kita tidak bisa menghindari penyakit karena itu adalah sunatullah. Walau Allah mendesign tubuh kita dengan sempurna namun tubuh kita adalah proses yang melemah dari waktu kewaktu dan sangat renta dengan lingkungan dan kondisi hidup kita. Sebagai manusia yang hidup di era modern, ada dua jalan untuk aman dari akibat penyakit, yaitu asuransi kesehatan dimana premi dibayar kepada perusahaan penyelenggara asuransi.Perusahaan asuransi hanya menjamin biaya namun tidak menjamin kesembuhan. Tapi ada juga asuransi kesehatan yang diselenggarankan oleh Allah yang menjamin biaya kesehatan dan juga kesembuhan. Benarkah ? Rasulullah saw bersabda:”Obat termasuk takdir. Obat bermanfaat bagi siapa yang Allah kehendaki berupa apa yang Allah kehendaki”  Bila Alllah berkehendak maka semua sangat mudah, termasuk menyembuhkan penyakit. Nabi saw telah bersabda : “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” Sadaqah adalah polis asuransi terbaik di bumi ini.  Bahkan sedekah itu bukan hanya asuransi kesehatan tapi juga asuransi keselamatan. Inilah sabda Rasul ”Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa  dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar.”. Apakah ada asuransi terbaik dibandingkan dengan Allah ? Walau saya hidup dilingkungan modern namun saya dan keluarga tidak punya polisi asuransi.Kami hanya membiasakan diri bersedekah sebagai premi asuransi. Hanya itu. Apakah benar aman?

Disuatu klinik di Singapore di kawasan Robinson, saya sedang menanti panggilan untuk diperiksa. Dokternya seorang profesor. Diruang tunggu itu saya duduk bersebelahan dengan pria tua. Dia menanyakan penyakit saya. Setelah saya jelaskan penyakit saya, pria tua itu dengan serta merta mengatakan agar saya mengkonsumsi obat yang disarankannya.Saya tidak menanggapi dengan serius sarannya itu. Karena penyakit saya berdasarkan hasil analisa Rumah Sakit di Hong Kong memang mengharuskan saya melakukan transplantasi  lever. Hanya saya perlu menanti jadwal untuk operasi. Maklum ada banyak sekali pasien yang ingin melakukan transplantasi lever. Selama menanti itulah saya rutin setiap minggu ke dokter di Singapore untuk mendapatkan suntikan daya tahan tubuh. Memang sangat menderita penyakit itu, namun saya bisa menyembunyikan sakit itu dengan wajah penuh optimis.Sehingga istri dan teman teman saya tidak mengetahui bahwa saya sedang sekarat. Pria itu yang duduk disamping saya kembali menguatkan saya agar mengkosumsi obat yang disarankannya dan saya menanggapinya dengan senyum. Seusai diperiksa dokter dan ketika hendak pulang, pria tua itu mengikuti saya. Dia menarik tangan saya ke apotik dan membeli obat itu untuk saya. Dia membayar dengan uangnya. Saya terharu. Tentu tidak ada alasan saya meragukan sarannya dan lagi obat ini semacam suplement yang tidak ada efek sampingannya.

Ketika mengkonsumsi obat yang disarankan orang tua itu, selama seminggu saya merasakan setiap hari ada perubahan terhadap kesehatan saya. Ketika jadwal check up di Singapore, dokter juga melihat keanehan terhadap kesehatan saya. Menurutnya kesehatan saya semakin membaik.Setelah satu bulan mengkonsumsi obat itu, saya benar benar merasa sehat. Hasil test lab Rumah Sakit di Hong Kong menyatakan saya bebas dari penyakit.Lever saya kembali seperti semula. Bahkan jauh lebih baik dibandingkan usia saya. Kepada Allah saya  bersyukur. Saya pernah juga kena penyakit jantung koroner. Juga sudah dijadwalkan untuk operasi jantung di KL tapi karena saran teman untuk mengkonsumsi jamu dapur, sayapun bisa bebas dari jantung koroner. Saya juga pernah kena penyakit penurunan fungsi telinga.Penyebabnya karena ada radang diotak tengah saya. Jalan keluarnya adalah operasi tapi saya tidak mau dioperasi karena kemungkinan gagal 50%. Saya memilih pasrah kepada Allah. Tapi seseorang dalam mimpi meminta saya untuk mengkonsumsi makanan. Dia sebutkan jenis makanan itu. Saya mengalami mimpi yang sama berkali kali sampai akhirnya saya tidak punya alasan untuk tidak mengikuti saran dari dunia mimpi itu. Benarlah, setelah saya konsumsi makanan itu , telinga saya normal kembali dan radang otak tengah sebagai penyakit juga sembuh.Berkali kali saya terkena penyakit yang mengkawatirkan namun selalu ada penyembuhan dengan cara sederhana. 

Sedekah berasal dari bahasa Arab, yaitu ash-shadaqah. Kata ini diambil dari huruf sha-da-qa yang asal kata ash-shidiq yang berarti “benar”. Jadi sedekah adalah pemberian yang diberikan untuk mengharap ridha Allah. Bedanya dengan zakat adalah sedekah untuk kategori sunnah, dan zakat untuk yang wajib dimana peruntukannya sudah diatur oleh Allah.  Ayah saya menasehati saya , “Nak jangan pernah kau tolak orang pinjam uang untuk modal dia menyambung hidup  atau bayar sekolah anak atau menikahkan anak/adik atau bayar sewa rumah. Mereka tidak mengemis, Nak. Mereka sedang dalam moment kesusahan , kesempitan dan karena itu mereka meminjam kepadamu. Dan kelak bila mereka datang kepadamu meminta maaf belum bisa membayar hutangnya maka maafkan mereka. Lepaskan mereka dari kewajiban membayar hutang. " Mengapa? Bagi saya itulah salah satu cara Allah menagih Premi asuransi kepada saya. Karenanya cukuplah berharap Allah yang membayar hutang itu. Tentu banyak sekali cara kita bisa bersedekah. Tapi intinya adalah menanamkan empathi kepada siapapun yang membutuhkan pertolongan dan meninggikan kalimah Allah. Terbukti sepanjang usia setengah abad , saya bisa merasakan sendiri, very secure ! Saya yakin bila kebiasaan bersedeqah ini menjadi standar kelas menengah dan atas di Indonesia maka tidak ada lagi orang miskin yang kehilangan harapan dan tentu tidak ada lagi penyakit yang menyengsarakan dan menguras harta. Mari bergabung dengan produk Asuransi Allah,  preminya berupa sedekah.

Mengapa petani China dan Thailand kaya raya.

  Anda mungkin tahu semua apa itu sauce tomat. Tentulah. Itu menu tambahan wajib yang tersedia di meja saat anda makan sup atau nasi goreng....