Sunday, March 09, 2025

Sehat selalu pak...

 



Kalau saya terkesan mendukung Prabowo dan kadang terkesan mengkritik, itu karena kecintaan saya kepada negeri ini. Saya tahu  niatnya sangat mulia untuk negeri ini. Dia tidak punya ambisi personal. Karena secara materi dia sudah punya segala galanya. Secara politik dia pendiri partai yang rating 4 besar di republic ini. Anaknya sudah nyaman sebagai professional. Engga mungkin minta konsesi politik jabatan.


Saya justru sedih. Karena diusia dia yang diatas 70 tahun, dia terbawa arus politik yang menjadikan dia sebagai presiden. Yang lebih menyedihkan lagi takdirnya mengharuskan dia berada  disituasi ekonomi global yang sedang mendung. Dia harus melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi. Kalau melanjutkan dengan kelebihan tabungan dan APBN surplus, tentu tidak ada masalah. Tetapi ini tidak dalam keadaan baik baik saja.


Yang jadi masalah adalah APBN defisit mendekati pagu utang yang ditetapkan UU. Artinya ruang fiscal sangat sempit untuk ekspansi. Sementara dia punya rencana besar mencapai pertumbuhan 8%. Dengan  positif thingking dia menerima semua stakeholder nya pada Pilpres 2024 masuk dalam jajaran cabinet dan lingkaran istana. Tentu itu sikap kompromi yang transaksional. Ada trade off yang dia harapkan. Apa? Financial solution  dan budget solution.


Saya menduga, belum adanya release APBN sampai dengan Maret. Karena Prabowo masih menanti financial solution yang dijanjikan oleh mereka yang ada dalam cabinet.  Itu karena warisan utang era Jokowi jatuh tempo di eranya. Maklum tahun ini, pemerintah harus bayar utang Rp. 800 Triliun dan Bunga Rp. 550 triliun. Itu diatas 50 % dari penerimaan pajak. Berat sekali. 


Saya tahu itu membebani pikiran pak Prabowo. Apa jadinya kalau target pajak tidak tercapai karena situasi ekonomi global tidak mendukung? Kan bisa berdampak sistemik terhadap SBN, IDR dan IHSG. Mengapa ? memang utang  tidak begitu besar dibandingkan negara lain. Yang jadi masalah adalah cash flow negara tidak mendukung. Jadi walau utang relative kecill, asset besar, namun uang cash engga cukup tersedia mendukung pertumbuhan. Makanya utang jadi masalah.


Saran saya, sudahi semua rencanan too good to be true. Lebih baik kembali kepada akal sehat. Mari berproses kepada perbaikan secara holistic dan terstruktur dengan baik. Caranya? Penggal APBN  dan pastikan APBN surplus. Kemudian bapak bicara di DPR. Sampaikan apa adanya keadaan ekonomi negara. Bahwa perlu reformasi ekonomi dan hukum. Segera sahkan UU Perampasan Asset dan pembuktian terbalik. Kalau mereka tidak mendukung, rakyat pasti mendukung bapak. Engga apa apa susah. Tapi kita melangkah dengan langkah kanan.


Nah semua team yang menjanjikan too good to be true, kick out aja. Mereka buang waktu bapak. Pastikan semua mereka yang terlibat skandal korupsi yang selama ini disembunyikan di brangkas aparat hukum agar diproses. Kemudian, pilih team professional yang punya kompetensi kelas dunia sebagai tekhnorat.  Engga usah kawatir. Saya yakin tidak perlu dua tahun. Setahun aja ekonomi bisa recovery dan kapal besar NKRI bisa dengan gagah menuju dermaga harapan. 


Yang penting, bapak jaga kesehatan. Kalau terjadi apa apa dengan bapak, Indonesia akan mundur jauh sekali ke belakang. Recovery nya butuh waktu lama dan ongkosnya mahal. Sehat selalu pak..

Friday, March 07, 2025

Dunia tidak baik baik saja.

 




Aling bertanya kepada saya, apa sih sebenarnya yang membuat ekonomi global menghadapi ketidak pastian? Ya dampak dari keadaan dunia ini bisa dirasakan oleh semua negara. Tidak ada satupun negara yang bisa mengclaim bahwa ia adalah negara super power dalam hal ekonomi. China yang hebat pun suffering. AS jangan tanya. Eropa juga sama. Korea, Jepang dan Taiwan juga tidak lagi disebut dengan macan Asia. Dunia memang berubah. Namun perubahan tidak seperti ramalan revolusi industry tentang kemakmuran.


Problem utama dunia dalam sekian decade ke belakang dan kini maupun masa depan ada pada AS. Berawal ketika AS mengarahkan kapal besar ekonominya dari industry mass production ke high tech, dari comparative advantage berbasis sumber daya  ke competitive advantage  berbasis sains. Kemakmuran nasional diciptakan, bukan diwariskan. Kemakmuran tidak tumbuh dari kekayaan alam suatu negara, sumber daya tenaga kerjanya, suku bunganya, atau nilai mata uangnya, seperti yang ditegaskan oleh ilmu ekonomi klasik, demikian kata mereka.


Pada waktu bersamaan China focus kepada comparative advantage. China dengan cepat mengubah UU PMA dan memberikan insentif pajak dan upah murah serta kepastian hukum. China mengambil peluang yang mungkin mereka bisa kerjakan dari kekosongan produksi yang ditinggalkan AS.  By process terjadi relokasi industry mass production dari AS ke China. China diuntungkan dari adanya produksi substitusi impor dan penyerapan angkata kerja luas. Tapi bukan itu saja. China belajar dari AS dalam segala hal terutama mengola industri secara modern.


Pada awalnya AS tidak merasa tersaingi dengan kemajuan industry dan manufaktur China. Malah AS diuntungkan oleh barang murah buatan China. Itu membuat efisiensi belanja domestic AS. Namun lambat laun, proses itu bukan hanya membuat neraca perdagangan AS  defisit terhadap China, tetapi juga mempercepat gelombang relokasi bisnis dari AS ke China. Ya motive kapitalisme. Selalu mencari tempat yang murah untuk berproduksi. Akibatnya terjadi glombang PHK di AS. Sementara Indusri high tech yang menjadi focus AS juga tidak sepenuh nya bisa menyerap angkatan kerja kelas menengah AS yang kena PHK.


Sementara kelebihan modal AS mengalir ke sector monater yang bubble. Ini semakin mempercepat keruntuhan mindset dari masyarakat innovative ke konsumsi lewat berhutang.  Puncaknya terjadi crisis tahun 2008. Segala macam cara dilakukan AS untuk recovery lewat kebijakan moneter dan fiskal. Hasilnya sampai kini tidak membuat AS semakin baik.  Malah menimbulkan ketidak pastian global. Maklum US Currency sudah menjadi mata uang global. Setiap up dan down mata uang dollar berdampak langsung dengan daya tahan moneter dan fiscal setiap negara.  


Imbalance economy tercipta sudah. Tidak ada satupun negara yang secure. Apalagi dengan tampilnya Donald Trumps sebagai presiden terpilih tahun 2024. Membuat kebijakan pragmatis semakin menjadi jadi, terutama dengan inward looking policy yang cenderung proteksionisme. Dampaknya adalah inefisiensi belanja domestic terutama barang impor. Inflasi akan tinggi. Tingkat bunga tidak mudah turun. Tentu akan sulit bagi negara lain seperti Eropa dan Asia turunkan suku bunganya. Ekspansi sector real akan melemah.


Kebijakan relaksasi ekonomi Trumps lewat pemotongan tarif pajak akan meningkatkan defisit APBN AS. Otomatis surat utang AS akan bertambah. Yield T-Bill akan naik. Mata uang AS akan menguat. Modal akan mengalir ke AS. Ini berdampak luarbiasa terhadap likuiditas global. Kalau likuiditas berkurang. Tentu kebijakan belanja negara yang ekspansif semakin mempersempit ruang fiskal. Utang semakin mahal suku bunganya. Ekspansi dunia usaha akan melemah, yang tercermin dengan melemah nya indek saham gabungan dan mata uang. Masa depan yang uncertainly.


Demikian gambaran sederhana ekonomi dunia sekarang, kata saya kepada Aling. Lantas bagaimana kebijakan Indonesia menghadapi ketidak pastian. Tanya Aling. Saya terdiam. Wajah saya sedih untuk bicara tentang Indonesia. Karena kalau bicara solusi tentu harus mau jujur membuka borok negeri sendiri. Ya saya harus beri tahu dulu situasi dan kondisi makro ekonomi Indonesia. Baiklah. Saya coba terangkan secara sederhana begitu juga dengan solusinya.


Kita menghadapi defisit APBN, yang dibiayai dari utang. Sementara struktur utang  yang ada tidak digunakan untuk ekspansi yang bisa meningkatkan lapangan kerja. Tetapi digunakan untuk bayar cicilan dan bunga. Kalau harus berhutang lagi untuk ekspansi, itu akan semakin mempersempit ruang fiscal.  IDR akan terus melemah, SBN akan semakin tinggi yield nya. Kalau kita tidak rem belanja dan tidak rem hutang. Bukan tidak mungkin IDR dan SBN bisa jadi sampah. Kita jadi negara gagal.


Walau situasi tidak baik baik saja, bukan berarti tidak ada peluang. Kalau kita smart membaca situasi dunia, Indonesia bisa survival dan bahkan tumbuh menjadi negara besar. Apa peluang itu? Memanfaatkan relokasi industry dan manufaktur dari China ke Indonesia. China perlu mensiasati kebijakan proteksi AS dengan memindahkan pusat produksi nya ke negara yang tarif nya rendah masuk ke AS. 


Walau perlakuan tarif AS kepada Vietnam lebih rendah daripapa Indonesia khususnya produk industry dan manufaktur,  namun Indonesia bisa  menawarkan relokasi industry downstream Pertanian dan Minerba kepada China. SDA kita melimpah. Dan Indonesia termasuk negara dalam jaring BRI ( bell road initiative ) dimana China sudah berinvestasi lebih dari USD 40 miliar selama 10 tahun belakangan. Dengan adanya FDI dari China, itu akan sangat membantu mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah defisit fiscal. 


Namun bagaimanapun untuk bisa memanfaatkan relokasi industry dari China, diperlukan aturan hukum yang tegak, indek korupsi yang reliable untuk perbaikan Easy doing of business. Bisnis rente yang menjadi sumber dilanggarnya standar ESG harus dipangkas. Kepemimpinan yang kuat dalam memitigasi resiko politik. Mengapa?  Yang masuk ke Indonesia itu tidak bawa uang dari dalam negeri China. Tapi dari investor institusi. Hanya itu solusinya. Karena dari segi moneter kita tidak ada ruang lagi untuk recovery. So, sudahi omong kosong. It was a race against time to complete the project. Pahamkan Ling…

Thursday, February 27, 2025

Tahu diri aja..

 



Ada teman dengan wajah geram berkata “ Gimana caranya menegakan keadilan. Gimana caranya menghapus korupsi? gimana caranya ? Saya senyum aja. Kenapa engga tanya sekalian. Mengapa Tuhan ciptakan Setan. ? Teman ini sedang bicara melewati batas dirinya. Lama lama bisa stress dia.


Makhluk itu hidup sesuai dengan karakter dan budayanya. Elang engga mungkin berteman dengan Angsa. Tikus engga mungkin berteman dengan ayam. Harimau tidak mungkin berteman dengan rusa. Srigala tidak mungkin berteman dengan domba. Nah kalau elang memangsa angsa. Tikus memangsa Ayam. Harimau memangsa Rusa. Srigala memangsa domba, itu bukan ketidak adilan. Justru itulah keadilan hidup. Predator perlu korban untuk bisa hidup. Cobalah, kalau predator tidak ada mangsa, kan mati dia.


Manusia juga sama. Politisi engga mungkin berteman dengan Jelantah. Kalau dia berkata penuh cinta kepada rakyat, itu hanya drama predator. Pejabat birokrat engga mungkin berteman dengan Marbot. Kalau dia santun dengan tokoh agama, itu hanya lipstik aja ala hipokrit. Pengusaha tidak mungkin berteman dengan buruh. Kalau terkesan sayang, itu hanya drama untuk memastikan agar buruh nyaman untuk tetap jadi buruh. Kalau mereka memangsa jelantah, marbot dan buruh, itu bukan karena ketidak adilan. Tapi karena dalam hidup ini, orang cerdas dan culas perlu korban untuk dimangsa. Dan selalu yang jadi mangsa adalah orang lemah dan bodoh.


Dalam kehidupan hewan, mereka dilengkapi instrument tenaga dan kecepatan bergerak untuk mereka survival dari predator. Manusia dilengkapi dengan akal. Ya, gunakan saja akal untuk survival. Kalau anda rakyat jelantah , buruh, marbot, enggga usah berharap politisi, birokrat, pengusaha akan menegakan keadilan kepada anda. Sesama predator saling menjaga. Mereka akan tegakan keadilan kepada sesama mereka saja.  Agar apa ? agar ekosistem mereka terjaga terus menerus. Mau revolusi berkali kali, tetap saja hasilnya sama.


Jadi apa kesimpulan ekstrimnya? tahu diri!. Kalau anda rakyat jelatah, ya jadilah rakyat jelatah. Perkaya literasi agar tidak mudah dimangsa. Jangan terpolarisasi sesama jelantah yang akan membuat anda lemah. Bergandengan tangan terus. Karena diluar habitat anda itu adalah mereka yang siap memangsa anda.  Kalau anda tetap percaya dan bersandar kepada mereka,  anda pasti jadi korban. Jadi pentingnya kemandirian komunitas, lewat gotong royong. Itulah cara agar anda survival. Hukum penguasa culas lewat Pemilu. Jangan pilih mereka. Hukum pengusaha culas lewat boikot produknya. Gitu aja. 


Itu sebabnya saya tidak pernah terprovokasi jadi bagian dari politik, akrab dengan pejabat atau birokrat. Saya tahu diri aja. Karena saya pengusaha ya habitat saya ya pengusaha. Di habitat saya itulah saya gunakan akal dan spiritual untuk survival dalam lingkaran collaboration dan sinergi. Itu bukan karena saya orang sholeh atau orang jahat, tetapi itu hanya cara survival doang..


Thursday, February 20, 2025

Indonesia ku...?

 


Ketika harapan hablur. Ketika ketidak pastian mengubur asa. Daripada mati dalam harapan hampa. Bagusnya rantau diperjauh. Ke negeri orang kita berlayar. Aku bukan tidak nasionalis. Hanya saja pejabat negeri ini yang gagal mengemban amanah konstitusi. Bacalah UUD 45 pasal 27 ayat 2. Kita siap kerja apa aja. Tetapi peluang kerja tidak tersedia, bahkan yang kerja kena PHK. Kita siap bertani. Tapi lahan diserobot. Bahkan lautpun di pagar. Kita siap berdagang. Tapi peluang dagang dimakan rente. Demikian katanya saat kutemui di luar negeri.


Kamu tahu nak. Kataku mencerahkan. Negeri kita termasuk 20 negara dengan produksi bruto diatas USD 1 trilon. Kita salah satu dari sedikit negara yang bisa tumbuh positif ditengah krisis global. Kita  pemain utama dalam bisnis tambang dunia. Eskportir nikel nomor 1 dunia. Eksportir batubara nomor 3 dunia. Eksportir emas nomor 6 dunia. Kita jago dibidang Agro. Eksportir CPO nomor 1 dunia. Kita negara besar dan tentu bangsa besar. Apakah itu tidak cukup untuk kita bersukur dan bersabar? 


Aku tahu, katanya. Walau aku hanya buruh migran, aku tidak bodoh seperti kebanyakan warga Indonesia. Aku tahu, dan aku berhak bertanya. Untuk apa kehebatan itu semua, kalau dari 5 Balita, 1 stunting. Dari 4 anak Indonesia 1 kelaparan. Dari 5 Gen Z, 1 dalam keadaan tidak punya pekerjaan, Pendidikan dan tidak terlatih mandiri. Di negeri orang. Lapangan kerja tersedia mudah bagi siapa saja yang mau kerja. Dan itu dengan upah yang layak beda dengan di Indo, yang ala kadarnya. Keamanan terjaga, hukum tegak. 


Mereka bisa saja mengatakan bahwa aku tidak nasionalis hanya karena aku hijrah ke negeri orang. Itu hanya kepengohan orang politik yang hidup mewah dari kebodohan warga negara yang tak paham akan hak hak nya.  Mereka seperti Hitler dan kaum fasis yang mengatakan “How fortunate for governments that the people they administer don't think.” Mereka gunakan istilah nasionalisme untuk memasung rakyat. Tapi mereka lupa, bahwa globalisasi membuat orang dengan mudah mengejek nasionalisme yang korup, Politik populisme yang menipu, 50% uang Bansos dikorup.


Warga negara lain juga kerja di luar negeri tapi mereka kerja di perusahaan milik bangsanya sendiri atau di proyek yang negaranya biayai. Sementara TKI sama dengan mereka yang berasal dari negara yang miskin dan korban perang atau konflik regional. Mereka dipaksa oleh situasi untuk minggat. Negeri yang mereka banggakan, yang selalu meminta pajak penjualan dan pembelian, penghasilan. Tapi tak bertanggung jawab mendelivery amanah konstitusi.


Cobalah kamu bayangkan, negeri ini memang tidak pernah ada secara substansi kecuali symbol vulgar tentang kekuasaan yang hipokrit. Ekonomi berjalan hanya diatas angka angka tanpa makna seperti lukisan tanpa imaginasi dan rasionalitas. President yang selalu meminta persatuan dan kesatuan kepada rakyat tapi tak cukup punya nyali melawan kekuatan oligarkhi. Elite sibuk melegitimasi skema menjarah sumber daya alam lewat state capture. 


Maka jangan tanya soal sense of crisis. Jangan kaget bila negara lan mengurangi pegawai birokrasi dan Menteri.  Kita malah menambahnya. Disaat negara lain berhemat untuk bayar utang. Kita malah terus menambah hutang. Penghematan hanya realokasi dari sosial ke state capitalism lewat Danantara. Negara lain punya sense of crisis dengan mengerem growh PDB agar tercapai growh inklusif. Kita malah memacunya dengan mengorbankan anggaran Pendidikan. Tentu dimasa depan Rasio GINI akan semakin timpang.


Kebingungan saya tentang Indonesia, terutama ketika menyaksikan kehidupan Samad si buruh tani yang pendapatannya dibawah UMR atau Udin driver ojol yang lebih 1/4 income nya dimakan oleh aplikator. Tubuh mereka tetap kokoh berdiri atau dipaksa tegar dalan nestapa. Lantas apa yang diharapkan oleh si Samad dan Si Udin. Mengapa mereka masih betah hidup ditengah ketidak pedulian sebuah system dari rumah besar bernama Indonesia ? 


Ya, Mereka hidup dalam spirit masa lalu tentang cita cita kemerdekaan. Mereka menantinya walau hanya mungkin sebuah kepastian tentang kematian yang sia sia. Karena masalalu , mereka hidup untuk hari ini dan hari esok. Tapi memang harapan di negeri ini terlalu mahal kecuali slot judol. Mereka sebenarnya adalah kumpulan orang yang jadi korban narasi politik. Mindset terjajah. Yang baru disadari ketika ajal menjemput dalam sesal dan mata melotot.


Ketika saya berjumpa dengan TKI di luar negeri dan bertanya tentang tanah air. “ Saya kangen simbok. “ itu jawabnya. Bukan, “ Saya kangen Indonesia. “ Seakan indonesia adalah nightmare. Tentang harapan akan keadilan dan kemakmuran yang hampa. Sementara setiap hari kekuatan kita terus berkurang untuk bertahan hidup menghadapi harga yang terus naik. Sampaikan kapan ?, Mungkin saya tidak sesabar orang lain. Yang hidup dalam euforia politik populis dan tetap bersabar menanti harapan, katanya.


Saya berusaha mencerahkan. Bahwa Indonesia adalah sebuah proyek kebersamaan kita. Sebuah kemungkinan yang menyingsing. Sebuah cita cita yang digayuh generasi demi generasi. Sebuah perjalanan yang kita jalani dengan kelelahan. Tanah air adalah sebuah ruang masa kini yang kita arungi karena sebuah harapan hari esok yang lebih baik. Percayalah.


Tapi TKI itu menjawab “ saya kangen simbok tapi saya butuh uang. Nanti kalau tabungan saya cukup barulah saya pulang. “ Indonesia ada dan passport pun melegitimasi orang untuk jadi jongos di negeri orang. Tentu untuk sebuah harapan, walau terasing dan terlempar jauh dari negeri sendiri. Hidup tanpa harapan adalah bukan hidup. Menerima kalah dengan tanga menadah uang bansos adalah pencundang. Cukup pemerintah saja yang pecundang dihadapan oligarki, tidak saya, katanya.


Jangan sedih kawan. Kita boleh marah  kepada mereka yang membuat kita terhina. Justru itu adalah ujud karena rasa cinta itu sendiri kepada sebuah nama yang kita agungkan, Indonesia. Daripada hidup korup di negeri sendiri dan menjadi beban negara, ada baiknya perjauh langkah merantau. Di kejauhan ribuan mill dari tanah zamrud katulistiwa, airmata mengalir ketika mendengar lagu "Indonesia tanah airku”


Tanah airku tidak kulupakan,

Kan terkenang selama hidupku,

Biarpun saya pergi jauh,

Tidak kan hilang dari kalbu.

Tanah ku yang kucintai.

Engkau kuhargai.

Walaupun banyak negri kujalani.

Yang masyhur permai dikata orang.

Tetapi kampung dan rumahku.

Di sanalah kurasa senang.

Tanahku tak kulupakan.

Engkau kubanggakan”.


Kesedihan semakin menjadi jadi karena lagu ini sudah jarang terdengar di telivisi dan di istana. Dia sudah digantikan oleh lagu dengan ritme melankolis ala rock atau popsong. Dimanakah Indonesia ? Jangan jangan kita sudah menerima bulat kata kata dalam lirik lagu imaging “Imagine there's no countries “ Saya tak bisa menyangkal dari semua ini.  Apa arti nasionalis?.  Jawaban itu semakin terdegradasi oleh laku mantan pejabat MA menyimpan uang suap hampir Rp. 1 triliun di rumahnya yang megah dan 3 juta hektar lebih lahan negara diserobot untuk kebun sawit yang diputihkan.


Di luar negeri, saya berusaha membaca dengan teliti di papan kurs mata uang di samping desk receptionist Hotel. Tidak ada kurs yang berlaku untuk Rupiah. Saya sedih karena uang yang melambangkan legitimasi negara tidak diakui dinegeri orang.  Saya tetap bingung dalam kesedihan sambil berusaha tersenyum ketika petugas imigrasi mengecap passport saya dan berkata “ Selamat datang di Tanah Air…” Ya, negeri yang tak kulupakan dan engkau kubanggakan...



Wednesday, February 19, 2025

Demi waktu...

 



Tahun 2010, sore hari saya sedang duduk santai di Bar di Kawasan Financial Center, Hongkong. Tadi siang saya menghadapi badai di bursa. HSI jatuh. S&P 500 juga jatuh di Wallstreet. Paska kejatuhan Lehman tahun 2008, kondisi pasar memang sangat volatility. Saya tidak bisa menebak masa lalu. Dan saya bukan spekulan. Saya pemain dengan style fundamental. Tentu saya focus kepada strategi investasi yang sudah saya setting dengan risk management ARB dan ARA.


Belum 10 menit di Bar sendirian. Ada wanita mendekati table saya. “ I need money HKD 5000. Do you understand what I mean.? Katanya dengan nada tidak merayu. Tetapi lebih tepatnya kepasrahan terhadap nasipnya. Saya tatap sekilas. Saya pemain bursa dan terlatih sebagai pengamat. Ini wanita philipina. Dari pakaiannya keliatan dia wanita baik baik. Usianya diatas 30 tahun. Kemungkinan dugaan saya 90% benar.


Saya kerja di restoran. Kerja shift siang. Saya tidak ada uang lagi. Sementara  saya perlu uang untuk anak saya sakit di Philipina. Boss saya tidak mau beri saya pinjaman, katanya lagi. Saya tidak lihat dia berdrama atau mengemis. Dia hanya punya asset personal yang bisa dia jual sebagai solusi masalahnya. Tentu value nya tidak sama seperti yang dia bid dan engga mungkin market akan Ask HKD 5000 untuk wanita usia diatas 30 tahun. Dia naif di hadapan dunia kapitalis yang tidak ramah.


Mungkin karena dilihatnya saya tidak exciting dengan tawarannya, dia tidak mau lama lama salah tingkah dan keliatan naif di hadapan saya. “ Saya tahu , anda tidak tertarik dengan wanita seperti saya. Okay, bye. Maaf ganggu anda. “ Katanya dengan suara lirih. Padahal saat itu saya sedang bertarung dengan paranoid dan sedang berusaha focus kepada akal sehat dan teori psikoanalisa. 


Saya keluarkan uang dari dompet HKD 5000. “ take it..” kata saya. Dia terkejut dan berusaha agak marapat ke saya. “  Now you may go home.” Kata saya tersenyum agar dia pulang dan lupakan hidup yang tidak ramah. Itu untuk memastikan bahwa keputusan saya memberi bukan karena market tetapi karena Tuhan. “ That's it.? Katanya mengerutkan kening. Saya mengangguk dan tersenyum. 


Walau dari parameter yang ada, keputusan memberi itu dengan tingkat kesalahan 99%. Hanya 1% yang benar. Dan itu bersumber dari hati nurani. Artinya saat itu saya lebih mendengar hati nurani daripada akal kapitalis saya. Yang nilainya lebih dari segala galanya. Thank so much, katanya. Saya deal dengan Tuhan, bukan dengan dia. Dia tidak punya liabilities apapun kepada saya. Jadi tak perlu dia  terimakasih. Yang pasti saat saya keluarkan uang itu. Saya merasa bahagia. Karena saya berhasil mengalahkan diri saya sendiri. 


Jam 11 malam saya kembali ke apartement. Tidur di sofa. Menjelang subuh saya terbangun. Buka channel TV. Saya terkejut. Pasar rebound. Terjadi flash crash wallstreet yang dimulai jam 2:45 pada 6 mei 2010. Program komputer secara otomatis melakukan sale pada posisi jual yang sudah saya tentukan. Hanya 36 menit berlansung tetapi menyelamatkan saya dari kebangkrutan. Sekali lagi waktu mengajarkan banyak hal. Kehebatan fund manager kelas dunia dalam 36 menit jadi keliatan bego. Banyak yang bankrut dan tentu segelintir yang menang, termasuk saya.


Time is essential. Teori big bang, semesta ini terbentuk lewat proses waktu dari titik nol. Awalnya terjadi ledakan raksasa dari materi yang tak berwujud. Ledakan itu menimbulkan energi panas. Dari energi itu alam semesta terbentuk. Ia memuai dan mengembang karena waktu. Namun karena waktu jua pemuaian itu akan melambat dan gaya gravitasi akan menariknya lagi ketitik awal dia tercipta. Musnahlah semua. Selanjutnya akan masuk ke tahap penciptaan dalam dimensi lain. Yang kita tidak tahu seperti apa. Itu masih misteri. Mungkin saja itu adalah kehidupan akhirat.


Karena waktu, kita sebenarnya menuju kepada titik nol. Mungkin anda bisa anggap sederhana masalah waktu ini seperti ungkapan, masih ada hari esok. Ya benar. Tapi esok itu adalah proses waktu yang berbeda dengan hari ini.  Yang pasti dan bisa anda nikmati dari sang waktu adalah hari ini. Karena besok adalah ketiadaan. Kita hidup di dunia yang fana. Makanya Tuhan bersabda, demi waktu sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali mereka yang beriman dan melakukan perbuatan baik. 

Tuesday, February 11, 2025

Apakah Dubai bebas pajak ?

 






Dubai adalah salah satu kota khusus dari 7 kota yang ada di Uni Emirat Arab. Apakah benar Dubai bebas pajak ? Tidak. Tepatnya  ramah pajak. Kalau anda Warga negara atau penduduk Dubai permanen ( permanent Resident) maka darimanapun income,  berapapun income anda, pajaknya adalah 0%. Nah darimana pendapatan Dubai untuk mensejahterakan rakyatnya ? 


Hanya 1% kontribusi SDA Migas di Dubai. Namun dari perdagangan  dan jasa yang terkait dengan international bisnis MIGAS, kena pajak 55%. Bayangkan. Hampir semua trader dan service bisnis MIGAS kelas dunia dan Lembaga keuangan first class berkantor di Dubai. Mengapa ? Dubai satelit dari Abudhabi. Kita tahu Abudhabi sebagai Pelabuhan Migas terbesar dan terbaik pengelolaannya di dunia. Dubaik tempat nyaman Family office. Karena Sovereign fund AA2 rate. Surat utang rate AA. Makanya banyak orang super kaya tempatkan uangnya di Dubai.


Dubai dengan gencar membangun infrastruktur untuk menarik investor bisnis property berkelas dunia. Target market nya tentu orang asing. Maklum 89% penduduk Dubai adalah asing. Dubai membebaskan transfer dana dari offshore regional yang bebas pajak untuk investasi property. Nah setelah dana masuk, kena pajak property. Pajak sertifikat  4% dari harga jual. Pajak 5% pertahun untuk sewa property dan 5% untuk PBB. Dari sector ini sangat besar penerimaan pajak.


Dubai juga sebagai kota cosmopolitan. Semua etnis dan agama boleh tinggal di Dubai. Siapapun boleh saja konsumsi miras asalkan bayar pajak. Alcohol kena pajak impor 50% dan kalau anda dapat izin khusus konsumsi miras, kena lagi pajak 30%. Selain itu menggunakan fasilitas hotel, bar, café,  restoran kena PPN 5%. Bagi perusahaan asing yang buka outlet retail di Dubai kena pajak dengan tarif penghasilan 9% maksimum. Khusus UKM bebas pajak.


Di Dubai proses izin cepat dan mudah. Dubai masuk peringkat 11 dunia dalam hal index Ease of doing of business (EoDB). Namun izin ini itu harus bayar. Ada tarif resminya. Jadi soal izin benar benar ukurannya duit. Walau biaya perizinan sangat mahal dibandingkan negara lain namun karena cepat dan mudah, tanpa ada korup atau suap, orang asing jadi senang aja. Beda dengan Indonesia proses izin gratis tetapi untuk mengaksesnya perlu ongkos kenakalan.


“Lebih sulit buat telor dadar daripada dapatkan izin di Dubai. Tapi engga ada duit jangan bicara bisnis akan dapatkan legalitas di dubai. Dan sekali anda dapat izin anda tidak akan dapat telp dari pejabat minta dilayani atau suap. Fair enough..“ kata teman berseloroh. “ Pemerintah make money dari pelayan perizinan dan pegawai dibayar dari pelayanan itu. “ Lanjut teman bersatire atas kehidupan buruh migrant yang kehidupan mereka sangat miris di Dubai. Apalagi dibandingkan dengan tenaga expat. 


Wisatawan yang datang ke Dubai adalah wisatawan berduit. Beda dengan Bali. Umumnya turis bokek. Mengapa ? Dubai pusat network business. Jadwal konferensi sains, ekonomi dan financial kelas dunia sangat padat. Dikelola dengan sangat professional dari EO di London dan NY. Itu juga karena didukung dengan keamanan yang first class. Mana ada polisi dan imigrasi peras wisatawan. Makanya banyak pebisnis berkunjung ke acara konferensi itu untuk dapatkan jaringan bisnis dari belahan dunia manapun.  Mereka belanja F&B sangat besar belum lagi akomodasi. 


Dubai bentuk lain dari city of capitalization yang bertransformasi dari ekslusif komuniti menjadi kosmopolitan. Maju dan berkembang sebagai kota modern berkelas dunia dengan standar hukum yang bermartabat.

Wednesday, February 05, 2025

Semaput di tengah SDA melimpah

 




Kemarin antrian gas melon membuat nenek nenek meninggal karena kelelahan. Itu karena kebijakan pemerintah terkait distribusi gas melon atau tabung gas 3 kilogram, di mana tidak lagi boleh dijual di warung-warung dan hanya boleh didistribusikan melalui pangkalan. Yang katanya upaya perbaikan tata Kelola distribusi subsidi gas.  Apapun alasannya, sebenarnya pemerintah sedang ngakali gimana caranya memperlambat cash flow belanja subsidi LPG. Tapi pemerintah lupa, kalau Gas melon itu sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Tidak bisa ditunda.


Saat awal kebijakan ( UU No.22/ 2001 MIGAS) mengkonversi  bahan bakar rumah tangga dari Minyak Tanah ke Gas, kita memilih LPG sebagai penggantinya. Bukan LNG. Sampai saat ini Indonesai masih mengimpor 75% kebutuhan domestik LPG ( liquified petroleum gas ). LPG dibuat dari C3, C4. Nah karena LPG khusus untuk rakyat miskin disubsidi, tentu membebani APBN. Karena harga yang terus naik dan kurs yang terus melemah. 


Walau lifting minyak bumi Indonesia terus merosot, namun pada waktu bersamaan gas bumi melimpah. Dari gas bumi ini diolah menjadi LNG ( liquified natural gas). Nah neraca dagang LNG  kita relative terjaga. Sementara future nya juga sangat bagus.  Kita punya cadangan gas raksasa di Blok Masela, Maluku, yang rencananya tahun 2030 beroperasi. Pada 2023 juga ditemukan sumber gas jumbo (giant discovery), yang masuk lima besar temuan sumber gas raksasa di dunia. 


LNG itu berasal dari Gas bumi. Yang terbuang ke udara kalau tidak segera diolah. Perlu  logistic yang handal untuk mengirim Gas bumi ke pusat pengolahan LNG. Umumnya demi efisiensi, pusat pengolahan gas bumi ada di lapangan gas itu sendiri. Setelah itu LNG dikirim  ke terminal gasifikasi. Di luar negeri seperti China, Jepang, Eropa, AS, LNG itu dari storage gasifikasi didistribusikan ke Pabrik dan rumah tangga lewat Pipa. Jadi walau mahal investasinya namun dalam jangka panjang sangat murah.


Sementara untuk Indonesia mungkin mahal sekali kalau menggelar pipa secara nasional karena kita negara kepulauan. Perlu infrastruktur Logstik LNG pada setiap pulau. Nah ini memerlukan sarana logistic yang besar, terdiri dari kapal cargo LNG dan terminal LNG di Pelabuhan bongkar. Dan kemudian disalurkan lewat Pipa ke pabrik dan rumah tangga. Kita masih sangat minim akan infrastruktur ini. 


Pertanyaan sederhana adalah mengapa kita masih mengandalkan LPG untuk kebutuhan domestic. Sementara LNG hanya 19,5% untuk pasar domestic. Itupun untuk keperluan industry, bukan rumah tangga. Padahal kita punya resource LNG sangat besar. Dari sisi harga jelas LNG lebih murah dibandingkan LPG.  Menjawab pertanyaan ini tidak sulit. Sama seperti pertanyaan mengapa kita selalu impor BBM dan ekspor Crude oil. Itu karena ulah mafia MIGAS. Hampir sebagian besar (80%) produksi LNG kita sudah diijon ( offtake ) oleh trader. Semua dikapalkan ke China, Jepang dan Korea.


Mafia itulah yang membuat kebijakan kemandirian energi jadi terhambat. Bahkan sumber daya bahan baku C3 dan C4 di Indonesia cukup untuk produksi sendiri LPG. Sumber daya itu diabaikan.  Lebih utamakan impor, dimana 75% kebutuhan domestic LPG dari import. Tidak ada rencana konkrit membangun infrastruktur LNG. Malah rencananya secara berlahan akan dikonversi dengan DME ( Dimethyl Ether ) dari batubara. Lagi lagi untuk mengamankan bisnis konglo Batubara terutama hilirisasi Batubara. 


Jadi otak rusaknya kebijakan efisiensi sumber daya alam kita memang oligarki. Mereka yang membuat pemerintah keliatan dungu. Ya kasihan aja nenek miskin di Tanggerang yang harus mati karena antri untuk beli gas melon. Padahal negerinya kaya SDA migas. Seharusnya SDA itu membuat dia Makmur, bukan semaput dalam papa. " Tuhan, jaga negeriku dari para komprador. Hanya Engkau yang bisa lawannya. Sementara mereka tidak takut kepada Engkau."

Kenaikan tarif Trumps ?

  Kalau anda mempelajari tekhnik diplomasi dalam bahasa yang terstruktur dan bersepktrum jauh ke depan, maka anda tidak akan menemukannya pa...