Monday, June 10, 2024

Adab bergaul





Satu saat Tiara kirim email. Bahwa dia sedang merintis bisnis. Sudah capek cari investor tetapi engga juga bisa deal. Menurut saya bisnisnya bagus dan menantang sebagai peluang. Yaitu membangun hotel sebagai complimentary dari kawasan Industri yang sedang berkembang. Konsep bisnis nya sederhana saja. Dia menjadikan hotel itu sebagai bagian dari service value added pabrik yang ada di kawasan industri itu. Dia berkali email saya untuk minta waktu ketemu.


Akhirnya saya sempatkan juga ketemu dia. Saya sediakan tempat di restoran untuk entertarin dia. Belum lima menit ketemu, dia dapat telp dari luar. Dia angkat telp sambil tersenyum ke saya. Sebagai isyarat dia minta izin terima telp. Setelah itu tiap sebentar matanya melirik ke HP disaat saya bicara. Lewat 10 menit. Saya permisi ke toilet dan mampir ke table kasir bayar bill. Saya keluar dari restoran itu sambil SMS dia. “ Kebetulan ada urgent ketemu orang lain. Maaf, engga bisa lanjut meetingnya” kata saya.


Saya kenal Tiara ( bukan nama sebenarnya) udah cukup lama. Dia sales property. Walau dia janda cantik, saya sebenarnya males ketemu dia. Karena kalau ketemu dia selalu sibuk dengan hapenya. Tidak focus ke pertemuan. Sebagai teman, saya berusaha maklum. Dia kan sales. Tapi untuk hubungan bisnis? itu soal lain. Saya ordinary people. Masih menghormati adab. Kalau bicara mata dan wajah saya serius menatap lawan bicara. Focus. Begitu cara saya beradab.


Orang bermartabat tidak bisa bisnis hanya dengan komunikasi saja tetapi lebih karena interaksi atau tatap muka langsung.Komunikasi bukanlah interaksi. Komunikasi bisa via email atau WA atau SMS atau videocon. Komunikasi lewat kata kata hanya mewakili 1/3 saja pemahaman.  Tapi dari tatap muka itu kita dapatkan segala pemahaman lewat bahasa tubuh, pancaran wajah dan lain lain. Itu magnit yang efektif menjalin saling pengertian dan proses deal terjadi secara beradab.


Wajah cantik itu ada bandrolnya. Penampilan keren juga ada bandrolnya. Tetapi adab itu tidak ada bandrolnya. Nilainya tidak terhitung. Kalau adab tidak dijaga ya, orang walk a way.

No comments:

Ambisi yang merusak

  Pada tanggal 17 Desember 2011, Presiden Korea Utara, Kim Jong-il meninggal dunia. Di Korut, Politik Pemujaan terhadap Kim Jong-il sudah bi...