Sunday, January 15, 2023

Daya tahan.

 


Tahun 2013 saya cuti bisnis selama 5 tahun. Ini saya gunakan waktu untuk melaksanakan hobi berlayar. Saya gunakan yacht ukuran 27 meter dengan layar ganda dan motor. Rencana saya akan berlayar solo ke Pulau Mentawai. Start dari Ancol. Awi peringatkan saya agar tidak perlu pergi. Bahaya kalau sendirian. Tapi saya cuek saja. Walau dia sendiri tidak mau temanin saya. Dengan dukungan alat navigasi dan atat komunikasi satelit. Saya dengan ceria melaju membelah teluk jakarta.


Target saya adalah Tanjung alang alang untuk masu ke selat sunda. Setelah pulau harimau akan berbelok melintasi Palau kraktau dan terus menuju kota Agung. Sampai sejauh ini pelayaran sangat nikmat. Tidak ada gelombang yang gila. Saya menikmati pelayaran itu. Kadang dengan auto kemudi saya bisa gunakan waktu membaca dan memasak. Sampai kota agung saya tidur di dalam kapal. Saya perlu istirahat. Karena lewat kota agung saya akan menghadapi gelombang tanjung China.




Setelah cukup istirahat. Saya melaju ke arah pulau enggano. Patokan saya adalah Belimbing dan krui. Namun masuk tanjung China, selepas maghrib, saya dihantam gelombang 7 meter dan hembusan angin 40 knot. Saya pasang autopilot untuk turunkan layar dan ganti motor penuh. Perahu berayun 180 derajat dan layar utama robek sedikit. Saya ikatkan tali pada tubuh saya. Dan kembali ambil kendali untuk pastikan yacht tidak tabrak gelombang tapi berjalan di tebing gelombang. Dan kurangi kecepatan saat kapal terdorong ke bawah gelombang, sampai harus bersiap tancap gas menaiki tebing gelombang, untuk siap turun lagi. Begitu terus lebih dari 2 jam. Butuh konsentrasi tinggi ditengah badai.


Benar benar tantangan yang luar biasa. Berkali kali saya terlempar ke laut tapi bisa masuk kapal lagi. Lewat tanjung China dan masuk belimbing krui, Keadaan sudah teduh. Masuk enggano dengan gagah. Saya sempat istirahat di Enggano. Keesokannya berlayar lagi ke Pulau Mentawai. Di kepulau mentawai ini yang harus dijaga adalah pulau karang. Pastikan kapal megikuti navigasi agar tidak kena karang. Hanya semalam, di Mentawai, saya kembali ke jakarta. 4 hari 4 malam dan 2 hari di samudra dan 4 hari di darat istirahat. Walau usia 50 tahun. Terasa saya belum terlalu tua. 


Hukum dilaut berlaku hukum besi. Disaat badai datang Anda tidak bisa melawan arus dan tidak bisa menghadang gelombang. Arus harus anda ikuti dan gelombag dilalui dengan berjalan di tebingnya. Setelah badai berlalu, yang pertama yang harus anda lakukan adalah kembalikan perahu dijalurnya. Hidup juga begitu. Disaat survival engga usaha idealis. Lakukan apa saja. Jangan lawan arus. Mainkan semua gaya. Nah setelah established, ya kembali ke jalur Tuhan. Tobat. Patuhi navigasi dengan disiplin. 


Menaklukan gelombang di tengah samudera adalah upaya menaklukan diri sendiri. Ditengah badai anda tidak boleh kehilangan focus. Anda harus tetap tenang. Hilangkan rasa takut dan kawatir. Hanya ada dua pilihan. Tenggelam atau selamat sampai ditujuan. Sedikit lemah gelombang akan melumat anda. Hidup memang begitu. Lemah ? ya jadi korban. Dilumat zaman.


***


Ada teman lulusan perguruan tinggi. Dia tamat kuliah usia 22 tahun. Langsung dapat kerjaan di PMA. Selama 20 tahun dia pindah kerja ada 5 kali. Apa alasannya. Lingkungan kerja tidak nyaman. Dan baginya berhenti kerja bukan resiko. Karena pendidikannya mendukung dia mudah dapat kerjaan. Tapi apa yang terjadi kemudian.? masuk usia 50 tahun dia sudah lelah. Menikah usia 40 dan baru punya anak usia 45 tahun. Baru terasa beban hidup semakin sulit. Pindah kerja engga mudah lagi. Karena usia tidak muda lagi. Kini dia menua dalam sesal merasa gagal.


Apa yang terjadi pada teman saya itu. Dia memang pintar sekolah. Tapi tidak bisa cerdas hidup. Mengapa saya  katakan tidak cerdas ? karena dia tidak punya daya tahan ( Resilience ) terhadap tantangan yang ada. Dia memilih menghindari tantangan dan cari tempat yang menurutnya nyaman. Ternyata berkali kali pindah. Sama saja. Mana ada tempat yang nyaman. Nyaman itu ada di hati. Tentu hati yang menerima realitas. Berdarmai dengan kenyataan untuk terus melangkah tanpa henti. 


Waktu awal memulai bisnis maklon ( manufacture supply service)  di China, saya mengalami kegagalan berkali kali. Maklum saya berproduksi tanpa punya pabrik. Saya hanya menyewa mesin dan fasiitas produksi saja. Salah beli bahan baku. Akibatnya engga bisa masuk ke dalam mesin. Salah menentukan pabrik pengolahan, stok bahan menumpuk digudang. Macam macam masalah datang. Belum lagi masalah bahasa. Saya new comer di China. Bahasa mandarin saya kurang sekali.  Dalam setahun saya rugi lebih USD 1 juta. Tabungan ludes.


Andaikan kegagalan itu membuat saya menyerah dan pulang ke Indonesia. Saya tetap tidak akan bisa survival. Karena masalah ada dimana saja. Saya tetap di China. Saya hadapi kegagalan dan belajar dari itu. Akhinya saya bisa sukses untuk shipment pertama. Sekali lepas kapal berlayar maka samudera luas menanti. Saya bekerja keras setiap hari. Mungkin 18 jam sahari. Mengelilingi dunia memasarkan produk. Hanya 3 tahun saya sudah punya puluhan produk dan menjangkau pasar Eropa, AS, Afrika. Tahun keempat itu saya sudah punya pabrik sendiri.  


Padahal saya tahu. Banyak orang Indonesia yang berbisnis di China. Mereka dari  keluarga kaya. Tetapi uang habis, mereka pulang. Ya selesai. Di Indonesia, urang orang tua mereka juga dihabisi. Karena sikap pragmatis yang cepat sekali pergi menghindari kesulitan. Sedangkan saya ketika sukses di bisnis maklon tidak memuat saya euforia dan lupa diri. Saya masuk ke medan bisnis yang lebih rumit. Yaitu Private Equity. Jalan setahun keuntungan dari maklon hampir habis. Tapi saya terus bergerak dan putar otak. Tahun berikutnya saya berhasil akuisisi Perusahaan satelite di AS dan selanjutnya jadi mudah dan terus berkembang. Kini saya walau hanya tamat SMA  dan menua namun tanpa sesal apapun kecuali rasa syukur kepada Tuhan. Itu aja.


No comments:

Persepsi pasar.

  Ketika Lehman Brothers bangkrut pada 15 September 2008, reaksi   dunia seperti mau kiamat. Mereka mengatakan ini akhir dari kapitalisme pa...