Sunday, January 15, 2023

Resilience

 



Waktu awal memulai bisnis maklon di China, saya mengalami kegagalan berkali kali. Maklum saya berproduksi tanpa punya pabrik. Saya hanya menyewa mesin dan fasiitas produksi saja. Salah beli bahan baku. Akibatnya engga bisa masuk ke dalam mesin proses. Salah menentukan pabrik pengolahan, akibatnya bahan produksi menumpuk digudang. Mesin tidak mendukung dan saya haru bujuk pabrik orang untuk ganti mesin. Macam macam masalah datang. Belum lagi masalah bahasa. Saya new comer di China. Bahasa mandarin saya kurang sekali.  Dalam setahun saya rugi lebih USD 1 juta.


Tapi saya hadapi kegagalan demi kegagalan itu dengan keyakinan. Dari setiap kegagalan saya belajar dan terus belajar. Akhinya saya jadi sangat paham soal bisnis itu. Sekali lepas kapal berlayar maka samudera luas menanti. Saya bekerja keras setiap hari. Mungkin 18 jam sahari. Hanya 3 tahun saya sudah punya puluhan produk dan menjangkau pasar Eropa, AS, Afrika. Tahun keempat itu saya sudah punya pabrik sendiri


Bisnis tanpa network tidak akan sukses. Saya membangun network itu tidak mudah dan murah. Untuk jadi mitra supply chain Apple saya butuh  1 tahun lobi. Setelah dapat akses, saya juga harus ambil resiko berproduksi dengan spec yang mereka tentukan. Sedikit saja spec salah, mereka cairkan jaminan 1% performance bond. Belum lagi harus sediakan modal kerja untuk stock. Agar delivery bisa on time. Putar orang cari modal kerja.  Tapi sekali settle. Pabrik berikutnya muda. 


Dalam bisnis PE ( private equity) saya awali dengan benar benar nol. Saya harus hired profesional yang lulus akreditas di OJK. Melengkapi sistem menegment agar memenuhi standar kepatuhan. Kemudian mendapatkan mitra sebagai investor. Itu engga mudah. Tanpa investor, itu bisnis PE hanya omong kosong. Setelah dapat investor, memastikan uang itu berkembang. Sikap disiplin, perhitunga yang presisi, jujur lah yang membuat investor terus bertambah dan akhirnya antri. Proses akusisi atau M&A juga tidak mudah. Salah sedikit kena semprit OJK. Kena finalty.


Patarung diatas ring umumnya yang unggul bukanlah yang kuat pukulannya tetapi yang punya daya tahan menerima pukulan yang datang berkali kali. Bahkan ketika terjatuh dia bisa bangkit lagi. Andaikan dia kalah, dia akan mendapatkan rasa hormat dari lawannya. Andaikan dia menang, diapun akan mendapatkan rasa hormat. Banyak orang Pintar, tapi gagal berkembang. Bukan karena dia tidak bisa gunakan kepintarannya, tetapi dia tidak punya karakter resilience ( tangguh) untuk bertahan dari ketidak nyamanan dan kesulitan. Mau mudah saja dan enak saja. Ya pecundang.

No comments:

Yusril dan Jokowi.

  Selama ini Jokowi tidak pernah bicara terus terang mengenai Capres. Orang hanya menduga duga aja. Kadang terkesan Onani seperti orang ngec...