Sunday, June 05, 2022

Hope

 




Ada teman yang sedang terpuruk ekonominya. Dia datang kepada mentornya. “ Sabar aja. Nanti kalau rezim berganti, semua akan berubah jadi lebih baik. “ kata mentornya “ itu penyebabnya karena ketidak adilan dalam sistem. “ mentornya menambahkan.

 

Kemudian dia datang ke mentor yang lain. “ Mengapa susah sekali tercapainya keadilan sosial” tanyanya.


“ Karena elite politik tersandera dengan politik indentitas. Jadi sulit sekali melakukan perubahan. “ jawab mentornya. 


Teman itu bingung. Dia datang ke saya dalam keadaan bingung itu. “ Mengapa? Ini semua terjadi kepada saya. Memang hidup tidak ada utopia. Tidak mungkin semua orang kaya. Tentu ada orang miskin. Tidak semua orang jadi elite, tentu ada yang jadi rakyat jelantah. Masalahnya, mengapa saya kebagian yang miskin dan jelantah? 


Saya tersenyum. Jawabnya sederhana. Kerena kamu hidup dan berpikir sebagaimana persepsi orang lain. Kamu tidak memiliki kemerdekaan diri untuk memilih apa yang menurut kamu nyaman.   Kaum oposisi berharap keterpurukan kamu menjadikan kamu berada dipihaknya melawan rezim berkuasa. Bagi pro rezim kekuasaan, menjadikan kamu berada dipihaknya untuk membenci oposisi. Tidak mengkritiknya.Walau ditangannya ada berlian dan emas,  apakah karena itu hidup kamu berubah ? Pastinya tidak. Mereka tidak memberikan solusi real kecuali hanya hope, yang cenderung menempatkan kamu orang lemah dan bodoh.


Engga juga paham? Lihat keluar. Mereka yang memprovokasi kamu membenci pemerintah itu, mereka hidup nyaman sebagai oposisi. Entah jualan jilbab, pendakwah, pengamat, influencer, lawyer, politisi, singkatnya mereka punya sumber income dari sikap oposisinya itu. Yang bayar ya orang orang seperti kamu itu. Maklum kumpulan komunitas bisa jadi komoditas.  Begitu juga yang pro pemerintah. Sama saja. Mereka mengajak kamu memaklumi kegagalan pemerintah seraya menyalahkan oposisi. Hidup mereka jelas lebih baik dari kamu karena akses kekuasaan. Dan tetap saja tanpa solusi untuk kamu. Kamu tetap terpuruk.


Jadi bagaimana seharunya saya bersikap? Tanyanya. Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah. Perhatikan hal sederhana : Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu. Rasa kawatir mematikan harapan dan membuang waktu. Memang hidup serba tidak pasti tapi kawatir adalah pilihan. 


Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?  Tanya nya lagi.


Berhentilah mengeluh. Daripada bertanya kapan saya sukses, mending sukuri saja apa yang sudah kamu dapat. Jangan hitung yang belum diraih. Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan. Besar kecilnya hasil hanyalah Tuhan sebagai penilai. Bukan manusia. Paham ya sayang.


No comments:

Tahu diri..

  Tahun 1983, saya kalau pulang kerja kadang mampir ke Sarinah. Putri dari bibi saya kerja di Sarinah sebagai Pramuniaga. Saya hanya lewat a...