Pilihan sikap

 




Tahun 1983, saya pernah jadi salesman underground alias Sales jalanan tanpa indentitas. Saya beli tekstil di kawasan kota lama jakarta. Karena saya create skema, dari cara menjual sampai cara pembayaran ya jelas saya untung besar. Mudah sekali saya dapet uang. Waktu itu orang kerja di Bank masih kelas ratusan ribu, saya sudah punya income jutaan. Ya saya sudah jutawan. Tetapi itu saya akhiri begitu saja. Mengapa ? Uang memang bertambah. Tetapi caranya salah. Saya hanya dapat uang karena pembeli engga punya uang dan mau beli berapapun harga asalkan utang. Saya dapat uang kontan karena ada rentenir yang mau pinjamin uang untuk pembeli itu. 


Saat itu usia saya 20 tahun. Ayah saya menasehati saya “ kamu boleh hancur tapi jangan karena kamu orang lain hancur. “ Saya katakan kepada diri saya sendiri. Saya masih muda. Saya tidak mau diracuni dengan cara hidup seperti itu.  Masa depan saya masih panjang. Waktu saya untuk belajar, bukan hanya sekedar cari uang. Nasehat ayah itu terpatri dengan lekat dalam hidup saya Terutama dalam mempelajari skema bisnis. Saya tidak focus kepada laba tetapi skema.  Kalau skema itu membuat orang lemah rugi, saya menghindar. Tetapi orang kuat? , “ marilah bermain dengan saya.” Kalah menang saya senyum saja. Karena saya dapat pelajaran untuk naik kelas.


Saya kuasai bisnis bermain di pasar modal dan pasar uang. Saya dapet kepercayaan besar dari investor. Untung besar mereka. Tetapi lambat laun menyadarkan saya. Bahwa permainan itu menjadikan saya bagian dari rente pasar. Pengalaman dari krisis ekonomi, yang korban justru orang lemah. Bubble value di bursa sudah menciptakan kerakusan sistemis dan berdampak sistemik. Saya berhenti. Selanjutnya saya focus kepada fundamental Style. Tetapi lambat laun saya sadar bahwa value yang saya harap tidak sepeti saya mau, tetapi lebih memuaskan  emiten dan investor  bursa saja. Value real tidak bertambah. Yang ada tetap saja ilusi. Itu sama saja saya dilahirkan jadi pecundang. 


Selanjutnya saya masuk ke investment holding. Lebih baik saya create binsis real  dan  saya jalankan dengan prinsip saya. Memang sulit dan beresiko.Apapun itu, setidaknya saya hidup tidak di create orang lain dan bagian dari agenda orang lain. Ini urusan antara saya dan Tuhan saja. Bisnis adalah jalan spiritual saya sebagai putra dari orang tua saya dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Saya tahu batas diri saya. Makanya saya jaga stakehokder dengan sebaik mungkin, dan mereka Happy. Return nya ? saya dapat TRUST dari mereka dalam skema kolaborasi dan sinergi. Everybody Happy.


Empat  kali saya bangkrut tetapi saya tidak pernah bangkrut karena ponzy dan ilusi. Artinya kebangkrutan tidak membuat saya bodoh tetapi naik kelas, baik secara intelektual maupun spiritual.  Hidup memang soal pilihan. Tentu tidak ada pilihan yang sempurna. Setiap orang menanggung akibat dari pilihannya. Kaya miskin bukan ditentukan oleh sumber daya tetapi oleh mindset. Nilai anda diukur dari mindset it


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Pria itu

Harapan ...