Me Time

 




Di Hong Kong dalam seminggu sekali selalu saya gunakan kesempatan me time. Hanya saya sendiri. Tidak ada orang lain. Biasanya saya nongkrong di cafe kecil yang ada live musik. Minum sekedarnya tanpa mabuk. Di Jakarta juga begitu. Saya punya cafe pavorit yang  tidak mungkin sahabat dan keluarga tahu. Saya tidak melarikan diri dari lingkungan saya. Pergi ke pulau terpencil. Tidak menjauh dari sahabat dan keluarga, pergi ke gunung. Tidak. Saya dekat saja. Namun saya ingin sendiri saja.  


Saya ambil tempat duduk dekat pintu toilet. Karena cafe penuh maklum malam sabtu. Saya pesan wine sebotol. Nanti kalau engga habis, bisa titip untuk saya minum minggu depan. Pemilik cafe sudah kenal saya. Dua hari lalu Esther cerita kepada saya. “ Teman kamu sejujurnya tidak ada yang suka kamu. Wada, kecewa dengan kamu karena deviden dibatalkan tahun ini. Dia anggap kamu hanya beri dia bisnis onani saja. Steven kecewa dengan kamu. Dia anggap kamu terlalu lemah di hadapan otoritas. Pengecut.  Richard bilang, kamu tidak serius menjaga persahabatan. Dia kecewa karena kamu tolak dia masuk bisnis tambang emas di perusahaan Wenny. “


Saya menghela napas dan akhirnya tersenyum. Ingat kata kata Esther. “ Tidak ada eksekutif kamu yang suka kamu secara personal. Dihadapan mereka kamu menakutkan dan kejam. Bahkan bagi Wenny dan Yuni kamu itu seperti mimpi buruk. Setiap malam kalau kamu telp mereka. Itu sangat menakutkan. Kamu tidak tahu memperlakukan mereka secara pantas sebagai sahabat. Padahal mereka inginkan perhatian lebih sebagai personal”


Saya kembali menghela napas. tidak lagi tersenyum. Ingat kata FLorence “ Apa yang kamu punya membuat istri kamu takut dan kawatir. Karena kamu semakin keras bersikap. Kamu bisa diam tanpa peduli keluhan istri. Katanya, bisnis telah membuat kamu bukan seperti pria yang dia kenal sedari awal. Aku, juga merasakan. Kadang kamu seperti orang asing.” 


Begitulah dalam kesendirian saya. Di hadapan orang terdekat saya, saya selalu ada kurangnya.  Selalu ada salahnya. Mereka paling hebat menguraikan secara detail kekurangan saya. Esther keliatannya peduli. Tetapi dia sendiri tidak pernah anggap apa yang aku lakukan itu benar. 


Bagi saya, inilah hidup saya. Kalau harus menari dipanggung untuk menyenangkan orang. Saya menari. Tetapi tetap saja tidak dihargai. Dan saya terus aja menari.  Kalau berdonasi kepada orang itu baik tetapi tetap saja saya jarang dapat terimakasih. Malah orang anggap saya berhitung memberi. Dan saya tetap saja berdonasi. 


Saya berusaha menjaga persahabatan. Tetapi mudah sekali saya diacuhkan dan di ghibah,  hanya masalah kecil. Dan saya tetap merindukan mereka. Saya selalu ada untuk keluarga dan teman, tetapi tidak pernah dihargai pengorbanan saya. Dan saya tetap jaga mereka. Tetap memaklumi mereka.


Lamunan saya buyar oleh pertengkaran di sebelah saya. Seorang pria membully wanita yang duduk sebelah table saya. Pria itu sampai menyiram wajah wanita itu dengan minuman. Wanita itu diam saja. Akhirnya pria itu berlalu. Saya lirik ke samping. Saya serahkan tissue untuk dia usap wajahnya. Dia tersenyum. Tak berapa lama saya dekati wanita itu.


” Kamu engga apa apa?


“ Ya engga apa apa. Itu tadi suami saya.”


“ Oh i see”


“ Dia dosen. Kami menikah lebih 15 tahun. Di hadapannya saya selalu salah. Padahal  dia jadi Phd atas biaya saya. Anak anak sekolah tempat mahal, itu dari saya uangnya. Kami punya apartement mewah, itu uang saya. Dari awal dia tahu saya punya bisnis dan dia setuju. Tetapi selalu saja hal yang sepele dia tersinggung. Anak anak juga terprovokasi membenci saya. Bahkan teman teman saya tidak suka mendekat lagi ke saya. Tapi anehnya kalau mereka ada masalah uang, mereka datang ke saya. Tidak ada terimakasih. Mengapa buruk sekali hidup saya” Katanya


Saya tuangkan minuam ke cangkirnya. “ Mau tahu apa sebabnya? tanya saya.


“ Ya. Please..”


“ Karena mereka lemah. Dan kamu kuat. Mereka sangat tergantung kepada kamu. Kamu tidak bergantung kepada mereka. Apakah kamu harus lemah juga dengan sikap mereka?. Kalau kamu lemah juga, itu artinya kamu tidak sayang mereka. "Kata saya.


" Ya, tidak. Tetapi mengapa?


" Karena standar kamu dalam bisnis sangat rasional. Itu kadang tanpa disadari kamu terapkan dengan teman, keluarga. Mereka jelas tidak nyaman.  Karena standar mereka emosional. Kehidupan personal dan bisnis itu jauh sekali jaraknya. Beda sekali standarnya. Sampai kapanpun mereka tidak akan mengerti. Apapun yang kamu anggap baik, tetap saja tidak baik bagi mereka”


“ So..” Katanya lambat


“ Terima saja sebagai realita. Toh kita tidak bergantung kepada manusia tetapi Tuhan. Setiap orang punya persepsi sendiri terhadap kita. Penilaian orang tidak penting. Kita tetaplah berbuat baik menurut standar kita . Mau terimakasih atau tidak, itu tidak penting. Mau dihargai atau tidak, itu tidak penting.  Yang penting tetaplah berada di haluan, sebagai kapten atas diri kita sendiri. Mereka tidak akan lari dari kamu. Kamu berkah bagi mereka. Orang lemah itu kadang tidak rasional, beda dengan kita orang bisnis. Anggap biasa saja“


“ Caranya gimana menghadapi tekanan dari mereka? tanyanya.


“ Cobalah gunakan waktu  luang untuk dirimu sendiri. Hanya kamu sendiri. Nikmati kesendirian itu. Mungkin sejam atau dua jam, bisa membuat kamu tidak kehilangan pijakan dimana seharusnya tempat kamu. “ 


“ Dan kamu ? katanya tersenyum. Saya jawab dengan mengangguk dan tersenyum.  Dia lempar telapak tangannya di udara, Saya sambut telapak tangan itu. “ Enjoy life “ kata kami serentak.


“ Simply enjoy life and the great pleasures that come with it. “ Kata saya. Sejak itu kami bersahabat. Sahabat tanpa tahu nama dan bisnis masing masng. Di jakarta juga saya punya sahabat anoname. Lucunya kami selalu bertemu ditempat yang sama. Sama sama tidak saling sapa. Setelah dua jam berlalu, saya atau dia yang pergi duluan. Selalu ada lambaian dan senyuman. Kami akan baik baik saja.


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Politisasi agama

Pria itu