Berkorban sepanjang usia..

 




Banyak orang berencana namun hanya berhenti dimimpi saja dan terus mengeluh karena merasa tidak ada orang peduli dengan rencananya. Sebenarnya ketika anda punya rencana dan mimpi, itu hanya ada antara anda dengan Tuhan saja. Engga ada urusan dengan orang lain. Sukses dan gagal, itu tergantung anda. Mengapa? Rencana itu bagaimanapun masih dalam bentuk konsep imeginer. Orang lain bukan  Tuhan yang tahu isi kepala dan hati anda yang sebenarnya. Manusia percaya dengan apa yang anda katakan. Tetapi percaya saja belum akan membuat dia mendukung sebelum ada sesuatu yang konkrit memotivasinya mendukung.


Saya belajar dari ibu saya soal ini. Ibu saya itu sejak usia muda sudah jadi aktifis sosial. Ada photo jadul saya digendong ibu saya dalam kegiatan sosial di Pagar Alam. Bahkan saat hamil saya dia masih sibuk ditengah tengah kegiatan sosialnya sebagai aktifis Aisyiah. Pecah ketuban dan nongol saat Ibu saya menghadiri acara sumpah pemuda. Akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Untunglah selamat. “ Kamu tertolong dari kotoron luar karena seluruh tubuh kamu dibalut oleh lemak dan beras. Karena amak waktu hamil kamu suka makan beras.” 


Apa yang dapat saya pelajari dari ibu saya dalam hal berbuat? Modal dia hanya niat saja. Setelah itu dia bergerak. Dia ada niat bangun sekolah TK dan SD. Itu karena banyak anak yang tidak sekolah karena tempat sekolah jauh. Dia organisir teman temannya dalam gerakan Aisyiah. Dari pintu ke pintu mereka ketuk rumah orang untuk bantu apa saja. Ada yang kasih kayu, paku, atau uang. Gerakan itu jadi meluas. Akhirnya TK dan SD itu jadi. Saya salah satu murid TK. Kemudian dia berniat membangun pusat kesehatan Ibu  dan Anak. Begitu juga caranya.Dia langsung bergerak. Jadi juga tuh proyek.


15 tahun lalu ibu saya berniat membangun Panti Asuhan. Niat itu dicertikan kepada saya. Adik dan kakak saya tertawa. “ Amak udah tua. Cukuplah 2 periode jadi pimpinan Wilayah Aisyiah  Lampun. Istirahat sajalah. Mana kuat lagi urus yang begituan” kata Adik saya. Tetapi saya tatap mata ibu saya. Saya kenal betul karakter ibu saya. Kalau dia sudah niat, dia pasti kerjakan. Setahun kemudian saya pulang ke lampung. Panti asuhan sudah berdiri. Tempat sewa. Alat dapur untuk masak disumbang oleh tentangga. Makan makan dibantu donatur dan tetangga.


Saat itu juga saya tergerak untuk ambil bagian dalam proyek itu. Saya tanya rencana dan proposal proyek itu. Ibu saya serahkan proposal. Lengkap sekali. Ada design bangunan lengkap dengan detail engineering. “ Tanah sudan ada. Tanah wakaf” Kata ibu saya. Benar benar cara aktifis lapangan. Sedikit bicara namun konkrit.


“ Siapa yang buat ini Mak” Tanya saya kaget meliat proposal yang sangat rapi.


“ Kampus. Amak datang ke mereka. Amak sampaikan niat amak. Mereka gambarlah. Mereka engga minta bayaran. Itu sedekah aja” Kata Ibu. Atas dasar itu mudah bagi saya untuk membuat jadwal pembangunan dan cash flow project. Setahun jadi tuh Panti. Selesai satu, eh malah ibu saya berencana membangun lagi. Para pengurus minta agar panti yang satu ini menggunakan nama ibu saya. Husni Dinar. Ibu saya minta izin kepada saya. “ Pengurus maunya nama panti nama Amak. Apa zeli setuju. “ Saya diam saja. Karena adik adik saya tidak setuju amak terus sibuk, Kawatir kesehatannya. 


Apakah ibu saya berhenti? tidak. Setahun jadi tuh panti kedua. Padahal tidak ada dukungan dari saya. Darimana ibu saya dapatkan dana? “ Disamping dari donatur, ya dari anak amak. “Kata Ibu saya tersenyum. 


“ Ya zel, amak itu tahu kalau dia minta ke lue, lue engga pernah tanya untuk apa. Main kirim saja. Dia pernah beli tanah tampa setahu kita. Eh tahu tahu tanah itu dia wakafkan untuk sosial.” Kata Kakak saya. Saya senyum saja. Kemudian dari OJK dan BI lampung tertarik untuk membantu pembangunan itu. Itupun setelah ibu saya punya lahan wakaf untuk bangun.


“ Zeli engga marah ke amak kalau amak terus aktif di sosial. Boleh ya Nak.” Kata ibu saya waktu saya datang ke lampung beberapa bulan lalu “ Boleh. “ Kata saya memeluk ibu saya. “ Maafkan aku mak, Kadang karena terlalu sayang aku ke amak,  sampai aku lupa perintah Tuhan bahwa misi manusia itu berbuat baik sampai ajal menjemput. “


Tuhan, sehatkan amakku. Karena diusianya diatas 80 tahun, dia tidak pernah berhenti peduli kepada anak anak miskin dan yatim. IBu saya adalah inspirasi saya.


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Pria itu

Harapan ...