Thursday, January 13, 2022

Ketuhanan YME

 





Pancasila itu adalah falsafah. Apa itu falsafah? Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab: فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = kebijaksanaan, kearifan), sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia.


Jadi pemahaman Ketuhan YME itu bukan dari segi Tuhan dalam konteks tauhid sesuai ajaran agama tertentu. Tetapi konsep Tuhan secara normatif yang diterima oleh semua agama. Jadi, kalau anda tidak beragama, maka anda tidak mengakui Pancasila sebagai Falsafah Negara. Mengapa? Mari kita bedah dari segi definisi kata perkata pada Ketuhanan YME.


Esa itu diambil dalam bahasa Sansekerta, yang  bentuk kata bendanya adalah Etad artinya, as this, as it is or THE. Mengapa ESA itu tidak berarti satu ? Kalau Tuhan itu SATU maka artinya Tuhan bisa didefinisikan dengan akal. Karena satu bisa berarti 2 minus 1 atau 2 bagi dua, dan seterusnya. Kalau Tuhan dapat didefinisikan maka Tuhan masuk dalam dunia persepsi. Engga ada beda dengan Mahkluk. Bisa kacau. Mengapa?  


Dalam dunia persepsi, tiap jiwa memiliki persepsi tersendiri. Kebenaran yang dimilikipun juga bersifat relatif terhadap yg lainnya. Tapi persepsi bukanlah hakikat, bukan kebenaran itu sendiri. Contoh konsep satu Tuhan, dua atau tiga , itu hanya persepsi dan bukan hakikat dari Tuhan. Dalam kontek teologi setiap agama memahami itu. Misal, dalam AL Quran surat Al ikhlas, Allah berfirman tentang diriNya, diawali dengan kalimat " katakanlah". Bukan dengan kalimat " Bahwa" atau " adalah"


Kehebatan orde baru adalah memelintirkan arti ESA menjadi SATU dan memasukan itu dalam KBBI ( Kamus besar bahasa Indonesia ). Apa tujuannya tak lain mengabaikan keberadaan agama selain Islam, dimana konsepsi tentang Tuhan lebih dari satu. Dan sampai sekarang masih saja sebagian umat Islam meyakini bahwa ESA itu adalah SATU , sehingga penafsiran Sila Pertama menjadi "Ketuhanan yang SATU”. Kemudian ditafisirkan lagi menjadi "Menyembah Tuhan yang satu. Padahal dalam bahasa Sansekerta yang dimaksud dengan satu adalah EKA. Bukan ESA. 


Lantas apa hakikat Ketuhanan Yang  maha Esa ? Bukan tentang Tuhan dalam bilangan SATU dan simbol tapi dalam bentuk manifestasi. Apa itu ? Kemana saja wajah kita hadapkan yang nampak adalah manifestasi Tuhan. Apapun yang ada di semesta ini adalah manifestasi Tuhan. Manifestasi sifat Tuhan itu akan nampak salah satunya pada orang beragama yang menegakan nilai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab ( akhlak ), bisa dipersatukan walau berbeda, bisa bermusyawarah walau berbeda paham dan berorientasi kepada keadilan sosial bagi semua.  Jadi Tuhan Yang Maha Esa adalah hakikat kebenaran, realitas absolut, seru sekalian alam, Tuhan semacam itu tetapi bukan  ini dan bukan itu. 

No comments:

Tahu diri..

  Tahun 1983, saya kalau pulang kerja kadang mampir ke Sarinah. Putri dari bibi saya kerja di Sarinah sebagai Pramuniaga. Saya hanya lewat a...