Politisasi agama

 




Dulu waktu masih usia 20an saya termasuk yang terprovokasi kebencian kepada Syekh Siti Jenar. Hampir semua ajarannya dianggap sesat oleh Guru ngaji saya. Tetapi usia 30an saya berusaha mendapatkan informasi objectif terhadap Jenar. Buku yang ada tidak didasarkan referensi yang kuat. Bahkan sebagian sejarawan  berpendapat bahwa sosok Syeh Siti Jenar hanyalah legenda yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Soal ajarannya “manunggaling kawulo gusti” itu sebenarnya copy paste atas pemikiran dari Al-Hallaj yang mengatakan “ana al-haq”. Ya semacam satire rakyat yang tidak suka kepada Ulama yang melakukan politisi agama untuk dapatkan akses kepada raja.


Tentang sosok pribadi Syeh Siti Jenar dari referensi yang ada. ia hidup pada abad ke-16 Masehi (1348-1439 H/1426-1517 M). Ia adalah putra Syekh Datuk Saleh, adik sepupu Syekh Datuk Kahfi, seorang penyebar agama Islam terkenal di Jawa Barat. Syekh Siti Jenar memiliki hubungan darah dengan dengan Sunan ampel.  Saat beranjak dewasa, Syekh Siti Jenar pergi ke Persi dan tinggal beberapa lama di Bagdad. Setelah itu, ia pergi ke Gujarat dan kembali lagi ke Malaka. Ia menikahi seorang wanita dan memiliki beberapa orang anak, antara lain Ki Datuk Bardud dan Ki Datuk Fardun.


Dari mentor spiritual saya, saya tercerahkan. Setidaknya saya berhenti paranoid tentang Siti Jenar, baik ajarannya maupun pribadinya. Mengapa ? “ Waktu itu ulama dari para wali sangat besar sekali pengaruhnya kepada kerajaan di jawa. Para raja ini memanfaatkan emosi agama agar rakyat patuh kepada raja. Setiap alun alun pasti ada Masjid raya. Dimana mana dibangun masjid. Itu cara politik ulama untuk memperkuat bargain politik kepada penguasa. Jenar, engga suka itu. Dia inginkan agama itu urusan pribadi antara manusia dengan Allah. Tidak ada definisi dan analogikan yang dipaksakan untuk memaknai Tuhan. “


“ Mengapa ? Tanya saya.


“ Kalau Tuhan bisa dianalogikan dan dikondisikan atas dasar dalil agama, maka manusia tidak lagi berTuhan, Tetapi sudah jadi kerumunan yang dikomado oleh iblis berwajah ulama. Mereka akan mudah jadi mangsa kekuasaan. Mudah jadi buih ditengah lautan. Agama sebagai rahmat bagi semua, menjadi rahmat bagi ulama saja. Itulah yang ditentang oleh Jenar.” 


Kala itu banyak pengikut Syekh Siti Jenar. Mereka tercerahkan akan kebebasan Individu dalam beragama dan bersosial. Umumnya rakyat jelata.  Yang diam diam menolak ulama berpolitik. Itu sebabnya atas provokasi ulama, Sultan Demak berusaha menghabisi pemikiran Jenar. Namun setiap berdebat. Para wali kehilangan narasi melawan Jenar. Mengapa ? karena kehebatan ilmu nalarnya ( Ilmu logika/akal). Dalil tentang syariat gampang sekali dipatahkan oleh Jenar. 


Bahkan dengan satire dia bilang. Manusia tidak perlu sholat kalau ingatan mereka tentang sorga dan takut kepada Tuhan masih ada dibenakannya. Tuhan itu sumber cinta, dan dekati Dia dengan Cinta. Manusia bisa mati karena kebencian dan rasa takut, tetapi tidak akan mati karena kemiskinan dan kezoliman penguasa. Karena cinta membuat manusia terus hidup bersama Tuhan. Cukuplah Tuhan dan aku saja. Ya eling lebih utama daripada ritual, apalagi ritual untuk citra politik.

Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Pria itu

Harapan ...