Tuesday, December 07, 2021

Menerima kenyataan.


 



Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. Anak ikut istri. Alasannya istrinya selingkuh. Dari wajahnya tidak nampak dia stress. Menjawab pertanyaan pun dengan santai. “Istri tertarik dengan pria lain, akhirnya selingkuh. Itu wajar saja. Dia butuh rasa aman. Kebetulan dia tidak aman bersama saya, yang kena PHK dan miskin. “ Katanya.


Itu sebabnya tidak ada yang pantas disebut korban dalam setiap peristiwa. Karena korban juga tidak ada jaminan bersih dari kesalahan. Yang merasa paling benar, bisa saja justru dia penyebab semua masalah. Kira kira itu yang dipahami supir Ojol. Dia tidak ingin menyebut dirinya korban ketidak setiaan istrinya. Saya yakin ada banyak orang seperti supir Ojol ini. Dia tidak suka mendramatisir hidupnya. Biasa aja.


Saya suka, melihat persoalan hidup ini dengan cara sederhana. Apa itu ? Berdamai dengan kenyataan. Itu artinya saya harus membunuh ego saya dan menghilangkan hasrat memiliki. Karenanya saya bisa senyum dalam menghadapi segala masalah. Koruptor itu memang merugikan negara dan memadamkan harapan rakyat lemah. Investasi tumbuh, APBN ribuan triliun, tetapi masih banyak pengangguran dan kimiskinan. Tetapi tidak ada kelaparan seperti di Afrika atau Venezuela, atau seperti era Orla atau era kolonial. 


Itu karena ruang dan zaman semakin terbuka, dan bebas. Orang kaya atau miskin, itu biasa saja. Karena yang kaya bisa saja jatuh miskin dan miskin bisa kapan saja kaya. Pejabat dan rakyat, itu hanya posisi. Kapanpun pejabat bisa jadi pesakitan masuk penjara. Rakyat bisa kapan saja jadi presiden. Lihat contohnya Pak Jokowi. Jadi soal status sosial bukan lagi bagi segelintir orang, tetapi bisa bagi siapa saja. Peluang untuk terjadinya perubahan bagi siapa saja itu terbuka. Masalahnya siapa yang bisa meliat peluang itu? Lagi lagi ini soal kebebasan memilih.


Lantas mengapa kita merasa kawatir dengan kehidupan ini?  Itu karena kita inginkan hidup seperti kita mau. Maunya kita hidup tanpa ada orang jahat, tanpa ada korupsi, tanpa ada orang kikir,  tak ada kemiskinan, tanpa ada orang maksiat. Itu mau kita, ya seperti mimpi negeri khilafah. Emangnya kita pemilik kehidupan?  Bumi yang kita tempati ini dalam gugusan tata surya hanya se-ukuran debu, dan mereka bergerak karena hukum ketatapan Tuhan. Apalah kita sebagai manusia yang mau mengatur hukum sebab akibat yang sudah ditetapkan Tuhan? 


“ Gunakan saja otak reptil yang ada untuk bertahan, dan gunakan otak mamalia untuk menikmati hidup. Dan gunakan otak intelektual dan spiritual kita untuk berdamai bahwa hidup memang tidak ramah. Kalau kita tidak bisa menerima kenyataan, itu artinya secara intelektual dan spiriual kita sudah mati” Kata teman. Saya tersenyum berusaha untuk paham


No comments:

Tahu diri..

  Tahun 1983, saya kalau pulang kerja kadang mampir ke Sarinah. Putri dari bibi saya kerja di Sarinah sebagai Pramuniaga. Saya hanya lewat a...