Saturday, December 18, 2021

Hukum alam...


 


“Pah, kok engga ada pakunya rumah ini. “ kata Oma memperhatikan setiap kontruksi rumah adat itu. “ Aneh, gimana bisa berdiri dan kokoh ya” lanjut oma dengan wajah terpesona. 


“ Rumah adat ini terbukti dalam sejarah tahan terhadap gempa dan bencana alam. Hanya  hancur oleh ulah manusia. Perang yang menghancurkannya. Dan kemudian di bangun kembali. “ kata saya mencoba mencerahkan. 


“ Papa belum jawab pertanyaan gua. Gimana bangunnya? Kata oma penasaran.


“ Rumah itu bangun sama seperti orang bangun kapal kuno. Untuk menghubungkan satu kayu dengan kayu lainnya mereka gunakan pasak. Pasak itu dari sisa kayu. Di tanamkan disela sela kayu yang terhubung secara lock. “


“ Lock itu apa ?


“ Lock itu  sudut sambungan kayu dibuat satu sama lain saling berlawanan. Ya sama seperti menyatunya unsur atom. Sehingga seimbangan dan saling mengikat. “


“ Ya kenapa begitu ?


“ Agar sambungan itu kokoh namun flexible. Dengan sistem itu akan membuat bangunan jadi kokoh terhadap goncangan karena gempa.”


“ Kok flexible jadi kokoh?


“ Hukum mekanika kan begitu. Semakin keras sambungan semakin mudah lepas oleh gesekan. Tetapi kalau flexible, ia akan kokoh walau ada goncangan sekalipon” 


“ Oh gitu ya”

“ Kehidupan juga sama. Kita engga boleh terlalu keras menancapkan hubungan kita  dengan orang lain. Ya seperti mama ke pada papa. Kalau mama engga flexible mana mungkin mama ikhlas izinkan papa bisnis di luar negeri dan jauh dari keluarga. Mana mungkin mama izinkan papa punya direksi dan mitra perempuan. Walau tugas suami menafkahi istri, namun papa beri mama kebebasan cari uang dan mandiri. Ya flexible aja.


Begitu juga dalam hal ilmu pengetahuan dan agama. Karena apa yang menjadi prinsip kemarin, bisa saja sekarang kondisinya berbeda. Kalau kita tetap dengan prinsip kemarin, maka  hari ini hubungan kita dengan sains atau agama akan terpisah. Jadi bigot kita. Ya kita harus flexible hidup. Itu yang disebut hidup berakal mati beriman.” 


“ penjelasannya ngerti tapi maksud hidup berakal mati  beriman itu apa sih. “


“ Rezeki memang ditangan Allah, tetapi kita harus rugi dulu baru untung. Kerja dulu baru dapat uang. Keluar biaya dulu baru dapat laba. Nah itu disebut proses hukum alam. Melewati Proses itu kan butuh akal. Engga bisa modal iman doang. Kalau hanya iman menanti rezeki dari Tuhan itu namanya bego. Engga berakal. Begitu juga. Kalau ingin dihormati dan dicintai orang lain, ya hasus mencintai lebih dulu. Berkorban lebih dulu. Kalau selalu meminta, dan berharap cinta akan kokoh ya itu bego namanya. Engga berakal. Paham ya..”


No comments:

Tahu diri..

  Tahun 1983, saya kalau pulang kerja kadang mampir ke Sarinah. Putri dari bibi saya kerja di Sarinah sebagai Pramuniaga. Saya hanya lewat a...