Monday, January 11, 2021

Film Porno: kemiskinan spiritual.

 



FZ dilaporkan ke Polisi karena  dia “like” situs porno. Memang mengunduh atau mengunggah materi pornografi merupakan pelanggaran (berdasarkan Pasal 292 KUHP) atau perbuatan pidana. Sebetulnya tanpa laporan, Polisi udah punya data siapa saja yang nonton situs porno di internet. Ada alatnya untuk itu. Hanya dengan adanya delik aduan menjadi lebih kuat. Dulu juga pernah  heboh. Ada aggota DPR yang sedang sidang nonto film BF lewat ipadnya. 


Saya tidak akan bahas soal kasus hukum like pornographi. Saya akan membahas fenomena bisnis industri porno.  Karena itu bukan hanya terjadi di Indonesia, di luar negeri juga sama.  Ini bisnis triliun rupiah karena demand nya tinggi. Di AS saja total omzet film porno mencapai USD 14 miliar setahun atau Rp 180 triliun. Belum lagi di Jepang, Eropa, Rusia dan China. Apalagi dengan adanya IT yang memungkinkan situs porno bisa diakses melalui gadget.  Tentu akan semakin marak situs porno dikunjungi orang. Di Jepang, fllm porno di produksi sebanyak 20 ribu judul tiap tahunnya


Artis dan aktor pun bayarannya besar. Untuk pemula saja honornya berkisar US$ 2.000 (Rp 28 juta) sampai US$ 6.000 (Rp 80 juta) sekali shooting. Bagi yang sudah tenar, honornya bisa mencapai US$ 10.000 (Rp 140 juta) hingga US$ 30.000 (Rp 400 juta) sekali shooting. Bahkan ada juga yang sampai dibayar US$ 100.000 (Rp 1,4 miliar) kalau si pemain sudah sangat terkenal seperti Shigeo Tokuda, aktor film porno asal Jepang yang lahir pada 18 Agustus 1934.


Walau banyak kajian dari aspek psikologi , sosial namu pada umumnya orang yang suka nonton film porno dikarenakan tiga hal. Pertama, kesepian. Kedua, kehidupan sek yang buruk.  Ketiga, sulit mengendalikan emosi. 


Pertama, kesepian, umumnya terjadi ketika libido naik dan dia tidak punya hobi lain yang bisa mengalihkannya. Sehingga dengan nonton film porno dia terpuaskan.  Padahal banyak cara lain utuk mengalihkannya. Misal, olah raga, membaca, kumpul bareng teman, menulis blog. 


Kedua, kehidupan sek buruk. Umumnya dia tidak pernah bisa memuaskan atau dipuaskan oleh pasangannya namun libido tinggi. Hubungan cinta hanya dimaknai dengan seks. Nonton film porno adalah kompensasinya. Padahal banyak kompesasi lain. Misal bercanda dengan pasangan atau ngobrol santai, travelling. Atau pergi ke tempat ibadah sama sama.


Ketiga. Tidak bisa mengendalikan emosi. Umumnya sipat pemarah atau kebencian, stress terhadap sesuatu cenderung membuat orang mengalihkannya ke nonton film porno. Padahal banyak cara lain untuk mengalihkanya. Misal, sholat atau yoga. Alasan ketiga inilah yang membuat film porno digemari dari semua kalangan. Dari kelas bawah sampai atas. Dari rakyat jelata sampai ke elite politik. Jadi demand nonton film porno adalah ripliksi dari masarakat yang miskin secara spiritual.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...