Friday, January 08, 2021

Darah dan Doa.

 



Ada film yang berjudul “ Darah dan Doa”. Film ini diproduksi tahun 1950. Film mengangkat kisah anak manusia yang terlibat dalam kancah revolusi kemerdekaan Indonesia. Kisa seputar agressi militer Belanda tahun 1948. Jadi menurut saya film ini diproduksi sangat dekat dengan kejadian sebenarnya.


Tersebutlah seoarang perwira TNI bernama Sudarto. Dia terpelajar dan berhati mulia. Sebetulnya dia tidak cocok untuk jadi seorang militer. Terbukti ketika dia memerintahkan pasukannya membebaskan warga jerman yang rumahnya disandera DII/TII. Perintahnya jelas. Kalau gerombolan DII/TII menyerah, jangan dibunuh. Tetapi bawa ke markas untuk diadili. Justru sersannya menembak mati semua gerombolan DII/TII yang menyerah. Alasan sersannya bahwa ada anak buahnya mati dalam baku tembak. Sudarto marah. “ Jangan gunakan Tentara Republik untuk membalas dendam.”


Karena pembebasan sandera itu, Sudarto jadi dekat dengan gadis Jerman, Corrie. Ada cinta membara. Namun terhalang oleh status Sudarto sebagai pria beristri. Mereka akhirnya berpisah ketika Sudarto dapat perintah untuk ikut membebaskan Yogya. Sebagai perwira Siliwangi, dia harus memimpin pasukannya longmarch ke Yogya. Sementara Corrie kembali ke Bandung. Berharap Sudarto mau menemuinya setelah perang usai.


Perjalanan longmarch itu melelahkan dan memakan korban tidak sedikit. Ada yang mati karena kelaparan, jatuh ke jurang dan ada juga yang mati dalam kontak senjata dengan Belanda dan gerombolan DII/TII.  Awalnya mereka sangat semagat. Namun setelah waktu berlalu, moral prajurit semakin surut. Mereka hampir kehilangan harapan. Bahkan mereka sampai berpikir kemerdekaan negeri ini hanya mimpi saja. Sudarto selalu tampil memberikan semangat dan harapan serta doa bagi masa depan bangsa. Dalam perjalanan itu Sudarto punya wakil. Sahabatnya, bernama Adam. Ternyata Adam berambisi mengambil alih jabatan Sudarto. Adam anggap Sudarto tidak bisa jadi tentara. Terlalu lemah. Apalagi dalam perjalanan itu hubungan Sudarto dengan gadis cantik petugas palang merah, Widyia, sangat dekat. itu jadi buah bibir dikalangan prajurit. Sebagai perwira, Sudarto tidak pantas dekat dengan gadis petugas palang merah. Akibatnya hubungan antara Sudarto dan Adam jadi memburuk.


Satu saat ketika pasukan mereka mampir disuatu desa, mereka diserang oleh gerombolan DII/TII. Sudarto terpencar dari pasukannya. Bahunya kena tembak. Namur berhasil diselamatkan oleh Widya. Gerombolan DII/TII berhasil dipukul mundur pasukannya. Sudarto ditemukan kembali oleh pasukannya sedang bersama Widya. Ketika kembali ke Jawa Barat dari Yogya, Widya gugur dalam serangan mendadak yang dilakukan oleh Belanda. Serangan itu berkat ada penduduk desa yang berkianat kepada pasukannya. Pasukannya masuk dalam jebakan Belanda. Walau pasukan selamat dan belanda bisa dipukul mundur. Korban berjatuhan dari pasukan Sudarto, termasuk Adam gugur.


Ketika sampai di perbatasan Bandung. Perbekalan peluru habis. Sudarto memutuskan masuk kota sendirian dan pasukannya tetap di gunung. Dia berusaha dapatkan peluru dari teman teman seperjuangannya yang ada di kota. Setelah mendapatkan perbekalan peluru, Sudarto sempatkan mampir ke rumah Corrie. Ternyata kesan corrie tidak semesra waktu awal bertemu. Justru kehadirannya ke rumah Corrie menggiringnya dalam jebakan intel Belanda. Dia tertangkap. Dijebloskan ke penjara. Disiksa untuk memberi tahu tempat pasukannya. Dia lebih baik mati daripada berkhianat terhadap pasukannya.


Sudarto dibebaskan setelah ada perjanjian damai antara belanda dan Indonesia. Sudarto melapor kepada induk pasukannya. Ternyata Markas besar sedang melakukan investigasi atas laporan Adam terhadap dirinya. Diapun di skor sampai investigasi selesai. Sudarto memutuskan tidak akan melanjutkan karirnya di militer. Padahal anak buahnya bersedia membelanya dengan memberikan kesaksian bahwa laporan Adam itu adalah fitnah. Alasanya dia tidak ingin melukai hati istri Adam yang setia selama penantian Adam pulang. Sementara Istri Sudarto pergi meninggalkanya dengan pria lain.


Belanda pulang ke negerinya. Soekarno kembali ke Jakarta. Berpidato membanggakan berkibarnya kembali bendera merah putih berkat perjuangan rakyat. Sudarto kembali ke masyarakat. Pada suatu malam. Seorang pasukan DII/TII datang ke rumahnya. Orang ini menaruh dendam atas kematian sahabatnya dalam serangan yang dilakukan pasukan Sudarto. Sudarto tidak melawan. “ Bunuhlah aku. Tapi cukup aku saja. Jangan yang lain.” Sudarto meninggal setelah peluruh menembus jantungnya. Sudarto orang baik. Dia senang bertempur dengan Belanda. Itu dianggapnya sebagai perjuangan membebaskan diri sendiri. Dia dikianati oleh Adam, sahabatnya sendiri. Ditinggal pergi oleh istrinya. Dikhianati oleh Corrie, gadis jerman yang dia bebaskan dari sekapan DII/TII. Dia bertempur dengan Belanda namun terbunuh bangsanya sendiri, DI/TII.

Hikmah cerita. Kemenangan perang semesta di negeri ini karena para pemimpin milter Indonesia orang baik, berhati mulia. Walau mereka dikianati namun tak mengurangi rasa kemanusiaannya dan tetap mengikuti disiplin militer untuk patuh kepada atasan, maju tak gentar untuk negeri yang mereka cintai.

No comments:

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...