Tuesday, October 27, 2020

Perlukah hafidz Al Quran.?

 



Saya belajar membaca Al Quran usia 5 tahun. Walau saya belajar mengaji di surau tapi guru ngaji saya sebenarnya adalah nenek dan ibu saya. Umur 6 tahun saya sudah khatam Al Quran. Yang jadi masalah adalah saya selalu gagal menghafal Al Quran. Otak saya sangat lemah soal hapalan. Tetapi setelah itu setiap habis sholat maghrib ibu saya minta saya membaca Al Quran. Ibu saya akan memberikan kisah hikmah pada setiap juz al Quran yang saya baca. Bukan hanya pemahaman tetapi juga dalam praktek sehari hari. Contoh waktu SMP, saya menemani ibu belanja sayur ke pasar. Dari sisa uang belanja, ibu saya memberikan kepada pengemis yang ada di sudut jalan. 


“ Kenapa kita harus bantu orang miskin. Sementara kita sendiri harus jalan kaki pulang. Kan bisa naik becak kalau uang tidak diberikan kepada pengemis.”

“ Ingat surat Al Baqarah ayat 83. Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat.  Paham, berbuat baik itu nak, tidak mudah. Bukan hanya sekedar kata tetapi perlu pengorbanan, seperti sekarang kita jalan kaki, bukan naik beca.”  Kata ibu saya. Tentu ibu saya  hapal Al Quran karena dia lulusan Pondon Pesantren. Tetapi hapalan yang dilengkapai penguasaa ilmu tafsir dengan baik.


Ibu saya pernah bercerita hikmah tentang sosok KH Ahmad Dahlan. Sepulang KH Ahmad Dahlan dari sekolah di Makkah. Banyak santri dari berbagai daerah menemuinya. Ingin belajar Al Quran dari beliau. Setiap hari para santri disuruh membaca Al Quran surat Al Maun. Setelah selesai. Beliaupun minta mereka ulang lagi membaca Surat Al Maun. Begitu seterusnya. Singkatnya para santri itu jauh jauh datang untuk berguru tetapi haya disuruh membaca Surat Al Maun. Akhirnya setelah berhari hari, diantara para santri itu memberanikan diri untuk bertanya, 


“ Mengapa setelah sekian lama kami belajar, hanya sebatas surat Al Maun. 


“ Coba terjemahkan Surat Al Maun itu.” Kata Kh Ahmad Dahlan. Salah satu santri itu menterjemahkan.


“ Aku dan kalian semua adalah pendusta agama. Karena tidak berbuat apapun untuk memberi makan orang miskin. Tahu arti pendusta agama? Itu sama mempermainkan Allah. Mengaku beriman tetapi tidak melaksanakan iman itu. Aku dan kelian semua adalah orang yang sholat. Tetapi Allah sebut kita sebagai orang yang celaka. Karena kita lalai dengan sholat. " Kata Kh Ahmad Dahlan


Menurut ibu saya, orang lalai dengan sholat itu bukan orang tidak sholat tetapi tidak mendirikan sholat. Apa itu? mencegah perbuatan keji dan munkar. Apa yang telah kita perbuat dalam mendirikan sholat itu? Sudahkah kita menebarkan kabaikan agar orang terhindar berbuat keji dan munkar? Kalau sudah, apakah kita lakukan itu dengan sombong. Sehingga perlu teriak teriak agar orang lain tahu betapa kita orang sholeh? Kalau iya, maka kita termasuk orang sholat yang celaka. Apakah kita merasa enggan memberikan bantuan karena engga ada untungnya? Kalau ya, itu artinya kita termasuk orang sholat yang celaka.


Suatu waktu Papa saya berkata kepada saya. “ Kamu engga usah sedih walau engga bisa menghapal Al Quran. Karena otak kamu engga mampu menghapal.  Tapi, kamu bisa jadi apa saja. Carilah ilmu sebanyak mungkin agar mencari rezeki mudah. Setelah mendapat, bantulah orang miskin, cerahkan orang lain, agar kamu dan orang lain tidak dianggap Allah penduta agama dan orang sholat yang celaka. “


Agama itu adalah perbuatan, bukan hapalan. Agama harus dipandang sebagai 'comprehensive commitment' dan 'driving integrating motive', yang mengatur seluruh hidup seseorang secara kejiwaan. Artinya, Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor), menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat. Tapi kalau memandang agama sebagai something to use but not to live, sebaliknya outputnya adalah  kebencian, iri hati, dan fitnah, munafik, anti perbedaan. Mengapa? Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama. Ia puasa, Sholat, naik haji dsb, tetapi tidak di dalamnya.


Sampai sekarang saya tidak pernah bisa menghapal Al Quran kecuali berapa ayat untuk pelengkap bacaan sholat. Itupun butuh tahunan saya bisa menghapalnya.  Saya jarang membaca dengan suara keras. Namun Al Quran di rumah penuh dengan stabilo untuk pengingat point tentang hikmah. Makanya kalau istri saya baca Al Quran, alam bawa sadar saya cepat sekali mengingat hikmah dari bacaan itu. Dalam setiap menghadapi masalah pelik, alam bawa sadar saya menuntun saya kepada hikmah Al Quran. Ternyata hikmah itulah yang sangat banyak membantu saya berproses jadi lebih baik dari waktu ke waktu.


Kalau ada fasilitas jalur tanpa test bagi calon mahasiswa yang hafidz Al Quran, itu bisa jadi karena orientasi kita adalah pendidikan dogma dan hapalan. Mudah terjebak ghurur (tertipu). Tertipu, karena dikira sudah beragama, ternyata belum. Beragama seperti ini, tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Alangkah baiknya bila bukan hanya hafidz tetapi memahami firman Allah. Tidak perlu memahami semua hikmah ayat Al Quran, cukup satu saja. Yaitu surat Al Maun. Bisakah? Kalau bisa, negeri ini sudah lama makmur. Tidak akan ada jutaan pengangguran lulusan universitas.


No comments:

Politik Baliho dan TNI terlibat.

  Jauh sebelum MRS datang dari Makkah, baliho tentang dirinya sudah ada. Di tempatkan hampir di semua sudut kota. Bahkan di kawasan perumaha...