Wednesday, August 05, 2020

Bersikap dalam perbedaan.


Waktu masih remaja saya kadang kesal dengan teman. Dia tidak sekolah. Dia selalu ganggu saya kalau lewat di gang menuju rumah saya. Dia lebih besar dari saya. Usia kami bertaut 4 tahun. Walau orang tuanya ada. Tetapi dia hidup di jalanan. Kerjaannya sebagai preman di pasar, dan di terminal bus. Setiap dia ganggu saya, saya hanya diam dan berusaha menghindar. Suatu waktu saya curhat denga ibu saya soal kebencian saya kepada teman itu. Yang membuat saya terkejut, ibu saya mengatakan, kalau kamu berteman dengan orang yang suka dengan kamu, itu biasa saja. Tetapi kalau kamu berteman dengan orang yang membencimu dan akhirnya jadi sahabatmu, itu baru hebat.

Sejahat apapun orang terhadapmu, jangan kamu balas dengan kebencian juga. Apapun yang dia katakan tentangmu, bahkan menghujatmu, jangan diladenin. Sabar saja. Mengapa ? ketika kamu bersabar dari kebencian orang, malaikat ada disekitarmu. Mereka berdoa kepada Tuhan agar kamu selamat. Pada waktu bersamaan Tuhan membangggakanmu di hadapa malaikat. Itulah keutamaan anak adam.  Ketika dia dihina dan dibenci, dia mengingat KU.  Karena dia percaya bahwa Akulah sumber cinta dan keselamatan.  Dia tidak berharap kehormatan dari manusia, dan cukuplah Aku tempat kembali semua urusan. 

Saya katakan kepada ibu saya bahwa bagaimana saya bisa tidak membencinya sementara dia terus mengganggu saya. Ibu saya katakan, itu karena di dalam dirimu juga ada kebencian. Itu akan terpancar dari auramu. Sehingga api bertemu api, maka terbakarlah emosi. Jadi caranya, cobalah ubah sikapmu mulai sekarang. Lihat sisi positipnya.  Teman kamu itu lahir dari keluarga yang tidak terdidik. Mereka sangat miskin. Teman kamu tidak pernah sekolah. Sangat berbeda dengan kamu. Kamu harus bersyukur bahwa kamu lebih baik dari dia. Karenanya kamu punya tanggung jawab untuk mencintainya, agar kamu bisa mengubahnya. Yakinlah, perubahan sikap dari benci ke cinta itu akan mengeluarkan energi positip yang besar. Cobalah.

Setiap saya lewat di gang  dan dia ada bersama teman temannya. Saya berusaha tersenyum. Walau dia nampak sinis namun saya tetap tersenyum. Setidaknya saat itu dia tidak lagi ganggu saya. Suatu waktu, saya dengar dia kena sakit. Badannya panas. Ada gondokan. Saya pagi pagi pergi ke pasar kambing untuk dapatkan empedu kambing. Itu saya berikan ke orang tuanya agar memberinya empedu kambing. Orang tuanya terharu. Saya gunakan cara ibu saya merawat saya kalau kena panas. Saya beli putih telur ayam kampung untuk kompres kepalanya. Kuning telur dicampur dengan kelapa hijau. Saya minumkan ke dia. Keesokannya badan berangsur pulih. Setelah itu dia jadi sahabat saya.  Dia sering main ke rumah. Saya ajarkan dia membaca dan menulis. 

Selama jadi sahabat saya, dia berubah. Tidak lagi jadi preman. Saya bujuk dia dagang ikan di pasar. Saya bantu dia kenalan dengan juragan ikan. Dia senang. Penghasilannya dari dagang ikan, bisa membantu kehidupan kedua orang tuanya. Ketika saya pergi merantau ke jakarta. Saya hanya punya baju dua setel. Sebelum bus berangkat , saya liat dia berlari ke arah bus. Dia menghadiahi saya baju 2 lembar.  “ Saya beli dari uang tabungan saya.  Jeli pakai ya baju ini ya. “ katanya yang tidak pernah saya lupa. Saya lihat dia menangis ketika turun dari bus. Beberapa tahun kemudian saya dapat kabar dari ibu saya. Dia bekerja di kapal. Dia sempat datang ke jakarta menemui saya di rumah.  Dia tidak berani masuk rumah saya. Hanya depan pagar. Saya lihat , saya rangkul dia walau bajunya kumuh. " Kenapa ragu masuk ke rumah saya. Kamu kakak saya, dan juga sahabat saya. Kita tidak akan pernah berubah " Kata saya berbisik. Dia terharu. 

“ Saya dapat kerja di kapal karena saya bisa membaca dan menulis. Kalau jeli engga ajarin saya membaca dan menulis, mungkin saya akan menua di kampung. Selama di kapal saya belajar mesin. Akhirnya saya dipercaya pegang mesin kapal. “ Katanya. 

Sampai sekarang saya tidak bisa membenci. Karena dari kecil saya tidak di didik oleh kedua orang tua saya untuk membenci. Bagaimana sikap saya terhadap perbedaan? Kalau saya tidak bisa mengubahnya, setidaknya saya tidak membencinya. Kalau cinta yang saya beri tidak berbalas, setidaknya saya tidak berprasangka buruk terhadapnya. Kalau pemberian saya tidak dihargainya, setidaknya saya bisa ikhlas berbuat. Apapun itu , bagi saya sama saja. Semua adalah cobaan dari Tuhan. Untuk apa ? agar kita berubah menjadi lebih baik karena waktu. Pada akhirnya manusia itu, bukan apa yang dia dapat tetapi apa yang dia beri. Bukan apa yang dipelajari tetapi apa yang diajarkan. Bukan apa yang dipikirkan tetapi apa yang diperbuat. Itu dasarnya cinta bagi semua. Paham kan  sayang.

No comments:

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...