Monday, May 11, 2020

Sudahilah drama Corona


Teman teman WA saya yang umumnya seusia dengan saya, sering sekali me share berita menakutkan soal Corona. Saya tidak begitu tertarik membahasnya. Karena mereka hanya me share berita bukan pendapat mereka sendiri. Namun secara tersirat sudah cukup menyimpulkan bahwa mereka korban provokasi menakutkan tentang Corona. Mereka adalah kelas menengah yang memang tampa ada PSBB atau social distancing atau lockdown ,mereka sudah lebih dulu lakukan. Mengapa? karena mereka sangat sadar harga dari sebuah kesehatan. Apa arti uang bagi kelas menengah kalau badan sakit. Mereka sangat tahu arti memanjakan diri.

Tentu berbda dengan kaum bawah. Mungkin bagi kelas menengah bawah atau yang rentan miskin, hidup mereka by condition memang sulit untuk disiplin kesehatan. Bagaimana kita bisa meminta mereka disiplin tentang kesehatan bila sebagian besar penduduk, jangankan di daerah, di jakarta saja banyak yang engga punya jamban. Tinggal di bantaran kali yang kotor. Lingkungan rumah yang berdesakan, gang yang sempit, miskin sinar matahari. Pasar tradisional yang kumuh. Warung pinggir jalan dan jajan yang tidak higienes. Adalah keseharian mereka, yang selama ini kita abai.

Karena PSBB dan prokol kesehatan perang terhadap virus Corona, semua aktifitas bisnis berhenti. Shutdown. Bagi kaum middle class yang punya kebebasan financial, andai setahun atau dua tahun WFH tetap bisa bertahan hdup. Tetapi bagi mereka kelas bawah sehari tidak bekerja adalah alarm kematian secara lambat. Mereka tidak berteriak seperti oposan. Mereka hanya diam. Mungkin doapun tak lagi punya kekuatan membuat mereka bisa bertahan. Tetapi hidup berlalu terus, karena selalu pada moment tak tertanggungkan oleh mereka, ada saja jalan untuk mereka bisa bergerak walau hanya sekedar melata.

Ketika kita menetapkan standar hidup tinggal di rumah, menjauhi kerumunan, jangan naik angkutan umum, dan menjaga jarak, , pernahkah kita bertanya bagaimana dengan standar hidup orang yang rumahnya ukuran 21 meter— yang mencicil atau menyewa—dan tinggal di gang sempit berdesakan, di bataran kali, dan hidup mengais rezeki dari kerumunan orang banyak, yang mengharuskan menggunakan angkutan massal. Apakah itu mungkin?. Jawablah dengan jujur? Narasi kepedulian soal ancaman Virona tak lain narasi hipokrit. Itu lebih cenderung ketakutan kepada diri sendiri.

Corona dalam dimensi moral dan politik adalah narasi paradox terhadap nilai nilai kehidupan. Orang survival bukan karena donasi tetapi karena struggle diatas resiko kalah atau menang. Kalau upaya struggle dihalangi secara politik dengan alasan kawatir CORONA, sebetulnya kita sengaja menghilangkan nilai nilai kehidupan dan kita sedang mengubur orang miskin kedalam lobang tanpa harapan…

Sudah cukup drama Corona, saatnya tirai ditutup untuk kembali kepada kehidupan nyata, dalam suka dan duka,. Bergandengan tangan dalam semangat egaliter, membantu mereka yang didera derita, menghapus air mata mereka dengan hope. Semua akan baik baik saja. Karena coronga kita semua tercerahkan dan berubah…

Corona pesan dari Tuhan.
Saya sempat melakukan riset sederhana untuk mengetahui bagaimana COVID-19 ini mudah menular kepada manusia. Bagaimanapun Virus itu makhluk hidup. Tentu dia punya ekosistem  sendiri untuk bisa bertahan hidup. Apa yang membuat dia mudah menular ? ternyata terletak pada protein di permukaan virus. Protein ini bentuknya 'runcing' yang dengan mudah nyantol di membran sel inangnya. Gimana dia bisa nyangkut ? Itu karena di inang tempat cantolannya ada enzim Furin. Nah enzim ini hanya ada di Paru paru, lever dan usus kecil pada manusia. Lain tempat engga ada. 

Kalau kita baca hasil penelitian yang banyak dilakukan oleh lembaga riset, seperti oleh Harvard Medical School, bahwa gangguan kecemasan berisiko besar untuk alami sejumlah kondisi medis kronis. Juga US National Institutes of Health's National Library of Medicine, mengungkapkan bahwa emosi bisa memengaruhi kesehatan tubuh, khususnya sistem saraf tepi bagian viseral. Juga peneliti dari Finlandia bahwa organ tubuh dapat dipengaruhi oleh emosi sukacita, kemarahan, kesedihan, ketakutan dan pensiveness.

Nah penyakit paru paru itu dipengaruhi adanya kesedihan dan kecemasan yang berlebihan.  Seorang yang tak bisa menerima kenyataan atas kehilangan sesuatu, merasa direndahkan, tidak dihormati, cenderung dirudung kesedihan yang tak bertepi. Biasanya setelah itu akan diikuti oleh rasa tidak aman ( insecure ).  Timbulah rasa kawatir berlebihan. Kecemasan yang kadang tidak masuk akal. Tetapi karena dia sangat sensitif, kecemasan yang dirasakannya kadang berlebihan.  Orang yang mudah sedih dan cemas, rentan sekali terkena penyakit paru paru.

Penyakit Lever, dampak dari sifat membenci dan sangat mudah marah. Dia terlalu baper terhadap apapun persoalan. Kadang hal yang sifatnya humor atau satire bisa disikapinya berlebihan dengan marah. Karena dasarnya benci maka apapun disikapinya salah, dan  cenderung emosian. Sulit sekali berpikir positip. Apalagi memaafkan. Dampak sifat pembenci dapat mengakibatkan hipertensi dan pada giliranya mempengaruhi asam lambung dan jatung.

Usus kecil, itu karena orang terlalu memaksakan apapun sesuai maunya. Dia terlalu keras terhadap dirinya agar semua bisa berjalan seperti dia mau. Padahal kehidupan bukan memaksakan seperti kita mau tetapi melewatinya dengan rendah hati. Berusaha berdamai dengan kenyataan. Kalau enga, maka bisa  menyebabkan ketidakharmonisan dan ketidak stabilian mental. Sulit konsentrasi dan gampang melankolis.

Apa artinya? Corona hadir seakan utusan Tuhan yang mendidik kita untuk ikhlas. Mengapa ? Kalau kita ikhlas maka tidak ada kesedihan dan kekawatiran. Apa yang terjadi, terjadilah, sehingga Paru paru kita aman. Tidak perlu ada kebencian dan harus marah. Sehingga lever kita aman. Dan terakhir engga perlu harus ngotot segala sesuatu seperti kita mau. Lalui hidup dengan kerja keras namun tetap relax, apa adanya. Kalau bersua sesuai dengan harapan, ya sukuri, kalau engga, ya bersabar.  

Kalau tiga penyakit itu kita aman maka sistem antibodi kita pada paru paru, lever dan usus bisa melawan Corona. Kalaupun kita terjangkit, dalam status orang tanpa gejala ( OTG). Berlalunya waktu atau hitungan hari, kita akan sembuh sendiri dan imune terhadap COVID-19. Tapi kalau kita punya riwayat penyakit salah satu atau ketiganya, maka COVID-19 memang bisa bedampak fatal sekali. Benarlah bahwa kekuatan ikhlas itu maha dahsat. Bukan hanya membuat organ kita aman tetapi juga hidup kita jadi happy. Tetapi memang di era modern dan kapitalis, sifat ikhlas itu engga mudah, dan karenanya pesan corona menjadi menakutkan.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...