Monday, May 18, 2020

Hurrem yang cantik dan berbisa..


Gerombolan liar menyerang desanya. Dalam perisitwa itu ayah dan Ibunya serta adiknya terbunuh. Dia dijual ke pasar budak. Bangsawan Turki membelinya dan dihadiahkan kepada Istana Topkapı, Kesultanan Ustmaniah. Namanya adalah Hürrem. Dia lahir di Rutenia, Slavia (Rusia). Ia putri pendeta Ortodoks Ukraina. Agamanya kristen Ortodoks. Ketika itu Sultan Ustmani adalah Suleiman I , yang merupakan Sultan ke 10 dari dinasti Ustmani. Selama di istana dia ditempatkan khusus di apartement para selir. Memang kecantikanya paling menonjol dibandingkan selir lainnya.  Di samping itu ambisisnya ingin menjadi selir pavorit Sultan sangat besar.  Dia punya dendam pribadi dengan masa lalunya yang kelam. 

Sudah tradisi di lingkungan Istana, para selir itu sebelum dipersembahkan untuk malam jumat di kamar Sultan, mereka harus mengikuti pendidikan kepribadian hidup sebagai wanita bangsawan. Mereka juga dididik ketrampilan ditempat tidur memuaskan sultan. Jadi bukan hanya cantik, kepribadian juga penting bagi Sultan. Semua selir itu langsung di bawah pengawasan ibu Suri Hafsa Hatun Sultan. Dari sekian selir itu tidak semua akan merasakan kehangatan di kamar kekaisaran. Hanya segelintir saja yang qualified. Bagi selir yang termasuk pavorit Sultan akan mendapat hadiah budak, yang juga dari kalangan selir yang downgrade. 

Mengapa saya ceritakan tentang seorang Hürrem?. Karena dia bukan beragama islam. Kalaupun kelak dia masuk islam, itu hanya cara dia untuk merebut hati sultan dan menjadi selir primadona Sultan. Itu bisa dimaklumi karena dia harus bersaing dengan , Mahidevran Gülbahar, permaisuri Sultan yang berasal dari keluarga bangsawan. Juga cantik dan telah punya anak laki laki dari Sultan, bernama Mustafa. Otomatis anaknya jadi putra mahkota. Walau koleksi  selir sudah jadi tradisi beratus tahun para Sultan Ustamani, tetap saja ada sifat cemburu permaisuri terhadap para selir itu. Terutama yang masuk pavorit Sultan, yang salah satunya Hurem.

Di sisi lain, ketika Sultan Suleiman I hatinya kepicut kepada Hurem,  Hurem pun cemburu dengan permaisuri, Mahidevran Gülbahar. Hurem tidak menyadari bahwa dia hanyalah selir. Namun dia sudah terlanjut jatuh cinta kepada Suleiman. Dia berusaha bagaimanapun membuat Suleiman tidak berjarak dengannya. Bukan hanya sekedar selir. Terjadilah perang batin dan cemburu antara selir dan permaisuri. Akhirnya berkat kehebatan Hurem memainkan perannya sebagai wanita penghibur diatas tempat tidur, Sultan pun jatuh cinta dan menjadikannya sebagai istri. Walau menentang tradisi kesultanan yang terlarang menikah dengan selir, namun tradisi itu ditabrak oleh Suleiman demi cintanya.

Ambisi Hurem untuk menguasai kesultanan Ustamani semakin besar sejak dia melahirkan anak laki laki bernama  Selim. Tahun tahun berkitnya lahirkan anak,  Bayezid, dan Jihangir. Sementara dari Permaisuri yang pertama, Sultan hanya punya anak satu yaitu Mustafa. Hurem kawatir akan nasip putranya Selim. Karena kemungkinan besar yang akan jadi putra mahkota adalah Mustafa. Apalagi Mustafa diakui memiliki talenta lebih besar dibanding anak Sultan lainnya, dan juga mendapat dukungan Pargalı İbrahim Pasha, yang ketika itu menjadi Wazir Agung,  Mustafa juga punya kepribadian yang hebat. Dia cerdas dan terdidik secara agama. 

Dalam tradisi kesultanan Ustmani, setiap selir yang punya anak harus tinggal di luar istana bersama anaknya sampai anak itu dinyatakan sebagai penerus tahta kesultanan. hanya Harem yang selir tidak pernah keluar dari lingkungan istana. Hurem berusaha agar dia tidak dipisahkan dengan Sultan untuk membesarkan anak anaknya di luar istana Topkapı. Dan dia berhasil.  Selanjutnya Hurem menciptakan intrik di lingkungan istana. 

Meskipun Hurrem adalah seorang istri Sultan, dia tidak memiliki peran resmi apa pun dalam pemerintahan, tetapi demikian ia tetap memiliki pengaruh politik. Karena kesultanan tidak memiliki aturan formal, pergantian kekuasaan biasanya diwarnai oleh pembunuhan di antara pangeran-pangeran yang bersaing memperebutkan takhta. Bagi penganut ajaran khilafah tradisi ini dibenarkan agar tidak ada dualisme kekuasaan khalifah. Hurrem sadar betul cara bagaimana anaknya bisa naik tahta. Agar anak-anaknya terhindar dari hukuman mati atau pembunuhan, Hürrem menggunakan pengaruhnya untuk menyingkirkan mereka yang mendukung Mustafa. Dia menggunakan pendekatan politik dari atas ranjang.

Hürrem memprovokasi Suleiman untuk membunuh Ibrahim dan menggantinya dengan menantunya, Rustem Pasha. Pada tahun 1552, ketika kampanye melawan Persia dimulai dan Rustem ditunjuk sebagai komandan ekspedisi, intrik melawan Mustafa dimulai. Rustem mengirimkan salah satu orang kepercayaan Suleiman untuk melaporkan bahwa  Suleiman tidak lagi memimpin, pasukan berpikir bahwa inilah saatnya seorang pangeran yang lebih muda untuk menggantikannya; pada saat yang sama Rustem menyebar isu bahwa Mustafa mendukung ide itu. Suleiman marah dan menuduh Mustafa hendak merebut kekuasaan.

Ketika Mustafa kembali dari kampanye di Persia, Suleiman mengirim surat kepada Mustafa untuk datang ke tendanya di Lembah Ereğl. Dalam surat itu Suleiman berpesan ”Mustafa dapat datang dan menjelaskan semua permasalahan yang dituduhkan kepadanya; tidak ada yang perlu ditakutan”. Mustafa hanya memiliki dua pilihan: ia datang kepada ayahnya dengan risiko dibunuh; atau, bila ia menolak datang, ia akan dituduh berkhianat. 

Mustafa akhirnya memilih untuk menghadap ayahnya dengan keyakinan bahwa pasukannya akan melindungi dia. Ketika Mustafa memasuki tenda ayahnya, salah seorang kasim Suleiman menyerangnya. Mustafa mencoba bertahan namun kewalahan dengan banyaknya penyerang dan akhirnya tewas dicekik menggunakan tali dihadapan Suleiman, ayahnya sendiri. Atas kejadian ini membuat Jihangir, putri dari Hurrem sangat sedih. Dia tidak mengerti mengapa Ayahnya tega membunuh kakak tirinya. Belakangan kesedihannya semakin bertambah sejak tahu dibalik pembunuhan itu adalah ibunya sendiri, Hurrem. Jihangir akhirnya meninggal karena depresi.

Tinggalah dua orang anak dari Hurrem, yaitu Bayezid dan Selim.  Hurrem memprovokasi Sultan agar memberikan masing masing anaknya wilayah kekuasaan. Namun Hurrem sulit menerima sikap anaknya, Beyezid yang menentang Suleiman. Diapun memprovokasi anakya Selim agar menghabisi Beyezid. Suleiman membantu gagasan Hurrem ini. Tanggal  15 April 1558 Hurrem meninggal. Setahun setelah itu perang terjadi antara pasukan anak dan ayah  di Konya pada tahun 1559, menyebabkan Beyezid lari ke Persia bersama empat anaknya.  Apakah selesai? tidak. Suleiman memprovokasi Shah Persia agar mengekstradisi atau mengekeskusi Beyezid dengan imbalan sejumlah besar emas. Shah akhirnya mengizinkan algojo dari Turki untuk mengeksekusi Beyezid dan keempat anaknya- cucu Hurrem- pada tahun 1561

Dengan demikian memuluskan jalan Selim ke tampuk kekuasaan.  Karena dia satu satunya pewaris tahta.  Pada tanggal 5 atau 6 September 1566, Suleiman memimpin pasukan dalam ekspedisi ke Hongaria. Pasukan ustamani kalah, dan Suleiman meninggal dunia. Selim pun menggantikan ayahnya memimpin Kekaisaran Ustamani dengan gelar Sultan Selim II. Dalam sejarah, Sultan Selim II pernah mengirim angkatan lautnya ke Aceh untuk membantu kesultanan Aceh menghadapi Portugis. Namu pasukan yang sampai ke Aceh hanya 500 orang  karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 1571. Selama kekuasaanya Selim II melakukan berkali kali ekpedisi penaklukan. Namun tidak semua berhasil. Justru uang habis dan mengakibatkan kemunduran kesultanan ustamani. Terutama setelah pertempuran laut Lepanto tahun 1571.

Dalam buku "The Seeds of Decline”, Lord Patrick Kinross menyebutkan kemunduran Ustamani karena kemerosotan moral di kalangan elite dan Panglima lapangannya. Reputasi Selim II secara pribadi juga buruk. Dia suka mabuk mabukan dengan selirnya. Sehingga tidak focus seperti ayah dan kakeknya Sultan Muhammad Al Fatih. Selim meninggal setelah sakit akibat tergelincir di lantai ruang mandi yang belum selesai. Itu bisa saja terjadi karena dia dalam keadaan mabuk berat. 

Dari kisah tentang Hurrem ini seakan mengingatkan kita bahwa selalu jalan kemunduran kekuasaan terjadi, dan selalu karena merosotnya moral. Andai Sultan Suleiman tidak pernah jatuh cinta dengan selirnya dari Rusia, Hurrem, mungkin sejarah akan berkata lain. Tetapi inilah pelajaran bagi kita semua. Bahwa akhlak itu sumber kekuatan bagi siapa saja dan di mana saja..Kalau akhlak  merosot maka kejatuhan hanya menghitung hari.

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...