Saturday, May 23, 2020

Lebaran telah tiba...



Di bulan ramadhan terjadi perang paling bersejarah bagi Umat islam.  Yaitu perang Badar, Perang Khandaq, Penaklukan Kota Makkah, Perang Tabuk, keempat perang ini dipimpin langsung oleh Nabi yang menghasilkan kemenangan gemilang. Kemudian, perang Ain Jalut merupakan perang besar yang terjadi pada 3 September 1260 antara orang-orang muslim Mamluk dengan bangsa Shamanis Mongol. Ini adalah perang  dengan kekalahan pertama pasukan Mongol setelah sebelumnya mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri besar lainnya, termasuk Cina. Pembebasan Andalusia ( Spanyol ) yang dipimpin oleh panglima Tariq bin Ziyad dari dinasti Umayyah. Di  Indonesia, Proklamasi kemerdekaan Indonesia di kumandangkan pada bulan Ramadhan. 

Bagi umat islam , ramadhan itu bulan yang sangat sakral. Bahkan dalam situasi ancaman dan tersulitpun, perjuangan di bulan Ramadhan diyakini akan mendapatkan berkah dari Tuhan. Di bulan ramadhan kali ini umat islam menghadapi cobaan terberat yaitu harus patuh kepada protokol  PSBB sebagai cara memberikan dukungan kepada paramedis yang berada di garda terdepan dalam perang melawan COVID-19. Kita bisa bayangkan di tengah lapar dan haus , paramedis yang beragama islam harus melayani mereka yang kena infeksi COVID-19 dengan resiko mereka juga bisa tertular. Kita yang bersabar menahan diri tetap patuh terhadap protokol PSBB secara tidak langsung telah ikut ambil bagian dalam perang melawan COVID-19

Lihatlah dampak dari COVID-19 betapa kita tidak berdaya. Orang mengaku solehpun kehilangan narasi untuk berkata sombong bahwa dia kebal terhadap COVID-19. Betapa negara yang kaya dan paling tinggi produksinya seperti China tidak berdaya dengan pandemic COVID-19. Bahkan AS yang negara digdaya , juga menyerah dengan COVID-19. Karena itu selama pandemic COVID-19 kita tak lagi mendengar deru pesawat tempur Arab membombdir Yaman, Tak lagi mendengar Helicopter Turki menembaki tentara suriah di perbatasan. Tak ada lagi rudal AS dan Iran saling berterbangan untuk saling membunuh. Dunia damai, dan tersungkur dalam keputusasaan diatas kesombongan di hadapan COVID-19.

Ramadhan usai, tidak ada pesta kemenangan yang layak dirayakan sebagai bagian dari budaya kita orang Indonesia. Perang melawan COVID-19 belum usai. Sama seperti ketika Nabi memenangkan perang Badar, beliau berkata, bahwa perang belum usai. Perang melawan hawa nafsu adalah perang terbesar sepanjang hayat di kandung badan. Mungkin hikmah yang kita dapat dari adanya COVID-19 adalah pesan cinta dari Tuhan, bahwa tidak ada kemenangan yang sesungguhnya selagi kita masih hidup. Selama kita masih hidup adalah battle field untuk menjadi sebaik baiknya kesudahan.  Bukan hanya di  hari raya Idul fitri kita bermaafan.  Tetapi setiap tarikan nafas kita harus terus menyuarakan cinta dan maaf memaafkan kepada siapapun.  

No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...