Thursday, January 17, 2019

Mengalah, bukan kalah.



Mungkin ada sebagian anda yang sebagai anak tertua harus berkorban demi adik adik agar mereka jadi sarjana dan anda harus cari uang membantu orang tua membiayai adik adik. Mungkin ada pengusaha harus jual harta pribadinya untuk membayar gaji karyawan agar perusahan tetap jalan. Mungkin ada juga yang harus rela berpisah dengan kekasihnya demi kebaikan masa depan kekasihnya. Mungkin juga mengorbankan kebebasan pribadinya setelah dia menjadi ibu rumah tangga dimana harus focus mengurus suami dan anak-anak. Artinya pengorbanan bukanlah sesuatu yang langka. Dapat terjadi kepada siapa saja asalkan dihati orang masih ada bahasa cinta.

Dalam kehidupan yang lebih luas dalam hal apapun , dimanapun, akan selalu ada orang harus mengalah dengan cara mengorbankan dirinya. Soal bagaimana dan seberapa berat pengorbanan itu tergantung persepsi masing masing. Yang jelas ketika orang harus berkorban maka itu terjadilah. Itu kehendak Tuhan sebagai bentuk kecintaan Tuhan kepada dirinya. Ahok dari awal sangat yakin dia akan menang. Elektabilitas dan popularitas nya sangat tinggi bila dibandingkan dengan paslon lainnya. Namun akhirnya harus kalah maka itu adalah sebuah pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar nilainya. DKI hanyalah sebuah kota dan Ahok sudah buktikan pengorbanannya. Dan disaat dia harus berkorban lebih besar untuk Indonesia, dia tidak akan ragu karana itu.

Lantas siapa yang mengorbankannya ? Ahok mengorbankan dirinya sendiri lewat proses politik yang ada. Mengapa ? Ahok adalah pemain politik yang sangat paham percaturan politik yang dimainkan oleh para elite partai. Ibarat pemain bola dia tahu kemana arah bola akan dioper oleh temannya dan tahu dimana dia harus berada agar memberikan peluang bagi temannya untuk bebas memasukan bola ke gawang, untuk akhirnya memenangkan permainan.. mengapa saya katakan itu ? Karana dia petanaha yang menguasai akses ke semua infrastruktur politik dan birokrasi di DKI. Menjelang hari H pilakda DKI, Mike wakil presiden AS memastikan berkunjung ke Indonesia. Setelah itu catur yang sudah dalam formasi dirombak total olek elit partai. Konsesus senyap terjadi. Ahok tidak berdaya. Dia sadar ini saat nya dia berkorban. Malam sebelum Pemilih DKI masuk ke bilik suara, Ahok sudah tau dia akan kalah. Makanya kekalahan itu bisa dia terima. Akhir babak kita tahu bagaimana tenangnya Ahok meninggalkan balaikota dan menerima keputusan hakim sebagai terpidana.

Kita yang orang awam tidak akan bisa menerima kenyataan politik bagaimana orang sebaik itu harus dikorbankan. Tetapi kita lupa bahwa Ahok di usung oleh PDIP yang punya target memenangkan Jokowi dalam periode kedua. Dan memastikan PDIP sebagai pemenang pemilu 2019. Kalau Ahok menang ongkos politik akan sangat mahal menjaga stabilitas politik akibat emosi agama menjadi kayu bakar yang akan membuat api semakin besar berkobar. Dan AS ada dibelakang paslon ASU yang siap menjadikan Indonesia Suriah kedua. Sementara keadaan ekonomi butuh stabilitas politik untuk proses recovery akibat ulah SBY.

Dengan naiknya ASU, proses politik memotong kaki lawan politik dapat terjadi efektif bedasarkan UU. Proses menjadikan Jokowi untuk menang semakin terbuka sejak Wowo bertemu secara pribadi dengsn LBP untuk menjadi Capres. Bayangkan kalau yang maju capres adalah HRS dan anggota dewan syuro PKS. Kita akan menghadapi goncangan politik keras sekali. Engga bisa santai lagi di Cafe sambil minum kopi ngetawain kaum Kampret lewat sosmed. Ahok tidak kalah. Dialah pemenang sesungguhnya. Hanya Tuhan yang bisa membalas pengorbanan itu dengan sebaik baiknya pahala.

Kalau ahoker golput maka dia sebenarnya membuat pengorbanan Ahok sia sia. Mereka tidak mengenal siapa sebenarnya Ahok. Ingat ungkapa bijak orang china “ awalnya membangun jalan itu memang sakit dan luka. Namun dengan terbukanya semak belukar jalan pun tercipta”

No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...