Sunday, January 20, 2019

Damai itu adalah berkah.



Tahun 1984 tragedi Tanjung Priok saya berada ditengah tengah konplik antara penguasa dan rakyat. Siapalah saya. Anak muda usia 21 tahun yang sedang berjuang di rantau mencari jati diri. Hanya karana saya aktif dalam pengajian tarikat dan tepat pada saat pengerebekan oleh aparat saya kebetulan sedang berada di lokasi. Saya merasakan siksaan demi siksaan dengan tuduhan yang merendahkan harkat dan martabat saya sebagai umat Islam. Setelah sekian hari, sayapun dilepas. Namun itu memberikan pelajaran mahal bagi hidup saya selanjutnya. Bahwa jangan pernah melawan penguasa. Jangan!. Selagi mereka di pilih karena konsesus orang banyak, patuh lah. Walaupun sistem sangat menindas para pembangkang.

Setalah itu sayapun focus kepada hidup saya pribadi. Bagaimana saya bisa mandiri tanpa perlu bergantung kepada manusia apalagi kepada penguasa. Cukuplah Tuhan tempat saya bergantung. Namun dalam bisnis berkali kali saya jatuh karena kebijakan rezim Soeharto yang cenderung monopoli dan penuh dengan KKN. Saya tetap punya perasangka baik. Tidak pernah saya mengeluh. Setiap pemilu saya tetap memilih. Pilihan saya adalah partai persatuan pembangunan ( PPP). Tidak pernah saya golput. Saya tahu kemungkinan menang sangat kecil tetapi saya bersyukur pemilu ada. Dengan itu saya punya setitik harapan untuk berjuang melakukan perubahan lewat demokrasi.

Ketika PDI dalam munas menunjuk Megawati sebagai ketua umum. Saya tentukan pilihan saya kepada PDI. Mengapa ? Alasannya karena kezoliman demi kezoliman di hadapi Megawati. Ketika itu praktis kekuatan partai Islam dan ormas Islam sudah berada di lingkaran Soeharto. Megawati menghadapi rezim tidak dengan mengerahkan massa. Dia tempuh jalur hukum walau kecil sekali akan menang. Namun Mega telah melakukan pendidikan politik yang hebat. Bahwa kalau mencintai negeri ini, apapun itu jangan pernah tidak percaya dengan Hukum. Walau akhirnya Mega kalah tetapi pendidikan politik tercipta dan semangat perubahan terjadi. Puncaknya rakyat bersama mahasiswa berani melalui aksi secara kolosal menduduki gedung parlemen. Soeharto jatuh.

Ketika PDIP menang Pemilu, saya terharu melihat ketegaran hati Mega yang dijegal dalam voting pemilihan presiden di MPR. Mega tanpak tegar dikalahkan oleh Amin Rais dkk dalam poros tengah. Padahal PDIP Partai pemenang pemilu. Gus Dur yang terpilih sebagai presiden. Kemudian pemilu berikutnya saya tetap memilih Megawati. Kalah berhadapan dengan SBY. Berikut nya tahun 2009 kalah lagi. Saya tetap tidak kehilangan harapan. Tahun 2014, Mega mundur dalam kontestan Pilpres. Yang maju adalah Jokowi. Saya tetap memilih Jokowi. Melihat koalisi gemuk dibelakang PS, saya tetap punya harapan. Akhirnya Jokowi menang tipis atas PS. Mega berhasil menempatkan seorang tukang kayu yang bukan elite partai. Bukan Jendral ke panggung poltik nasional. Menjadi presiden dengan populasi nomor 4 terbesar di dunia. Tampilnya Jokowi memberikan harapan kepada semua anak bangsa untuk bisa menjadi Presiden. Siapapun itu.

Saya hadir dalam aksi 411 dan 212. Bukan karena saya pendukung aksi. Saya hanya mau lihat dengan mata kepala. Apakah Jokowi sama dengan Soeharto? Saya terharu. Bukan karena jumlah massa yang banyak tetapi karena tidak ada satupun peluru tajam keluar dari moncong senjata. Walau hujatan kepada Jokowi begitu mengerikan. Hampir tidak bisa dipercaya orang teriak agama tetapi mengumpat dan mengancam. Semua selesai dengan Happy ending. Ulama dan pemeintah semakin akrab. Kemitraan yang terhormat atas nama kebaikan dan kebenaran. Yang membuat saya terharu lagi adalah last to minute Megawati menunjuk KH Ma’ ruf Amin sebagai cawapres mendampingi Jokowi Pilres 2019. Tak pernah terbayangkan era Soeharto ini bisa terjadi. Seorang ulama jadi calon orang nomor dua di republik ini.

Jokowi hebat namun tanpa sentuhan hati seorang Mega, seorang ibu, engga mungkin pemerintah Jokowi begitu tegarnya untuk terus berupaya membangun persatuan, memadukan perbedaan melalui pendekatan cinta. Itulah yang kadang membuat kita salah menilai seakan Jokowi lemah. Bagi Mega tidak ada musuh. Semua adalah anak bangsa. Semua punya hak demokrasi. Indonesia harus dibangun dengan semangat kemandirian dan kepedulian kepada kaum duafa. Jokowi telah mentunaikannya selama 4 tahun ini walau dihantam badai fitnah tak henti.

Saya tidak berharap proteksi bisnis dalam program ekonomi Jokowi. Saya tidak punya bisnis rente. Tidak juga memanfaatkan hubungan pertemanan dengan elite partai untuk bisnis. Saya bukan kader partai. Saya pilih Jokowi hanya karena tidak ingin ada kekerasan atas nama hukum. Apalagi kekerasan karena alasan politik. Cukuplah generasi saya yang pernah merasakan. Damai itu mahal sakali. Berkah tak terbilang. Jagalah itu.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...