Tuesday, September 04, 2018

Memahami ekonomi secara idiot.




Kemarin ada rapat terbatas bidang Ekuin khusus masalah kurs rupiah yang melemah. Rapat dihadiri oleh Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, Menko Maritim, Menteri Perdagangan. Gubernur BI. Dalam rapat itu, Jokowi mendapat penjelasan dari Menteri keuangan bahwa kurs yang melemah karena masalah defisit transaksi berjalan. Namun dampak terhadap kurs tidak significant karena inflasi terjaga. Pemerintah akan segera mengeluarkan kebijakan untuk memperbaiki desifit transaksi berjalan. Ada dua yang utama kebijakan pemerintah tersebut. Yaitu pertama, menaikan tarif pajak atas beberapa produki impor agar terjadi proses produksi substitusi Impor. Kedua , karena komponen defisit terbesar adalah impor migas, maka pemerintah akan melarang hasil produksi migas untuk di eksport semua. Tetapi utamakan pasar dalam negeri dengan transaksi rupiah.  Kebijakan pertama, akan butuh waktu untuk dirasakan dampaknya. Tapi kebijakan kedua akan segera dirasakan dampaknya. Kalau melihat Defisit CA USD 8 miliar maka kewajiban Domestic market obligation atas MIGAS akan segera membuat kita surpplus. Masalah selesai. Sederhanakan? tapi untuk mencapai kebijakan itu memang perlu keberanian dan alasan yang kuat. Kinilah momentumnya.

Kesalahan persepsi sebagian orang bahwa kurs melemah itu pertanda pemerintah gagal mengelola ekonomi. Stigma krisis moneter 98 yang mana rupiah jatuh yang mempercepat kejatuhan Soeharto seakan dibangun lagi sekarang.  Orang awam sangat mudah sekali terprovokasi soal kurs ini. Padahal pengelolaa moneter era Soeharto dengan Sekarang jauh berbeda sistemnya. Era Soeharto kita menganut neraca T Account tetapi sekarang kita menerapkan I Account berdasarkan Standard Government Finance Statistic (SGFS) yang sehingga kekuatan fiskal negara dapat setiap saat dimonitor sebagai dasar forecasting value Rupiah. Disamping itu juga Sistem Akuntasi Moneter Bank Indonesia harus mengacu kepada International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). Sehingga setiap detik posisi devisa BI dapat dimonitor secara international. Semua menjadi transference dan terhubung keseluruh dunia secara border less  Era Soeharto BI tidak Independent tetapi sekarang BI independent. Era Soeharto BI dan OJK jadi satu. Artinya operator dan regulator satu badan. Namun kini BI dan OJK terpisah, Jadi lebih prudential pengelolaan moneter. Jadi stigma krisis moneter 98 itu akan terjadi era sekarang itu jelas salah.

Uang dan trust.
Kita mengenal uang sebagai ujud lembaran kertas atau koin. Uang itu kita kenal dan akrab dengan keseharian kita untuk melakukan aktifitas pertukaran barang dan jasa. Dengan uang maka semua ada nilai untuk dibeli, dijual dan di nominalkan. Lantas bagaimanakah uang itu diciptakan dan darimana asalnya ? Dahulu kala uang itu dibuat dari emas dan perak. Berapa nilai uang itu , ya tergantung dari beratnya koin emas atau tembaga. Artinya uang berhubungan langsung dengan nilai materi yang melekat padanya.Tapi dia era modern , ketika populasi manusia semakin bertambah, kebutuhan semakin luas, perpindahan penduduk, barang dan jasa semakin cepat. Maka uang tak bisa lagi sepenuhnya ditentukan dengan materi yang ada. Uang sudah bergeser menjadi ”sebuah nilai ” yang tak bisa lepas dari "Internationalisasi." Uang dan politik adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Suka tidak suka inilah kenyataanya. Dari segi monetary system kita menyatu dengan system keuangan global.

Walau semua serba transference namun pasar berbuat sesukanya berdasar data real tesebut. Disinilah nilai uang diukur dan ditentukan oleh segelintir pemain. Cadang devisa negara dalam berbagai mata uang tak lagi terkait langsung dengan jumlah rupiah yang beredar. Cadangan devisa hanya dipakai untuk transaksi atau belanja yang mengharuskan tunai atau cash advance bermata uang asing. Sementara hampir 90% transaksi lintas negara ( cross border ) yang dilakukan dunia usaha tidak berupa cash advance tapi commitment. Commitment ini dalam bentuk instrument yang dilegimite oleh kesepakatan multilateral baik dalam kuridor WTO maupun BIS dan lainnya. Hitunglah berapa perputaran uang dibalik commitment itu?. Anda akan terkejut. Jumlahnya diatas cadangan devisa negara kita. Bahkan melebihi SUN yang kita terbitkan. Atau melebihi dari jumlah pajak yang terkumpul. 

Proses uang itu sangat sophisticated, misal Corporate melakukan pinjaman luar negeri. bermata uang asing. Apabila mereka mendapatkan penghasilan dalam mata uang rupiah, lantas bagaimana menjamin keseimbangan kurs antar mata uang agar transaksi ini tidak merugikan. Pertanyaan berikut, apabila pinjaman itu gagal siapakah yang akan menjamin uang itu kembali. Juga beragam kegiatan investasi yang berhadapan dengan resiko perbedaan kurs itu. Pertanyaan ini akan panjang sekali bila kita melihat melalui kacamata uang secara normal.Proses itu bergerak sangat cepat , bukan lagi jam atau hari ukurannya tapi detik.

Tapi dalam system moneter ini sudah diantisipasi. Yaitu melalui berbagai instrument derivative yang mendukung proses perputaran uang. Instrument ini tidak melihat devisa negara sebagai kekuatan mata uang. Tidak melihat fundamental ekonomi sebagai dasar uang. Tapi melihat dari sisi ”kepercayaan ” ( trust ). Trust ini adalah energy ( power) dari uang itu sendiri untuk terus berputar mengorbit melintasi dunia sebagai alat tukar. Sementara system moneter adalah software untuk memungkinkan uang terkendali sesuai program yang diinginkan. Didalam software itu terdapat fitur seperti CDS dan berbagai produk derivative keuangan lainnya. Besar /kecilnya atau kuat / lemahnya trust ( energi) dapat dilihat dari tingkat premium credit Default Swap (CDS) yang dibayar.  CDS itu biasanya meliat tingkat rating ( trust ) obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Semakin murah CDS semakin tinggi tingkat ”trust” dan tentu semakin tinggi energy yang berputar. Arus investasi akan masuk deras. Nah, Apa jadinya bila CDS tingkat premiumnya semakin tinggi ? tentu ongkos transaksi semakin mahal dan resiko semakin terbuka lebar. Uang akan mengalir keluar ketempat yang energynya besar. Pada saat inilah commitment uang menjadi hancur. Bila hancur maka mata uang yang kita pegang lepas dari orbit. Uang akan terjun bebas tak terkendali hingga harga harga barang sehari hari akan melambung tinggi tentu akan membuat rakyat miskin semakin miskin.Yang kaya jatuh miskin.

Jadi kesimpulannya adalah uang bukan hanya lambang legitimate dan kekuasaan negara tapi juga uang sebagai lambang kepercayaan. Bila kita percaya tapi dunia tidak percaya maka kita hancur. Bila dunia percaya tapi rakyat tidak percaya, masih engga ada masalah. Nah..pada saat sekarang CDS Credit default swap (CDS) kita, jika dibandingkan dengan peers, juga relatif lebih baik. CDS Indonesia tenor 5 tahun adalah 136,42. Lebih baik daripada Brasil, India, Afrika Selatan, dan Turki. Bandingkan ketika tahun 2008. Ketika bail out CENTURY dilakukan, premium CDS sudah mencapai 1200 bps dan ini sudah dipinggir jurang kejatuhan total. Relatif rendahnya CDS Indonesia saat ini menunjukkan bahwa premi risiko investasi di Indonesia relatif lebih baik. Kita kuat dan terlalu kuat untuk dipermainkan oleh ancaman kurs melemah.

Uang dan Produksi.
Bagi orang awam yang terbatas wawasan keuangannya, dia hanya mengenal satu kata money atau uang. Dia dapat uang dari gaji atau laba usaha dan kemudian dibelanjakan sesuai dengan pendapatannya, kalau ada lebih dia tabung. Dalam kasus ini uang ya uang. Tapi ada juga orang yang menyebut uang itu adalah arus terus menerus atau Currency. Perhatikan, dia tidak menyebut uang tapi arus.. ya sama dengan arus listrik. Kalau di analogikan, uang menjadi sumbu negatif dan aktifitas usaha adalah sumbu positip. Karena adanya sumbu positip dan negatif maka terjadilah current atau arus listrik yang bisa menimbulkan energy untuk bergeraknya roda ekonomi kedepan tanpa henti.

Rekening di bank atau perusahaan di sebut rekening arus ( current account). Bagi mereka uang bukan lagi selembar kertas. Bukan hanya alat transaksi. Bukan. Tapi uang sebagai sarana menghubungkan satu sumber daya dengan sumber daya lain agar terus terjadi hubungan arus yang tiada henti. Contoh bagaimana menghubungkan sumberdaya manusia dengan sumber daya barang, Sumber daya barang dengan sumber daya uang. Sumber daya uang dengan sumber daya pasar, dan lain sebagainya. Selagi hubungan antar sumberdaya itu terus terjadi arus maka itulah uang sebenarnya. Itulah uang dalam perngertian kapitalis. Dimana sebetulnya uang itu omong kosong. Uang itu hanya sarana memicu distribusi capital untuk terjadi beragam aktifitas terbentuknya peradaban. Jadi bukan jumlah berapa banyak uang yang dikumpulkan, bukan seberapa kuat mata uang,  tapi seberapa banyak aktifitas usaha yang bisa di kembangkan karena uang. Selagi arus atau current terus terjadi dengan ditandai aktifitas usaha tidak terhenti maka tidak ada hutang yang perlu dikawatirkan. Mengapa ? Karena current mempunya energy yang bisa dengan otomatis menciptakan hutang baru atau uang baru. Itulah miracle of capital. Akan terus begitu.

Hukum pasar.
Seharusnya pemerintah mengontrol  kurs seperti era Pak Harto. Dengan kurs tetap itu kita lebih leluasa menentukan besaran kapasitas ekonomi kita dan moneter sepenuhnya dibawah kendali Pemerintah. Walau banyak kekurangan sistem itu namun faktanya China selama sekian decade berhasil tumbuh cepat berkat kurs tetap itu. Tetapi dengan kurs mengambang seperti sekarang ini , kita dipermainkan pasar. Padahal fundamental ekonomi kita kuat sekali.  Kinerja ekonomi kita nomor tiga terbaik diantara anggota G20.” Kata teman. Dengan tersenyum saya katakan bahwa Indonesia bukan China yang tidak mengakui Tuhan dalam sistem negaranya. Negara kita pancasila. Ketuhanan yang maha Esa adalah sila pertama, yang merupakan sumber hukum itu sendiri. 

Dalam islam diajarkan pada setiap orang berhak menjual atau tidak menjual apa yang dimilikinya. Demikian pula setiap orang berhak membeli atau tidak membeli apa yang diinginkannya. Hal ini ditegaskan dalam Quran:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (an-Nisa’:29). Hal ini juga ditegaskan dalam Hadis: “sesungguhnya jual beli hanya bisa dilakukan atas dasar suka sama suka”. (Ibnu Majah:2176). Rasulullah juga melarang jual beli yang dilakukan dalam keadaan terpaksa seperti diceritakan Ali bin Abi Thalib. (Abu Daud:2935).  

Bagaimana dengan agama lain? saya yakin sama. Karena hukum perdagangan konvensional yang diambil falsafahnya dari Injil dan Taurat juga punya prinsip yang sama.  Di era sekarang namanya Liberalisation market. Mengapa sampai Tuhan melarang pasar diatur ? Karena itu hukum ketetap Tuhan. Kalau ada intervensi pemerintah maka itu sama saja berperang dengan hukum ketatapan Tuhan. Pasti kalah. Itu contohnya Arab Saudi sampai kedodoran menahan rial. Pak Harto juga akhirnya tersungkur dan terpaksa melepas rupiah kepasar.  China sama juga yang akhirnya melepas kurs Yuan ke pasar.

Pertanyaannya adalah  mengapa pasar berbuat sesukannya, ? karena hukum pasar itu memang memberikan kebebasan orang untuk melakukan transaksi termasuk menetapkan harga atau kurs mata uang. Itu sebabnya ada istilah sentimen pasar. Artinya rumor saja bisa jadi pertimbangan orang untuk membeli atau menjual rupiah. Apakah itu salah? Tidak juga. Kesalahan itu bukan kepada kurs menguat atau melemah tetapi kepada hukum permintaan dan penawaran. Kita ambil contoh. Tahun 2006 , di China satu kaus ekspor harganya USD 2 atau sama dengan RMB 20. Tetapi sekarang karena kurs RMB terus menguat maka harga satu kaus jadi USD 3 atau naik USD 1. Kalau China tetap menjual seharga RMB 20 maka itu sama saja pabrik garmen harus rela memotong labanya sendiri. Itu juga terjadi pada Thailand yang kurs menguat.  Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kurs menguat tidak memberikan kebebasan kepada China atau Thailand menaikan harga jualnya? masalahnya kurs boleh menguat tetapi daya beli tidak meningkat. Kapasitas pasar kan terbatas. Maka yang terjadi adalah hukum pasar. Kalau china atau thailand ingin terus menjual maka mereka harus turunkan harga dan penggal labanya atau dilindas persaingan dengan negara lain yang kurs mata uangnya melemah. Ini soal pilihan. Engga ada yang maksa.  Suka sama suka.  Nah sampai disini kita bisa paham. Uang satu hal tetapi produksi juga hal lain. Masalahnya apakah kita akan membela produksi ataukah membela kurs mata uang agar terus perkasa? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya gunakan teori ekonomi , yang saya sebut teori sarung. Anda tahu kan sarung? Kalau anda pakai sarung, anda angkat sarung itu hingga metutup kepala maka bagian bawah, kolor anda keliatan. Kalau anda turunkan sarung itu maka dia jadi pakaian standar untuk sholat. Nah begitu juga dengan melemahnya mata uang terhadap mata uang lainnya. Kalau kurs melemah maka akan mendorong produksi dalam negeri meningkat. Mengapa? karena adanya daya saing domestik terhadap barang impor. Jadi orang aman dari serangan barang impor yang pasti lebih mahal karena kurs melemah. Tetapi pada waktu bersamaan harga barang impor di pasar akan naik. Yang korban adalah rakyat yang punya penghasilan tetap. Tetapi kalau kurs dibuat kuat, maka orang akan cenderung impor daripada produksi dalam negeri. Dampaknya angkatan kerja tidak terserap. itu yang terjadi era SBY dimana proses deindustrialisasi terjadi akibat kalah bersaing dengan barang impor. Nah dilema kan, seperti sarung.?

Perhatikan kita lihat fakta sejarah ekonomi yang sukses karena kurs yang melemah. Kehebatan china bukanlah melulu karena etos kerja yang tinggi tapi lebih dari kehebatan membuat kebijakan moneter yang sehingga mata uang China sangat murah dan pada waktu bersamaan produk import menjadi sangat mahal dan produk eksport menjadi sangat murah. Inilah trigger yang memicu pertumbuhan dua digit selama 20 tahun lebih. Begitupula dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di vietnam karena kurs selama 20 tahun belakangan dibuat murah maka orang takut pegang mata uang vietnam. Tetapi produksi dalam negeri melesat menyaingi negara ASEAN lainnya. Jadi ada hubungan antara peningkatan produksi dengan melemahnya mata uang. Contoh Indonesia, ketika mata uang terjun bebas akibat krismon tahun 1998, yang paling dintungkan adalah produksi yang nol import. Mereka adalah para petani dan pengusaha perkebunan. Faktanya yang kini masuk dalam top perusahaan di Indonesia adalah perusahaan yang bersandarkan kepada produksi hasil pertanian itu. Semakin melemah rupiah, semakin melimpah pendapatan mereka.Inilah candu yang memaksa orang ketagihan untuk ber produksi. Pertumbuhan ekonomi yang kini dicapai oleh Indonesia hingga tergabung dalam G20 adalah berkat produktifitas dari hasil SDA dan Perkebunan.

Bila rupiah melemah akan beresiko terhadap laju inflasi. Maklum sebagian besar barang konsumsi rakyat didapat dari import. Untuk terjadinya kemandirian produksi butuh waktu tidak cepat. Ya namanya business tentu membutuhkan waktu untuk proses membangun. Selama proses itu, rakyat akan menjerit karena pendapatan mereka tergerus oleh inflasi. Demikian kata oposisi pemerintah yang berpikir pragmatis. Saya tersenyum. Mana ada pembangunan tidak mendulang korban. Ini soal pilihan. Dan lagi tidak akan berdampak terlalu luas. Karena sebagian besar yang doyan konsumsi adalah middle class yang dikenal solid secara financial. Sementara rakyat kebanyakan , mereka tidak begitu banyak berkosumsi produk import, kalaupun ada, itu bukanlah kebutuhan primer atas dasar keinginan tak terpuaskan. Tetapi bagaimana dengan kewajiban utang pemerintah? helloo utang pemerintah itu 56% dalam mata uang rupiah dan sisanya mata uang asing yang dikelola oleh BI melalui hedging sehingga resiko jatuhnya kurs tidak akan membebani pos pembayaran utang pemerintah.

Seharusnya pemerintah intervensi agar rupiah menguat, kata teman. Tanpa intervensi berlebihan justru bagus karena hukum pasar akan bekerja efektif. Invisible hand market akan berkerja. Daripada pemerintah mengeluarkan dana resiko untuk intervensi menjaga mata uang rupiah dari kejatuhan, lebih baik dana itu digunakan untuk perluasan infrastruktur dan biarkan saja rupiah mengikuti pasar secara alamiah. Mengapa ? ya karena ketika rupiah melemah pada waktu bersamaan dunia international akan melakukan penyesuaian terhadap Indonesia, khususnya tidak lagi menjadikan Indonesia sebagai target eksport tapi target investasi untuk berproduksi. Kelak bila produksi meningkat maka inflasi akan terkoreksi dengan sedirinya dan rupiah akan menguat kembali.  Ini soal pilihan. Naik dan turun akan terus terjadi seperti siang berganti malam. Ini hukum alam. Yang penting adalah bagaimana menghadapi fenomena pasar itu dan menentukan pilihan yang bagaimanapun tidak akan sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. 

Kita patut bersyukur sebagai bangsa Indonsia. Mengapa ? Ada tujuh sendi kekuatan atau points of strength yang membuat perekonomian Indonesia terlalu kuat. Pertama, jumlah penduduk yang besar yakni sekitar 240 juta jiwa. Kuantitas sebanyak itu merupakan pasar yang menarik bagi para pelaku usaha. Kedua, sumber daya alam yang berlimpah di sektor pertanian dan pertambangan. Ketiga, Indonesia memiliki bonus demografi hingga 20-30 tahun ke depan, di mana sekitar 50 persen dari jumlah penduduk adalah kelompok usia produktif, yang akan merupakan engine of economy growth. Kekuatan keempat yang dipunyai Indonesia adalah cadangan devisa yang besar. Dengan kekuatan ini,Indonesia bisa merespons setiap perubahan lingkungan baik eksternal dan internal secara cepat. Dalam hal ini, pemerintah dan Bank Indonesia mempunyai crisis management protocol sebagai tindakan pencegahan krisis. Kelima, Indonesia memiliki Bank BUMN yang sehat dengan daya tahan yang kuat. Dengan kondisi yang demikian baik, perbankanpun dipandang mampu menghadapi gejolak yang ada. Berdasarkan stress test  atau uji ketahanan terhadap perbankan yang dilakukan OJK , kurs sampai Rp. 20.000 Perbankan kita masih sehat. Keenam, Indonesia memiliki kestabilan politik karena didukung oleh sistem politik yang demokratis. Ketujuh, kekuatan ekonomi Indonesia terletak pada capaian peringkat layak investasi dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional. 

Apa yang dikawatirkan? saatnya kerja keras. It is time to change or never.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sajak bijak. 
Aku minta air , Tuhan memberiku samudra.
Aku minta bunga, Tuhan memberiku taman bunga.
Aku minta sahabat, Tuhan kirim anda semua kepada saya.
Disaat bahagia, ku berterimakasihlah kepada Tuhan.
Disaat sulit, ku cari Tuhan.
Disaat sunyi, ku sembah Tuhan.
Disaat menderita, kupercaya Tuhan.
Setiap waktu, ku bersyukur  kepada Tuhan.


No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...