Sunday, September 09, 2018

Perubahan.


Menurut Sandiaga, tekanan terhadap nilai rupiah disebabkan lemahnya faktor fundamental ekonomi, yakni defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan. Ia berpendapat hal itu disebabkan oleh kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi. "Antara lain tidak berhasilnya pemerintah dalam mendayagunakan kekuatan ekonomi rakyat sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung pada impor seperti beras, gula, garam, bawang putih, dan lain-lain," kata Sandiaga. Selain itu, lemahnya nilai rupiah juga terjadi karena pertumbuhan sektor manufakturing yang berada di bawah pertumbuhan ekonomi. Sandiaga mengatakan, sektor manufakturing yang pernah mencapai hampir 30 persen pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahun 1997, saat ini hanya 19 persen.

Saya tidak akan mengatakan Sandi salah. Namun saya juga bisa mengatakan bahwa kalau itu adalah kesimpulan keadaan ekonomi sekarang ini disebabkan karena kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi, jelas tidak tepat. Setiap kebijakan ekonomi atau perusahaan selalu berangkat dari data masa lalu keadaan real. Struktur bisnis atau ekonomi Indonesia itu bertahun tahun sejak era Soeharto adalah lebih bertumpu kepada bisnis non tradable. Anda kan tahu, bahwa sektor non-tradable adalah sektor ekonomi yang tidak dapat menyerap angkatan kerja luas. Banyak orang kaya termasuk anda bagian dari pengusaha yang menikmati sistem tersebut.

Ini menjadi tidak wajar karena Indonesia adalah negara yang berbasis sumber daya alam. Mestinya (sektor) tradable itu di atas pertumbuhan (Produk Domestik Bruto) rata-rata. Sektor tradable ini meliputi sektor pertanian, pertambangan dan industri. Sejak tahun 2001, pertumbuhan sektor non tradable selalu berada di atas pertumbuhan PDB. Data tahun 2010 , pertumbuhan PDB hanya 6,1 persen, sedangkan sektor non tradable bisa tumbuh 8,19 persen sampai tahn 2013 semakin memburuk. Sementara itu, pada tahun yang sama, sektor tradable hanya tumbuh 2,86 persen. Dampaknya, terjadi kesenjangan pendapatan antara masyarakat golongan bawah, khususnya petani, dengan golongan atas. Jadi pertumbuhan ekonomi kita di era sebelumnya digerakkan oleh non-tradable. Ekonomi kaum rente.

Paham ya Pak Sandi. Nah sekarang dengan fakta yang ada tersebut, sebagai presiden Jokowi harus mengubah struktur bisnis dulu sebelum dia meningkatkan pertumbuhan. Kan engga mungkin kita bercita cita mau ke Bandung ingin cepat kalau engga ada angkutan lebih cepat. Kalau tetap menggunakan angkutan yang lama tentu cita cita ingin cepat hanya mimpi. Makanya yang dilakukan Jokowi diawal kekuasaannya adalah memangkas struktur bisnis rente atau non tradeable itu. Petra dibubarkan karena menghambat tumbuhnya industri migas. UU Minerba diterapkan dengan konsisten agar industri smelter tumbuh. Tataniaga Pangan diubah.Muratorium perkebunan sawit dilakukan dan pajak ekpor CPO dinaikan. Sektor kelautan dibenahi agar izin tangkap ikan tidak menghasikan rente diperjual belikan kepada asing. Sehingga industri pengolahan hasil laut bisa bangkit.

Kemudian pemerintah menerapkan pajak progressive atas property agar asset tidak menumpuk di non tradeble. Sektor non tradeable pun turun secara berlahan lahan. Dan orang kaya dari non tradeable diharap mulai mengalihkan ke sektor tradeable. Engga mau? pemerintah ubah UU pajak yang memaksa tapi pada waktu bersamaan mengeluarkan tex Amnesty agar orang kaya dari rente mendaftarkan kekayaannya agar mereka menjadi potensi pajak dikemudian hari. Kalau mereka tidak alihkan uangnya ke sektor tradeable maka hartanya akan habis dimakan pajak. Silahkan pilih mau berubah atau negara ambil uang secara sistem.

Cukup ? Belum. Kebijakan tersebut diatas hanya menghambat tumbuhnya non tradeabl untuk berubah menjadi tradeable. Tetapi bagaimana menumbuhkan sektor tradeable yang adil bagi semua ? Regulasi perizinan dibenahi lewat paket kebijakan ekonomi sehingga lebih cepat dan mudah mengurus izin pabrik. Bukan hanya soal regulasi orang terpicu untuk masuk ke bisnis tradeable tetapi juga bagaimana memastikan lingkungan bisnis lebih efisien. Makanya sistem logistik kita harus efisien. Itu sebabnya pemerintah harus bangun infrastruktur ekonomi berupa jalan, pelabuhan, bandara, kereta api dan lain lain. Tujuannya agar terjadi koneksifitas antara potensi wilayah menjadi potensi ekonomi. Tiada hari tanpa kerja memacu ketertinggalan sektor tradeable itu. Karena kita terlalu lama tertinggal. Hasilnya kini sudah dirasakan secara significant. Pertumbuhan investasi sektor tradeable meningkat.

Pak Sandi, Jokowi baru bekerja empat tahun sebagai presiden yang harus membenahi kerusakan sistem ekonomi dari yang sudah berlangsung puluhan tahun. Ditengah upaya membenahi itu semua, Jokowi harus menghadapi krisis global, perang dagang, situasi politik yang memanas karena SARA, defisit APBN, tekanan neraca perdagangan akibat economic imbalance global. Tiada hari tanpa kerja agar negeri ini selamat melewati badai dan keluar dari reruntuhan ekonomi yang tidak berkeadilan sebagai warisan masa lalu. Kita harus bergerak kedepan. Tolong anda sampaikan solusi smart anda untuk memastikan lebih hebat dari Jokowi. Kalau hanya ngeluh, dan menyalahkan, kampret juga bisa.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...