Sunday, September 16, 2018

Pertumbuhan ekonomi.


Masalah Indonesia itu , menurut BPS, setiap tahun jumlah penduduk bertambah 1,1 % atau sekitar 2,6 juta bayi lahir. Jumlah angkatan kerja baru setiap tahun bertambah sebesar 2,6 juta. Nah anda bayangkan. Kalau terlambat saja pemerintah meng-eskalasi pertumbuhan ekonomi, maka masalah pasti dihadapan mata seperti pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja menjadi ancaman serius. Contoh macetnya jalan Jakarta adalah satu bukti pertumbuhan penduduk lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi. Akibatnya jalan macet dan daerah kumuh bermunculan serta penyakit sosial terjadi dimana mana. Kalau tidak segera memaksa pemimpin mempecepat pertumbuhan, maka insfrastruktur ekonomi dan sosial yang sudah dibangun akan rusak begitu saja. Itu jadi mubazir.

Artinya, pertumbuhan ekonomi itu adalah mutlak. Masalahnya gimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi? Jokowi mewarisi APBN yang defisit primer. Struktur pertumbuhan ekonomi era SBY engga sehat. Era SBY, elastisitas tenaga kerja dari setiap 1 % pertumbuhan ekonomi berdaya serap 250 ribu tenaga kerja. Maklum investasi lebih banyak non tradeblae. Kalau anda ingin meningkatkan pendapatan, maka anda harus investasi. Jokowi tidak mau berpikir terlalu utopia. Tetapi dia focus kepada apa yang harus dicapai minimal agar pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja dapat diantisipasi. Maka pertumbuhan sebesar 5% minimal sebagai target ditetapkan. Artinya 5% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap 2 juta angkata kerja setiap tahun. Masalah pertumbuhan penduduk 2,6 juga bisa diatasi. Kekurangannya adalah kerja keras lewat ekspansi belanja pemerintah.

Tanpa investasi tidak mungkin ada peningkatan pendapatan. Untuk meningkatkan 1% pertumbuhan ekonomi butuh peningkatan 6,4% pertumbuhan investasi. Jadi kalau Jokowi inginkan pertumbuhan sebesar 5% maka dia perlu peningkatan investasi sebesar 32% setiap tahun. Mau tahu berapa 35% itu? kalau dihitung uang berdasarkan PDB tahun 2015 maka dia perlu sebesar Rp. 3500 triliun ! sementara uang negara tidak tersedia. Mau tarik utang, engga bisa. Karena dibatasi oleh UU sebesar 3% maksimum dari PDB. Mau tahu berapa 3% itu ? kurang lebih Rp.350 triliun pertahun. Kan jauh sekali dari kebutuhan investasi. Sementara Jokowi masih harus bayar utang setahun sebesar Rp. 350 triliun. Mumet engga?.

SDA kita memang besar. Namun itu hanya potensi ekonomi bukan potensi financial yang bisa langsung dipakai untuk belanja. Untuk jadikan potensi ekonomi menjadi potensi financial kan perlu investasi. Emang kita bisa makan minyak dan batu bara. Kan engga mungkin. Kembali lagi darimana duitnya ? Nah gimana cara Jokowi mensiasati agar investasi tumbuh tanpa negara keluar uang? Dia jual potensi bisnis kepada investor. Kalau istilah dalam bisnis jual propektus kepada investor. Kalau dalam bisnis property, dia jual gambar. Siapa yang disuruh jual gambar itu ? ya BUMN. Jokowi create beberapa proyek infrastruktur dimana negara endorsed soal legitimasi. Negara hanya keluarkan uang untuk bridging agar proyek qualified masuk kepasar financial.

Nah apa yang terjadi? Dana pihak ketiga yang ada diperbankan sebesar 35% dari PDB bergerak masuk ke proyek. Bukan itu saja , tabungan domestik yang ada di perusahaan asuransi dan dana pensiun juga beregrak ke proyek. cukup? Bukan itu saja, dana investor asing juga masuk ke proyek. Akibatnya likuiditas domestik yang tadinya besar diongkos menjadi murah. Hukum permintaan dan penawaran terjadi. Bila likuiditas longgar maka suku bunga akan turun. Otomatis inflasi juga turun. Karena sektor real bergerak naik. Hasilnya? dalam empat tahun Jokowi berkuasa dia bisa pertahankan pertumbuhan diatas 5%. Setiap 1 % PDB mampu menyerap angkatan kerja 400.000. Karena pertumbuhan ekonomi lebih banyak dipicu oleh sektor trandeable. Makanya stok pengangguran dapat dikurangi. Angka kemiskinan turun.

China dan India bersama Indonesia merupakan negara yang bisa tumbuh ditengah krisis global. Mengapa negara lain anggota G20 tidak bisa meniru Jokowi. Pertumbuhan ekonomi mereka rata rata dibawah 3%. Karena kapasitas ekonomi mereka udah over capacity dan likuiditas lebih banyak di intrument derivative yang terkena delusi akibat jatuhnya pasar uang global. Kalau negara lain sedang menuju penyesuaian kapasitas, sementara Indonesia terjadi restruktur ekonomi yang lebih sehat dan lentur. Bila koneksitas antar wilayah terjadi maka potensi ekonomi wilayah akan menjadi potensi financial yang akan memperbesar kapasitas ekonomi nasional. Nah saat itulah pertumbuhan akan bisa melesat diatas 10%.

***
Disetiap industri manufaktur maupun jasa pasti ada manager pembelian ( purchasing manager). Tugas nya melakukan pembelian segala kebutuhan untuk memastikan mesin produksi berjalan. Tidak boleh terlambat. Tidak boleh juga pembelian terlalu besar dari kebijakan stok dan tentu tidak boleh dibawah stok minimun. Pembelian ini tentu membutuhkan uang dan bagian dari putaran arus kas keluar industri. Bila arus kas macet bagian pembelian maka industri pasti berhenti berproduksi. Nah kalau kita ingin tahu seberapa besar sebetulnya kekuatan ekonomi suatu negara maka kita bisa lihat pembelian sektor industri. Ini engga mungkin salah. Karena datanya real.

Dalam ilmu ekonomi data pembelian sektor manufaktur ini dijadikan indikator untuk mengukur trend kurs dan harga saham di bursa. Namanya Purchasing Managers' Index ( PMI). PMI ini yang buat bukan BPS tetapi lembaga survey independent. Di Inggris, kawasan Euro, dan Jepang, indikator ini dirilis oleh Markit Group. Di Amerika Serikat oleh Institute for Supply Management (ISM) dan Markit Group; sedangkan di China terdapat indeks PMI versi resmi (official PMI) dan PMI Caixin. Di Indonesia dasarnya PMI Nikkei. Ukuran mengetahui sejauh mana prospek kurs mata uang dan bursa dapat dilihat dari indikator PMI. Semakin tinggi PMI tentu semakin tinggi prospek ekonomi suatu negara. Sebaliknya semakin rendah PMI semakin suram prospek ekonomi negara.

Bagaimana dengan indonesia ? Purchasing Managers’ Index Manufaktur Indonesia dari Nikkei yang disesuaikan secara berkala naik dari 50,5 pada bulan Juli ke 51,9 pada bulan Agustus 2018. Apa artinya ? bahwa kondisi operasional di seluruh sektor manufaktur Indonesia menguat pada kisaran gabungan terkuat sejak bulan Juli 2014. Kenaikan indeks didorong oleh pertumbuhan solid pada total permintaan baru yang merupakan yang terkuat sejak bulan Juli 2014. Sebaliknya, permintaan ekspor baru turun selama sembilan bulan berturut-turut sampai pada bulan Agustus. Namun pada waktu bersamaan ekspansi output mulai terjadi kencang sejak bulan Mei 2018, Ini sebagai dampak realisasi investasi.

Di tengah-tengah penguatan permintaan, perusahaan menaikkan tingkat penerimaan staf karyawan selama tiga bulan berturut-turut sampai pada bulan Agustus. Selain itu, tingkat pertumbuhan lapangan kerja merupakan yang paling kuat sejak 7,5 tahun pengumpulan data. Aktivitas pembelian di seluruh sektor manufaktur Indonesia naik selama tujuh bulan berturut-turut pada bulan Agustus. Akan tetapi, tingkat pertumbuhan bertahan di posisi sedang meskipun mengalami percepatan dari bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan inventori praproduksi sedikit melambat. Di tengah-tengah keterbatasan ketersediaan bahan baku, waktu pemenuhan input kembali diperpanjang lagi sejak bulan April. Walaupun demikian, tingkat penurunan kinerja vendor tergolong sedang.

Tekanan inflasi semakin intensif selama bulan Agustus. Terlebih lagi, tingkat inflasi biaya input naik tajam dalam kurun waktu hampir tiga tahun. Bahwa melemahnya nilai mata uang berperan terhadap kenaikan biaya input terkini. Tetapi sejak tahun 2015 perusahaan sudah membuat perhitungan atas melemahnya kurs dikisaran 14-15.000. Caranya? perusahaan menaikkan biaya input mereka pada laju terkuat sejak bulan Oktober 2015. Penguatan permintaan memungkinkan perusahaan untuk meneruskan kenaikan beban biaya kepada klien. Sentimen terhadap perkiraan output 12 bulan mendatang menguat ke posisi tertinggi dalam tiga bulan selama bulan Agustus. Walaupun demikian, data terkini jauh lebih lemah dibanding rata-rata jangka panjang.

Nah apa kesimpulannya ? Data survei bulan Agustus 2018 PMI, menunjukkan bahwa kesehatan sektor manufaktur Indonesia naik pada kisaran terbesar dalam kurun waktu lebih dari dua tahun. Hal ini didorong oleh penguatan permintaan baru sejak bulan Juli 2014 dan kenaikan pada tingkat ketenagakerjaan. Data PMI menunjukkan bahwa kenaikan terkini didorong oleh penguatan permintaan domestik. Fakta bahwa ekonomi Indonesia semakin lama semakin bergeser kepada kekuatan ekonomi domestik. Itulah nawacita.  Makanya Jokowi dua periode itu penting, Kalau engga kita akan terkubur lagi. Salah memilih pemimpin maka kita akan menempatkan orang yang selalu menjual rasa takut kepada rakyat dan pada waktu bersamaan menjajikan banyak hal tanpa rasionalitas.

No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...