Tuesday, March 27, 2018

Hedonisme

Anda mungkin tahu Cathay airline merugi. Hampir semua perusahaan penerbangan premium tidak mendapatkan laba bagus, bahkan banyak yang merugi. Apa pasal ? Kalau dulu naik pesawat merupakan kebanggaan tetapi sekarang orang melihat dari sisi kebutuhan. Orang tidak lagi menganggap naik pesawat suatu kemewahan yang patut dibanggakan. Jadi kalau bisa naik yang budget kenapa harus naik yang premium. Cafe mewah yang berkelas premium di hotel berbintang sekarang sudah jarang di kunjungi pelanggan. Justru orang lebih suka nongkrong ditempat biasa yang memberikan suasana santai tanpa ada kesan semua serba jaim. Bahkan layanan premiere perbankan sudah jarang didatangi nasabah karena adanya layanan online.

Dalam kehidupan lain juga begitu. Banyak CEO atau owner company atau pejabat tinggi yang lebih memilih tampil hidup bersahaja. Mereka tidak perlu harus tampil wah karena harta atau jabatannya. Mereka tidak butuh orang menghormatinya karena posisinya. Mengapa ? Era sekarang, dimana kompetisisi melahirkan seleksi erat disemua bidang maka effort dan prestasi lebih utama daripada penampilan. Sehebat apapun retorika dan penampilan anda tapi kalau anda gagal bayar utang, anda pecundang. Kalau anda gagal delivery commitment, anda pecundang. Sehebat apapun orang di luar memuji anda , kehidupan keluarga tidak bahagia, maka anda pecundang.

Karenanya focus orang kalau naik pesawat lebih kepada kebutuhan. Focus orang dalam berkarir dan berbisnis lebih kepada prestasi dan laba. Focus orang kalau makan cari tempat yang nyaman dan murah. Focus orang berumah tangga adalah menciptakan bahagia dengan cara sederhana. Selebihnya orang tidak lagi peduli. Fenomena ini terjadi sejak tahun 2008 paska kejatuhan Lehman yang membuat banyak orang yang tadinya hidup hedonism akhirnya bangkrut begitu saja. Membuat kebanggaan yang dibangun dengan aksesori mewah itu ternyata memakan ongkos mahal yang tak ada manfaat apapun. Anda gagal bayar sewa rumah, tetap aja di usir. Anda gagal bayar utang, tetap aja disita. Gagal bayar bill, istripun minta cerai. Apa arti kebahagiaan bila hanya senilai aset yang ada. Aset terbang , bahagia pun berlalu.

Namun masih ada saja sebagian orang yang orientasi hidupnya untuk aktualisasi diri dengan penampilan hebat. Rumah mewah, kendaraan mewah, dan segala galanya terkesan berkelas. Umumnya mereka dapatkan itu semua untuk menutupi kekurangannya dihadapan orang lain, sebagaimana kehidupan Madoft yan merampok miliaran dolar dana jamaah gereja, begitu juga pengusaha travel yang menipu jamaah umroh. Mereka orang biasa tetapi karena kreatifitas dan hebat membungkus diri dengan gaya hedonisme , mereka dipercaya untuk menarik uang ratusan miliar dari orang lain.

Umunya “orang kecil” lebih percaya kepada penampilan. Karena penampilan dengan simbol harta adalah suatu hal yang menjadi fantasi bagi semua orang yang tak pernah mendapatkannya. Ketika dia melihat orang berpenampilan kaya raya maka dia langsung percaya apapun yang ditawarkan. Hilang akal sehat. Karenanya menjaring dana dari orang kecil selalu dengan cara yang sama yaitu, berpenampilan hebat dan mewah. Ini terjadi dimana saja. Terutama dimasyarakat yang masih percaya bahwa sumber kebahagiaan ada pada harta. Simbol sukses ada pada aksesori harta yang melekat terhadap seseorang. Saya suka cara Jokowi dengan membuat kebijakan seragam Menteri Kabinet dengan baju putih lengan panjang yang bebas di gulung setengah, yang tidak dimasukan kedalam celana. Ini merupakan simbol kepada rakyat bahwa penampilan itu engga penting. Yang penting kinerja dan prestasi. Perubahan mindset seharusnya terjadi meluas. Dimana orang tidak dinilai dari harta dan penampilannya tetapi dari ketulusan dan rasa hormat. Karena pada intinya semua manusia itu sama dihadapan Tuhan, yang berbeda hanyalah effort nya untuk kebaikan, itulah sumber kebahagiaan sesungguhnya.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...