Monday, February 09, 2015

Menjadi kuat..

Saya naik taksi menuju pulang.'Dari arah Sarinah dipersimpangan lampu merah pasar tanah abang, polisi menghentikan taksi. Polisi itu memberitahu kesalahan supir bahwa dia melanggar lampu merah. Dengan lembut supir taksi menyangkal bahwa dia tidak menerobos lampu merah ( saya tahu supir itu tidak salah ). Polisi mengambil SIM supir taksi itu dan minta supir taksi itu mengikutinya. Tidak berapa lama supir itu kembali dengan tersenyum. Terdengar supir itu berbcara lambat seperti berbisik namun saya bisa mendaengarnya.Dia berkata “alhamdulilah saya dizalimi oleh polisi. ya Allah beri kesabaran kepadaku menerima cobaan ini. Beri hidayah kepada polisi itu agar dia tahu mana yang halal dan mana yang haram”  Ketika saya tanyakan mengapa dia memaafkan padahal polisi itu telah menzoliminya. Menurutnya itu sunnah Rasul. Dia mencintai Rasul dan dia harus tiru akhlak Rasul  bahwa maafkan orang yg mendzolimi sebelum orang itu meminta maaf dan doakan orang yang menzolimi agar Allah memberi Hidayah. Dari seorang supir taksi saya dapat pencerahan tentang mengamalkan apa yg diimani. Dia miskin, namun dia kuat teramat kuat tanpa amarah memaki pejabat Pemerintah yang mendzoliminya dan tetap mendoakan untuk kebaikan. Padahal banyak orang pintar ,paham ilmu hadith, namun tidak bisa mengamalkan imannya.  Bahkan ketika orang menghujat Rasul dia marah, teramat marah sehingga lupa bahwa Rasul tidak pernah mengajarkan marah apabila beliau dihina. Beliau selalu memaafkan dan mendoakan musuhnya.

Islam tidak mengajarkan amarah. Bahkan Ali Bin Thalip di  medan perang, batal membunuh musuhnya yang sudah tak berdaya hanya karena musuhnya meludahinya sehingga timbul amarah. Ali tidak ingin berperang dan akhirnya membunuh karena amarah. Perang terjadi bukan karena kebencian dan amarah tapi atas dasar dimensi moral untuk kalimah Allah; tegaknya keadilan, dibelanya kebenaran dan dijalankannya kebaikan. Islam mengajarkan kelemah lembutan sebagai replikasi sifat kasih sayang kepada semua termasuk non muslim. Kita mungkin pernah mendengar kisah Rasulullah saw. yang selalu diludahi oleh seorang Yahudi ketika beliau hendak pergi ke masjid. Namun, beliau membalas perlakuan tersebut dengan senyum. Hal yang paling menarik dalam kisah ini adalah ketika orang Yahudi tersebut sakit, Rasulullah saw. adalah orang pertama yang menjenguknya. Di sinilah letak keluhuran akhlak beliau yang memaafkan orang yang telah menzalimi beliau. Akhirnya orang Yahudi tersebut masuk Islam lantaran kagum terhadap akhlak beliau. Ajaran tentang sikap memaafkan ini telah termaktub dalam beberap ayat dalam Al-Qur’an. Diantaranya, QS. Al-A’raf ayat 199, QS. As-Syura’ ayat 40 dan QS. Ali Imran ayat 134. Ayat-ayat tersebut mengajarkan kepada umat Islam untuk menjadi orang yang pemaaf, walaupun orang yang membuat kesalahan tersebut belum atau tidak mau meminta maaf. Karena sikap memaafkan merupakan keluhuran budi dan akhlak yang harus dijunjung tinggi oleh umat Islam sebagai pengikut Rasulullah saw.

Pemaaf tidak mungkin bagi sipembenci. Pemaaf tidak mungkin bagi sipemarah. Pemaaf tidak mungkin orang yang egoistis atau tinggi hati. Pemaaf hanya mungkin bagi orang yang hatinya lembut. Memaafkan karena ia bukan pemarah, bukan pembenci dan bukan orang yang ego atau tinggi hati. Dia rendah hati dan mengutamakan kebaikan bagi orang lain. Secara kejiwaan menyehatkan dan tentu berdampak raga yang juga sehat. Dalam jurnal ilmiah EXPLORE (The Journal of Science and Healing), menjelaskan bahwa terdapat cukup banyak bukti yang menunjukkan perilaku memaafkan mendatangkan manfaat kesehatan bagi orang yang memaafkan. Harun Yahya dalam artikelnya yang berjudul “Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan”, menyatakan, “Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa orang-orang yang mampu memaafkan itu lebih sehat, serta baik jiwa maupun raga”. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan, orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniah, namun juga jasmaniah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan (gangguan pada pikiran dan hati) dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur, dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang yang memaafkan ini.

Dr. Frederic Luskin dalam bukunya Forgive for Good, menjelaskan bahwa sifat pemaaf merupakan resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan (cita-cita), kesabaran, serta percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stress. Inilah bukti konkret bahwa ajaran Al-Qur’an dan tauladan yang dicontohkan Rasulullah saw. tentang sikap memaafkan mempunyai berbagai macam hikmah, manfaat dan dampak positif, terutama pada kesehatan dan kebahagiaan seseorang yang selalu memaafkan orang lain. Hasil-hasil penelitian diatas hanyalah sebagian kecil bukti-bukti manfaat dari sikap memaafkan. Sebab, ada sesuatu yang lebih besar yang akan dicapai seseorang jika selalu memaafkan orang lain, yaitu derajat al-Muttaqin atau termasuk orang-orang yang bertakwa. Derajat inilah yang akan mengantarkan seseorang yang selalu memaafkan orang lain menuju surga Allah swt. sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 134.Mari menjadi orang pemaaf. Caranya? mulailah hilangkan sifat pembenci kepada siapapun. Mulailah hilangkan ego atau tinggi hati. Mulailah hilangkan sifat mudah marah. Ya kita semua bisa seperti Supir taksi itu. Dalam keadaan miskin dia kuat …teramat kuat. Karena benar kata Allah, bagi orang beriman apapun itu baik baginya. Bila datang nikmat dia bersyukur,bila datang kesulitan dia bersabar..

2 comments:

Ellys said...

Terima kasih sudah menulis tentang ini pak. Saya suka baca blog bapak. Tulisannya bagus2 dan mencerahkan...

Salam hangat dari Kairo

Anonymous said...

ngena banget pak, terima kasih pak udah nulis artikel ini...saya akan save dalam hati

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...