Saturday, February 14, 2015

Dalil...?

Kemarin terjadi debat antar dua orang teman tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama. Masing masing mengajukan dalilnya dan akhirnya terjadilah perang dalil. Saya yakin ini tidak akan ada titik temunya. Apalagi diskusi itu diliputi hawa nafsu: ego merasa paling benar dalilnya, yang lain salah.  Makanya saya tidak mau ikut terlibat dalam diskusi, dan hanya masalah waktu sayapun akan keluar dari diskusi itu. Mengapa ? Keduanya sebetulnya tidak ada yang salah karena keduanya bersumber dari Al Quran dan hadith. Namun ketika ia menjadi dasar keluarnya dalil untuk keyakinan bersikap maka terbelah lah pandangan. Bagaimana seharusnya? Jangan pegang dalil yang hanya menguntungkan kita tapi pegang dalil yang membuat kewajiban terlaksana dan orang lain merasa damai karena itu. Bahwa saya tahu dalil bagaimana seharusnya istri bersikap terhadap suami, dasarnya Firman Allah “ Ar rijaalu wqawwamuun ‘alaa nisaa -Q 4:34 – (Lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita) dan kemudian Hadis Nabi “Lau kuntu aamiran ahadan an yasjuda liahadin, la amarty al mar ata n tasjuda lizaujiha - HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim - (Kalau sekiranya aku (diizinkan Allah) memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri agar sujud kepada suaminya). Perhatikanlah firman Allah dan hadis menguatkan betapa pria itu bergitu istimewanya dihadapan agama. Sehingga suami punya dasar memaksa istri patuh tanpa syarat kepada suami. Harus melayani seperti yang suami suka. Harus menjadikan suami sebagai prioritas. Harus membuat suami nyaman seperti layaknya escort. Tapi dalil itu tidak pernah saya jadikan pegangan dalam memimpin rumah tangga.Tidak pernah !

Dalil yang saya gunakan adalah Al Jannatu tahta aqdaamil ummahaat (Surga dibawah telapak kaki ibu) bahwa istri saya adalah ibu dari anak anak saya. Ia adalah manusia yang sangat dihormati didunia ini oleh anak anaknya dan kewajiban anak anak kepada ibumya jauh lebih banyak dibandingkan kepada saya ayahnya. Juga hadis Rasul yang dirawikan oleh turmudzi “ Akmalul mukminiena iemaanan ahsanuhum khusluqan wakhiyaarukum khiyaarukum linisaaihim (  Mu'min terbaik adalah yang terbagus akhlaqnya. Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya). Itulah dalil sebagai dasar saya memimpin rumah tangga, sebagai suami. Karena dalil itu membuat saya bersabar dengan kekurangan dan kelambanan istri dan mendidiknya dengan sabar untuk seperti yang saya suka. Saya tidak akan kecewa bila istri saya jarang berias dirumah karena sibuk dengan anak anak. Saya juga tidak mengeluh bila istri minta tolong dipijitin. Saya juga tidak akan membentaknya hanya karena dia bawel. Karena dalil itu juga walau saya tahu suami boleh menikah lagi sampai empat ( An-Nisa (4):3) namun itu tidak pernah saya gunakan atau jadi pegangan saya. Sebaliknya, istri sayapun tidak pernah menggunakan dalil akan haknya tapi dalil yang menjadi kewajibannya kepada suami. Artinya kami berusaha mengambil dalil yang bukan menjadi hak kami dan memegang dalil yang menjadi kewajiban kami. Karena itulah mungkin kami  bisa berdamai dalam diam, tanpa perlu merasa siapa yang paling utama,karena yang utama tetaplah Allah.

Begitu juga kita tahu dalil tentang kepemimpinan dalam Islam “Atie’ullah wa athie ur rasuula wa ulil amri minkum ( taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada RasulNya dan kepada para pemimpin diantara kalian).Ini kadang dipakai oleh pihak yang membangun haraqah atau partai atau Negara, yang menegaskan bahwa patuh kepadanya sama saja patuh kepada Allah dan Rasul. Sehingga tidak aneh bila pengikut yang termakan dalil ini sudah seperti orang mabuk candu. Siapapun tidak  lagi dianggap kecuali pemimpinnya. Bahkan diluar pemimpinnya adalah kafir. Tidak syari. Seharusnya dalil itu tidak digunakan oleh pemimpin untuk menghipnotis pengikutinya atau rakyatnya agar setia. Tapi gunakan dalil berdasarkan firman Allah surah Shad ayat 26, “ Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (pemimpin) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…” Kepemipinan itu adalah pemberian dari Allah,maka ia disebut amanah Allah. Caranya hanya dua “berlaku adil dan tidak mengikuti hawa nafsu”. BIla pemimpin ,siapapun itu , apapun level kepemimpinannya dia menggunakan dalil tentang kewajibannya “ berlaku adil dan tidak mengikuti hawa nafsu”  maka rasa hormat dan setia dari pengikutnya akan datang dengan sendirinya. Persatuan umat menjelma atas dasar kasih sayang dan Allah akan menolongnya. Karena ia menjadi wakil Allah. Makanya para pendiri negara kita menempatkan “persatuan Indonesia” setelah sila kemanusiaan yang  adil  dan beradab. Artinya pemahaman Tauhid harus diikuti oleh sifat adil dan beradab. Begitulah arif dan bijaksananya para pendiri Negara menggunakan dalil dalam membangun negara bernama Indonesia.

Yang sering dilupakan orang ketika melihat hadith Nabi adalah bahwa jarak kemunculan hadis itu dengan kita lebih dari 1500 tahun, bahwa para imam hadis, seperti Iman Bukhari, Imam Muslim, dan lain lain hanyalah mengumpulkan hadis dengan sangat sanad-sanadnya- Kemudian dalam rentang lebih dari 1000 tahun itu , dari kumpulan hadis itu muncullah pemikiran para ulama hebat dengan membangun dalil tentang Tauhid, economy, politik, dan lain lain. Semua itu ditulis menjadi karya kitab fenomenal dizamannya. Keadaan ini terus berlangsung sampai kini. Tanpa disadari dalam perkembangan zaman dari masa kemasa, Al Quran dan hadis tetap tidak berubah namun dalil berkembang sehingga membentuk banyak golongan dalam islam. Sebetulnya perbedaan itu adalah rahmat. Namun bila nafsu kepentingan pribadi dan golongan yang dikedepankan maka bisa saja masing masing golongan merasa benar dan saling mengkafirkan. Selagi islam dimaknai dengan nilai dan "membacanya" dengan hati tanpa melibatkan hawa nafsu , yakinlah islam itu tidak rumit dan sangat mudah,sangat menentramkan...ia menjadi cahaya untuk rahmat bagi Alam semesta..

1 comment:

mutia ohorella said...

Ulama-ulama terdahulu juga ada khilafiyah di antara mereka, namun keluar dari ruangan mereka tetap erat di tangan erat di hati. Sebab mereka saling tau bahwa masing-masing punya niat baik untuk mencari "Kebenaran" bukan "Pembenaran". Mereka ihlas menyiapkan sebaik-baiknya "Pendengaran". Saya baru tau kalau semua itu bisa terjadi karna mereka mempelajari hukum ikhtilaf, sebelum membahas perbedaan pandang.
Mendiskusikan sesuatu atas dasar ihlas+ merasa diawasi Allah, insya Allah jauh dari hawa nafsu. Wallahu a"lam bissawab

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...