Tuesday, January 20, 2015

Berdakwah...

Siapapun dia selagi dia bergama atau bersahadat ,walau begitu banyak kejahatan dilakukannya dia pasti marah dan tersinggung bila di bully dengan menyebut dirinya “setan”, atau “perbuatan kamu haram” atau “ kafir”. Kalau tujuan kita untuk menasehatinya atau berdakwah maka pasti akan gagal. Mengapa ? orang mau mendengar kita bila orang bersimpati dengan kita. Tidak ada orang serta merta bersimpati dengan kita bila langsung mendakwanya sebagai pendosa, setan atau apalah,apalagi itu dilakukan dengan amarah dan kekerasan.  Dulu waktu SMA kalau liburan saya acap diajak meneman ibu saya berdakwah di tempat lokalisasi PSK. Semua yang hadir dalam majelis taklim adalah PSK. Tak pernah sakalipun ibu saya menceramahi "dosanya menjadi pelacur" atau menjabarkan betapa pedihnya siksa neraka itu bagi para pezina. Betapa pedihnya siksa kubur bagi pelacur. Tidak pernah!.Ketika hal ini saya tanyakan, ibu saya menyampaikan dengan bijak bahwa mereka para PSK itu adalah orang yang lupa. Jangan ingatkan neraka, besarnya dosa maksiat , Jangan!. Karena hati mereka sudah ditutup oleh Iblish sehingga ancaman neraka itu tidak lagi mereka pahami dan yakini. Mengapa? Para PSK itu adalah mereka yang miskin karena berbagai sebab. Ditengah kemiskinan itu dan iman yang tidak begitu kokoh, iblis menanamkan prasangka buruk tentang Allah kepada mereka, bahwa penderitaannya karena Allah tidak lagi peduli kepada mereka. Sesatlah mereka. Tugas pendakwah adalah mengingatkan mereka jalan yang benar agar mereka sampai pada tujuan yang sebenarnya. Namun tentu dengan cara cara yang penuh bijaksana tanpa membuat mereka selalu "disalahkan". Ingat bahwa mereka hanya lupa,dan kita peduli akan itu.

Itu sebabnya, ibu saya mengingatkan mereka tentang kasih sayang Allah, Ingatkan kemurahan Allah. Bahwa Allah akan menjaga mereka siang dan malam. Bahwa Allah lah sumber keselamatan dan sumber kebahagiaan. Allah tempat sebaik baiknya harapan dan tempat sebaik baiknya kembali.Karenanya kembalilah kepada Allah. Mari Sholat. Ya isi ceramah yang disampaikan hanya berkaitan tentang cinta dan kasih sayang Allah saja. Mengapa ? karena itulah yang selama ini dikaburkan oleh Iblis. Benarlah, dakwah dengan cinta selalu menyejukkan. Membuat hati melembut. Setiap tahun yang lama pulang tak kembali lagi karena mereka bertobat dan yang baru datang untuk diingatkan kembali. Namun jumlah penghuni lokalisasi semakin berkurang.  Syeikh Jamil Jambek atau dikenal akrab dengan panggilan Inyik Jambek adalah Ulama besar dari Minang Kabau. Beliau adalah murid dari Syeikh Ahmad Khatib di Makkah, yang juga adalah guru dari KH Ahmad Dahlan, H Abdul Karim Amrullah, H Abdullah Ahmad, Syeikh Taher Jalaluddin, H Agoes Salim, H Muhamad Basyuni Imran, H Abdul Halim, KH Hasyim Asy’ari, dan Syeikh Daud Rasyidi. Inyik Jambek adalah ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Barzanji (rawi) atau marhaban (puji-pujian) yang biasanya dibacakan di surau-surau saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, digantinya dengan tablig yang menceritakan riwayat lahir Nabi Muhammad dalam bahasa Melayu. Termasuk juga tradisi membaca kitab, digantinya dengan membahas masalah kehidupan sehari-hari. Singkatnya bagaimana islam bisa dipahami dengan mudah oleh orang awam, bahkan bagi mereka yang buta hurup. Menurutnya, semua itu dilakukan karena agama diperuntukkan bagi siapa saja untuk mudah dipahami. Ia pun dikenal sebagai ulama yang lebih bergiat di aktivitas tablig dan ceramah.

Bagaimana cara Inyik Jambek mengingatkan orang yang lupa? Ada cerita dari mulut kemulut di Minang Kabau tentang kehebatan inyik Jambek menggiring para pendosa mau kembali ke Surau ( masjid). Cerita nya begini, bagi pendosa yang suka berjudi sabung ayam, inyik Jambek tidak menunggu mereka datang ke Surau tapi mendatangi tempat mereka melakukan maksiat. Tidak untuk mengatakan berjudi itu haram dan perbuatan mereka kufur. Tidak! Jadi apa yang dilakukannya?Beliau membawa ayam kecil untuk disabung digelanggang. Semua orang menganggap beliau bodoh karena ayam aduannya pasti kalah. Karenanya tidak ada satupun penjudi menjagokan ayam aduannya. Orang banyak meliat sebelum ayam diadu, beliau membisikan sesuatu kepada ayamnya. Ketika diadu, hanya dua kali pukulan , ayam lawan langsung roboh. Orang banyak terkejut. Berkali kali ayam kecil itu diadu selalu menang. Orangpun bertanya mencari tahu, apa yang dibisikannya kepada ayam itu. Beliau mengatakan yang dibisikannya kepada ayam adalah Al-Fatihah. Beberapa dari penjudi hafal bacaan Al Fatihah itu tapi ketika dibisikan kepada ayam itu, ternyata kalah. Beliau menegaskan bahwa membacanya harus dengan hati. Tidak bisa dengan hanya dilafalkan. Bagaimana cara membaca dengan hati ? beliau menyarankan para pejudi itu datang ke Surau untuk belajar mengaji. Akhirnya para pejudi itu datang mengaji. Walau niat awalnya mengaji agar dapat karamah untuk menang dalam sabung ayam namun berlalunya waktu nikmat iman telah merasuk dihati mereka untuk menghindari segala bentuk maksiat dan akhirnya mereka tak ingin lagi berjudi.

Berdakwah di Masjid , yang datang adalah mereka yang  “ingat” dan biasanya pendakwah mendapat upah dari majelis karena telah memberikan ilmu penguat iman. Tapi berdakwah kepada mereka yang “lupa”, yang tidak mau datang ke Masjid dan harus mendatanginya adalah pengorbanan. Ibu saya setiap minggu berdakwah di rumah sakit untuk mengingatkan mereka akan sabar, berdakwah di Penjara untuk mengingatkan terpidana “jalan pulang”, di lokalisasi untuk mengingatkan PSK bahwa Allah pengasih penyayang dan sumber segala harapan. Ingat sejahat jahat mereka tentu tidak sekufur Firaun yang menjadikan dirinya Tuhan namun Allah tetap meminta kepada Musa untuk mendatangi Firaun dengan bahasa lemah lembut. Sejahat jahat mereka tentu tidak sejahat Abu Lahab yang menyiksa Sahabat Rasulullah? Tidak sebiadab Umar Bin Khatap yang mengubur anaknya hidup-hidup? Rasulullah masih mendoakan kebaikan untuk Abu Lahab dan Umar ,dan tetap dengan lemah lembut. Apalah kita dibandingkan Rasul. Tentu tidak ada alasan kita merasa sombong kepada mereka yang lupa dan berbeda. Syiar islam adalah menebarkan kasih sayang untuk mengingatkan cinta Allah. Karenanya berlemah lembutlah kepada mereka yang lupa dan berprasangka baiklah serta berdoalah agar Allah memberikannya hidayah.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...